JAFAR UMAR THALIB; Pengusung Mazhab Salafy

Ustad Jafar

Ustad Jafar

Saya yakin seyakin yakinnya bahwa ia tidak mungkin mengenal saya! Bahkan mungkin ia tidak tahu siapa saya. Kendati saya pernah beberapa kali bertemu dengannya dalam jarak yang dekat, sangat dekat malah. Kendati saya pernah mengikuti kajian Islam yang diberikannya pada setiap ba’da asar di Mushola Arrahman, JL. Komojoyo No. 19, tempat saya dulu kost di kota pelajar Yogyakarta.

Saya bersyukur bisa mengikuti kajiannya sesudah saya ikut daurah di Pesantren Ibnul Qoyyim, di Yogyakarta selama sebulan penuh. Dari teman-teman yang mengenalnya terlebih dahulu, saya tahu namanya, Ja’far Umar Thalib. Teman-teman saya biasa memanggilnya dengan sebutan Ustad Ja’far. Maka sejak itu, saya juga amat terbiasa dengan mengucap Ustad Ja’far bila berbicara tentang sosoknya, bahkan hingga sekarang ini. Sebutan itu seperti sudah menempel dalam dirinya seiring dengan kesibukan dan tugasnya sebagai seorang ustad.

Kata teman-teman saya yang mengenalnya secara dekat, Ustad Ja’far amat santun. Jika bicara, tutur bahasanya lembut dan tulus. Pandangan matanya tidak pernah melebar ke mana-mana. Ia selalu menatap orang yang mengajaknya bicara. Karena kesantunannya ini, teman-teman saya bercerita bila Ustad Ja’far dikenal ulung dalam melobi. Ke masyarakat bawah ia terbiasa, ke kalangan pejabat ia tak canggung. Tapi, jangan ditanya saat memberi kajian tentang harakah Islamiyah. Ustad Jafar berubah menjadi singa podium yang garang dengan suara menderu-deru.

Dulu, di awal tahun 1990, saya tidak pernah melihat Ustad Ja’far seperti sekarang ini. Saat pertama kali melihat dan berjumpa dengannya, penampilannya sama sekali tidak khas. Biasa-biasa saja, seperti orang Indonesia layaknya. Bercelana panjang berwarna gelap dan berbaju batik lengan pendek, itu adalah kebiasannya bila tengah memberi kajian Islam. Jenggotnya yang mulai dirambahi uban juga terlihat tidak terlalu lebat. Kulitnya yang putih dengan wajah Arab-nya mungkin menjadi penanda yang khas.

Saya melihat Ustad Ja’far berubah justru saat pertama kali ia menjadi sorotan kamera di televisi. Penampilannya amat lain. Baju batik dan celana panjangnya telah ia gantikan dengan pakaian yang serba putih. Pecinya putih. Baju gamis atau jubahnya putih. Celananya panjangnya yang hanya sedikit terlihat juga berwarna putih. Dan wajahnya… wajahnya begitu keras. Kesan lembut sama sekali tak terlihat. Ia berdiri di barisan paling depan untuk memimpin Laskar Jihad yang hendak berjihad di ladang konflik, Maluku.

Saya paham, di kalangan teman-teman saya, Ustad Ja’far adalah legenda. Ia tidak tertandingi. Ia dinilai jauh lebih hebat dibanding ustad-ustad lain yang sealiran dengannya, seperti Ustad Abu Nida, Ustad Yazid Jawaz, Ustad Faiz, dan lain-lain. Pengalamannya bertempur di Aghanistan bersama barisan Mujahiddin melawan tentara Soviet membuat namanya berkibar. Apatah lagi, ia dikenal sebagai murid yang mumpuni dari dua syekh besar salafi, Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dan Syekh Rabi al-Madkhaly.

Saya tidak tahu bagaimana kabarnya Ustad Jafar kini, kecuali amat sedikit. Yang saya dengar, ia tetap aktif mengasuh dan mengelola Pesantren Ihyaus Sunnah miliknya, di Yogyakarta. Saya berharap ia sehat dan tetap di jalan yang lurus dengan dakwahnya. Namun, berita-berita di internet seputar dirinya dan disertasi Norhadi Hasan di Universitas Leiden (Belanda) tentang ”Laskar Jihad” membuat saya kembali bertanya-tanya tentang dirinya.

Benarkah Ustad Jafar begitu bernafsu menjadikan dirinya imam, pemimpin bagi kalangan salafi Indonesia yang membuat ustad-ustad lain memusuhinya? Benarkah Ustad Jafar kini bukan lagi corong gerakan salafi di tanah air? Benarkah gerakan salafi kini saling cerca dan hina sehingga terkesan bercerai berai? Benarkah Ustad Jafar kini hanya ”seorang diri” karena ditinggalkan teman-temannya yang dulu setia menjadi pendampingnya?

Bagi saya, nama Ustad Jafar telah mewarnai sejarah pergerakan Islam di tanah air. Gagasannya mungkin terasa keras , tapi justru itu sangat mengena di saat dakwah kehilangan daya juangnya. Dakwahnya mungkin terasa asing dengan kata-kata yang”melawan” semacam bid’ah, musrik, syirik, akidah, tauhid, di kala dakwah para dai lebih tertuju kepada kata-kata yang ”manis” semacam hati, sedekah, ikhlas, dan lain-lain.

Namun, bukankah itu semua yang diinginkan Ustad Jafar seperti bunyi hadist yang dulu seringkali diungkapkannya; “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing.”  * * *

About these ads

6 Responses

  1. ustad tetaplah ustadz…takan berubah….ustadz melakukan itu untuk melindungi umat muslim di poso dan maluku,dimana aparat tak mampu untuk melawanya lagi

  2. Benar, itu yg kerapkali didengungkan oleh Ustadz Jafar….

  3. hanya ALLAH SWT lah yang Maha Mengetahui bagaimana Ustadz Ja’far itu sesungguhnya… dan bagaimana kelakuan ustadz-ustadz yang suka mentahdzir beliau itu sesungguhnya…kewajiban kita hanya belajar dan belajar ilmu dulu, kita amalkan, kita sebarkan dan sabar….tidak boleh kita menilai orang yang lebih berilmu dari kita, apa lagi penilaiannya hanya dari satu sisi sudut pandang saja…sangat tidak fair…insyaAllah ustadz Ja’far selalu diberi kesehatan dan barokah Nya. agar da’wah ini tetap berkibar dan istiqomah.

  4. Doakan kebaikan selalu untuknya agar tetap istiqomah mengemban dakwah ini, Allahu Akabar !!!

  5. Amin yaa Rabb… Barakallahu fikum!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: