“THE SMILING GENERAL”

Seorang teman yang bekerja sebagai wartawan di sebuah surat kabar harianlogo-partai-golkar ibukota memberi tebak-tebakan kepada saya.

“Kau tahu, siapa yang paling senang dengan terpilihnya Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Partai Golkar?”

Di gagang telepon, pagi itu (8/10) saya menjawab, tidak tahu. Saya menjawab demikian karena memang saya benar-benar tidak tahu! Dalam benak saya yang apolitik tentang Partai Golkar, yang paling senang dengan terpilihnya Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Golkar -ya tentunya- para pendukung yang memilihnya. Tapi, saya yakin, ini bukan jawaban yang dikehendaki teman saya itu.

Benar, setelah saya mengungkapkan ketidaktahuan saya, sambil tertawa nyinyir, teman saya itu menjawab. “Ah, payah kamu! Yang paling senang dengan terpilihnya Aburizal Bakrie ya Presiden SBY…”

“Lho kok SBY?”

“Pikir saja sendiri…” jawab teman saya sambil meletakkan gagang telepon.

Sialan!!! Maka kini saya seperti mendapat beban dari teman saya itu untuk menebak-nebak kenapa Presiden SBY “dituduh” sebagai orang yang paling senang dengan kemenangan Aburizal Bakrie. Agaknya, saya kini jadi penasaran untuk sekadar menuangkan jawaban.

Bagi saya, sebagai politisi SBY memang hebat. Coba, siapa yang mengira pada Pemilihan Presiden 2004 ia mampu memenangkannya dengan telak. Padahal, suara yang didapat partainya, yakni Partai Demokrat hanya 7% suara, cuma cukup sebagai syarat minimal baginya untuk maju mencalonkan diri. Jumlah suara itu jauh dari perolehan suara Partai Golkar dan PDIP.

Padahal, SBY saat itu memiliki lawan-lawan yang tangguh di pentas politik macam Amien Rais, Megawati, Wiranto, atau Hamzah Haz. Belum lagi kemunculan dua tokoh NU Hasyim Muzadi dan Salahuddin Wahid. Di atas kertas, tokoh-tokoh itu lebih mumpuni dan lebih berpengalaman karena mempunyai jam terbang politik yang lebih tinggi dibanding SBY. Kenyataannya, sejarah berkata lain.

Pada Pemilu dan Pilpres 2009 lebih “gila” lagi. Partai Demokrat yang didirikannya melaju kencang di atas partai-partai lain sehingga berhak mencalonkan dirinya sebagai Presiden RI untuk periode berikutnya. Di Pilpres, SBY seolah tidak memiliki lawan yang sebanding. Ibaratnya, lawan-lawannya sudah kalah dulu sebelum bertanding dengannya. Jusuf Kalla yang digadang-gadang mampu menyainginya ternyata jeblok juga.

Lalu, apa kunci kehebatan SBY sesungguhnya?

Meski tidak memiliki aura senyuman “sekuat” Soeharto, tapi SBY mampu membuat semua orang di sekelilingnya “tersenyum”. Dengan kecerdikannya, ia menyapa lembut, baik kawan maupun lawan. Semua diberinya “harapan”. Bukankah hanya “harapan” yang mampu menjadikan semua orang tersenyum bahagia?

Agaknya, mudah bagi SBY untuk menaklukkan PDIP, partai politik yang sudah kelelahan menyandang beban berat “oposisi”. SBY paham konstelasi politik di lingkup internal PDIP yang memiliki “matahari kembar” pada diri Megawati Sukarnoputri sang Ketua Umum dan suaminya Taufik Kemas, sang Ketua Dewan Pembina.

Megawati memang berseberangan dengan SBY. Namun, apakah Taufik Kemas berseberangan dengan SBY? Sepertinya tidak! Karena, faktanya “harapan” berupa jabatan Ketua MPR yang diberikan SBY kepada Taufik Kemas disambut dengan antusias. Taufik Kemas melenggang ke kursi Ketua MPR dengan jalan yang telah disisir SBY.

Mudah juga bagi SBY untuk memberi lambaian “harapan” kepada Partai Golkar. SBY tahu benar, Partai Golkar adalah satu-satunya partai di negeri ini yang tidak terbiasa dengan sikap oposisi. Golkar sudah nyantel dengan kekuasaan. Mustahil mengharapkan Partai Golkar bersikap kritis sebagai landasan watak oposisi.

Maka jabatan dalam kabinet sebagai menteri adalah “senyuman” yang diberikan SBY kepada Partai Golkar. Para elit Partai Golkar mengerti arti “senyuman” itu. Alhasil, mereka tidak mungkin memilih Surya Paloh yang menggemakan sikap oposisi yang kritis terhadap pemerintahan SBY jika ia menduduki kursi Ketua Umum. Para elit Partai Golkar lebih memilih Aburizal Bakrie yang lebih mampu memenuhi harapan sebagian besar warga Partai Golkar.

Tapi, kok SBY seperti ingin “menaklukkan” semuanya?

Bukan itu masalahnya. Sebab demikianlah memang tipikal pemimpin yang berasal dari Jawa. Ia selalu ingin merangkul semuanya, bahkan orang-orang yang dengan keras memusuhinya. Orang Jawa tak mungkin lepas dari konsep harmoni yang sarat dengan kaidah-kaidah rukun, seimbang, dan selaras.

Soekarno menciptakan konsep Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme) karena ia berharap bangsa Indonesia rukun selamanya. Soeharto menyatukan banyak partai dalam wujud tiga partai (PPP, Golkar, PDI) sebab ia menyaksikan sendiri betapa parahnya pertikaian antarkomponen kepartaian saat itu. Dan ini pula jalan yang dipilih SBY!!!

Kini, saya membayangkan Presiden SBY sedang tersenyum bahagia menikmati keberhasilannya.* * *

About these ads

3 Responses

  1. Mas Sigit, saya juga heran kok Aburizal Bakri bisa menang jadi ketua umum golkar. Padahal si om ini sudah dibantai di metrotv dalam acara kick andy: “Aburizal Bakri menawarkan 1 triliun kepada golkar tetapi utang-utang terhadap korban lumpur lapindo belum dilunasi. Ada ibu yang jadi tukang ojek demi menghidupi keluarganya, ada seorang bapak yang bekerja serabutan gara-gara jadi korban lumpur lapindo.

    Saya juga pernah membaca pikiran-pikiran Aburizal Bakri lewat buku ” Merebut Hati Rakyat” saya kagum…tetapi kecele setelah liat kezaliam yang ia buat secara nyata.

    Korban lumpur lapindo bukan jadi peserta munas golkar, makanya si om ini menang. :((

    • Kalaupun dibantai di Metro TV yg kepunyaan Surya Paloh, kan Ical msh punya ANTEVE dan TV One buat mencounternya. Tp, bagi saya, adagium politic is the art of the possible memang lebih menarik dan meyakinkan untuk dicerdasi.

  2. masalahnya kenapa sby menang pemilu itu gampang.
    karena partai lain goblok….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: