KENAPA SUKARNO DAN SOEHARTO JATUH?

Sukarno dan Soeharto

Mantan Presiden ketiga RI, Prof. BJ. Habibie pernah mengajukan pertanyaan cerdas mengenai dua presiden pendahulunya, Bung Karno dan Pak Harto. Kata Habibie, kenapa Bung Karno yang sejak mudanya seorang demokrat dapat menjadi diktator semasa berkuasa? Lalu, kenapa Pak Harto yang anak seorang petani sederhana bisa menjadi sedemikian feodal saat memimpin bangsa ini?

Jawaban atas pertanyaan itu memang debatable. Namun, kiranya Habibie telah membuka pintu bangsa ini untuk mengakui bahwa Bung Karno dan Pak Harto memang secara politik bersalah. Bung Karno dan Pak Harto bukanlah tokoh besar yang lepas dari kekeliruan. Sayangnya, kita justru yang berperan membiarkan kedua tokoh itu melakukan kekeliruan.

Memang, watak bangsa kita adalah paternalistik. Kita mudah terpana dengan pribadi yang gagah dan berani, berwibawa dan terkesan melindungi. Maka siapa yang tidak terpesona dengan sosok Bung Karno muda yang meledak-ledak, tak kenal takut, dan intelek. Dibanding Bung Hatta yang pendiam dan kalem, jelas Bung Karno lebih menggoda. Bung Karno membuat banyak pria iri kepadanya. Bung Karno menyihir para wanita untuk takluk di hadapannya.

Alhasil, kita menggenapkan pesona Bung Karno dengan gelar abadi sebagai “Penyambung Lidah Rakyat”, “Pemimpin Besar Revolusi”, hingga “Presiden Seumur Hidup”. Bung Karno, dalam konteks ini, tak ubahnya sebuah kisah mitologi Ratu Adil yang sukses membuat rakyat mau menerima ideologi-ideologi revolusioner dikarenakan kekuatan kharisma, penyebaran ide millenaristis, dan kebenciannya terhadap apa yang berbau asing /Barat (Kartodirdjo, 1992).

Namun, Bung Karno tua ternyata adalah Bung Karno yang kehilangan pesonanya. Meledak-ledak, tak kenal takut, dan intelektual ternyata membuat kita lelah. Alih-alih disegani negeri lain, perut kita malah tak pernah bisa melebarkan sedikit ukurannya. Belum lagi politik hingar-bingar yang bikin ribut melulu. Agaknya, kita perlu tokoh yang berkebalikan dengan sifat Bung Karno.

Pak Harto ditemukan dan digadang-gadang karena ia lembut, murah senyum, dan “tidak intelek”. Berkebalikan dengan Bung Karno yang megalomaniak, Pak Harto menjanjikan mimpi sederhana. Perut kenyang dan negeri yang aman. Apalagi magnet kata pembangunan kemudian menjadi tujuannya. Jadi, apa yang kurang? Klop! Maka kita mencantelkan ke altar tertinggi sang smiling general sebagai mitos; “Bapak Pembangunan Nasional” dan “Jendral Besar” (Kuntowijoyo, 2004).

Tetapi, seperti halnya Bung Karno, Pak Harto yang sudah tua ternyata tidak lagi memancarkan pulung-nya. Ia sudah tidak peka. Ia juga sudah tidak lagi berwibawa. Kita memang kenyang. Kita memang aman. Tapi, rasa kenyang dan rasa aman itu pada akhirnya harus dibayar mahal. Ternyata, kita kenyang karena makan duit utang. Kita aman juga karena kebebasan kita dikekang. Jadi, buat apa rasa kenyang dan rasa aman itu kalau semua hanyalah kepalsuan?

Bung Karno dan Pak Harto memiliki nasib yang hampir sama. Mereka jatuh karena terbuai mitos; mitos tentang kebesaran dirinya. Bung Karno merasa hanya dirinya yang sanggup membawa bangsa ini menjadi bangsa yang punya karakter. Pak Harto tidak jauh berbeda. Ia menyangka hanya dirinya yang mampu mengangkat negara ini menjadi negara yang kuat bangunan ekonominya.

Agaknya, kita layak kecewa dengan Bung Karno dan Pak Harto. Namun, tanpa disadari, kita sebenarnya juga telah melakukan “penganiayaan” terhadap diri mereka. Kita mengangkat-angkat mereka berdua setinggi-tingginya dengan gelar-gelar yang tidak tergantikan. Tapi, di saat-saat yang lain, kita melucuti gelar-gelar yang penuh mitos itu darinya, dan bahkan kita mengganti gelar-gelar itu dengan label hukum “bersalah” tanpa melalui proses peradilan yang bijak.

Maka terhadap Bung Karno dan Pak Harto kita niscaya -mengutip pendapat sejarawan Prancis, Jacques Leclerc- telah melakukan pembunuhan dua kali terhadap tokoh sejarah bangsa kita sendiri. Pertama, kita berusaha untuk ikut mengucilkan mereka karena mereka tidak disenangi oleh suatu pihak. Kedua, kita sengaja diam terhadap situasi dan kondisi yang tidak jelas itu.

Sejarah -mungkin- memang tidak mudah memaafkan Bung Karno ataupun Pak Harto. Namun, sejarah niscaya lebih sulit lagi untuk memaafkan cara dan sikap kita dalam memperlakukan para tokohnya. Apalagi kalau pada kenyataannya kita kemudian gagal untuk mendudukan persoalan dan kasus yang dihadapi mereka ke dalam bingkai politik hukum yang seadil-adilnya.

Sungguh, telunjuk sejarah niscaya tidak terarah kepada Bung Karno atau Pak Harto. Tapi, telunjuk itu malah tertuju kepada kita sendiri! * * *

About these ads

8 Responses

  1. Pak Harto selalu membuat APBN berimbang, karena utang luar negeri dimasukkan dalam pos pemasukan. Anak-anak dan keluarganya maha merongrong: punya buayaaaaaaak perusahaan dengan modal dengkul. Menyuruh orang transmigrasi ke desa terpencil…pembangunan ekonomi dipusatkan di Jakarta melulu. Alasannya :pemerataan penduduk…hiks.

    Kata Bill Clinton: “Waktu saya SD presiden Indonesia Soeharto, SMP masih Soeharto, dan ketika saya jadi presiden: Presiden Indonesia masih Soeharto. “Halah…

    Mas Sigit…saya lebih mengagumi Soekarno, karena beliau jatuh bangun memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
    Entahlah…

    • Tidak masalah mau kagum dengan siapa. Bagaimanapun setiap kekaguman mesti ada ukuran dan kriterianya, baik yang bersifat umum maupun personal. Yang penting, dr sejarah tokoh kita bisa mengambil pelajaran dari sana.

  2. apakah Sukarno seorang diktator? bukanlah kemauannya untuk menjadi Presiden seumur hidup! Ia dipaksa oleh MPR kala itu untuk menjadi presiden seumur hidup. Bahkan bung Karno saja mengatakan “Apakah kalian tidak kasihan pada saya?Kalian mau membunuh saya?” tetapi putusan MPR tetap lebih tinggi daripada presiden, sehingga presiden nurut2 aja.

    Anda mengatakan: “Bung Karno merasa hanya dirinya yang sanggup membawa bangsa ini menjadi bangsa yang punya karakter.”

    Bagaimana Bung?

    Saya ingin menekankan, bukan lah Bung Karno yang merasa, tetapi memang nyata! Karena dia mampu menentang PBB, KAPITALISME, dan lainnya! Bahkan Indonesia pernah menjadi mercusuar dunia setelah Amerika, China dan Uni soviet kala itu!

    dan Bung Karno jatuh bukanlah karena keriputnya, tapi karna beringasnya G 30 S dan Supersemar yang direkayasa oleh penerusnya itu!

    • Bukankah begitu saudara?

      • Diktator atau tidak pastilah debatable. Namun, andaikata Bung Karno -juga Soeharto- menolak “permintaan” MPR untuk menjadi presiden selamanya pastilah nasib kedua tokoh itu bisa disandingkan seperti halnya Mandela. Sayang keduanya “gagal”.

        Benar. Tapi, Bung Karno seolah lupa terhadap pembinaan kader. Akibatnya, karakter bangsa yg kita idam-idamkan bersama itu pupus di tengah jalan.

  3. kita ini bangsa laknat,,,ta peduli jasa pejuang, yang diliat cuman jeleknya doang!!!kita bangsa pengemis yang hanya bisa meminta padahal sudah jelas2 menyadari rumah kita beralaskan emas,minyak,dan halaman kita berumputkan pohon jati. Kita ini bangsa malas yang enggan bekerja keras,,,
    jangan terlalu mendewakan orang bung,,,setiap manusia diciptakan dari setetes air mani, perut isinya cuman kotoran,,,mati juga jadi bangkai!!!lebih baik belajar dari sejarah dan berharap mampu memperbaikinya,,,daripada mengandai2 sejarah terulang!!!

  4. apapun jasa beliau-beliau sangat besar buat negara kita, pertama kita patut berterimakasih, kedua kita bersyukur bisa sampai sekarang msih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri kita, keluarga kita, lingkungan kita dan negara kita,

  5. saya ingin anarko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: