PRESIDEN SBY, SIAPAKAH DIA SEBENARNYA?

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Sungguh sangat tidak mudah menjadi manusia bernama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden Republik Indonesia (RI) yang wong asli Pacitan, Jawa Timur itu benar-benar dibuat seolah “mati gaya”. Mau bicara khawatir dianggap salah, tidak bicara pasti dinilai keliru. Mungkin begitulah perasaannya di periode kedua kekuasaannya kini.

Setiap kegaduhan sosio-politik yang merayap menuju panas, publik berharap Presiden SBY mampu memutuskan dengan cepat dan tegas. Alih-alih cepat, SBY malah kerap dituding sebagai pemimpin yang lamban dalam merespon setiap gejolak masyarakat. Alih-alih tegas, respon yang ditunjukkan SBY justru sering mengambang sehingga membuat publik bingung menyikapinya.

Saat masih berseragam hijau-hijau, SBY dikenal sebagai perwira yang cakap. Tidak sedikit pengamat yang menyebut SBY sebagai calon pemimpin masa depan yang dilahirkan dari rahim militer. Jika kebanyakan militer bersikap “sikat dulu, tanggung jawab belakangan”, SBY dinilai berkarakter lain. Ia adalah militer yang lebih suka mendahulukan dialog yang konstruktif demi penyelesaian suatu masalah.

Ketika berpangkat jendral, SBY dijuluki sebagai “Jendral Pemikir”, sebuah idiom yang digunakan untuk membedakan dengan istilah “Jendral Tempur”. SBY bahkan dianggap mewarisi kepiawaian “Jendral Pemikir” pendahulunya, seperti AH. Nasution atau TB. Simatupang. SBY bersama Agus Wirahadikusumah dan Agus Widjojo dikenal sebagai trio jendral yang sukses dalam merumuskan konsep reformasi TNI.

Seusai Soeharto lengser, publik di tanah air mencatat bahwa SBY telah berganti wajah. Ia bukan lagi “Jendral Pemikir” yang memikirkan segala macam tetek bengek mengenai militer, melainkan sudah berubah menjadi “Pribadi Santun”. Publik terkesan dengan sikap SBY yang tenang dan kalem sewaktu menjabat sebagai Mentamben di era Presiden BJ. Habibie dan Menko Polkam di masa Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri.

SBY jauh dari seorang pejabat yang kontroversial dan haus publikasi. Sikapnya lembut dan halus. Tutur bahasanya terukur dan selalu teratur rapi. SBY tak pernah terlihat grusa-grusu ketika tampil di hadapan publik. Publik yang sudah tersihir dengan penampilan SBY selama menjabat posisi menteri akhirnya memilihnya sebagai Presiden RI setelah ia mencalonkan diri dalam Pemilu 2004.

Seiring berjalannya waktu, rupanya tidak sedikit rakyat yang tidak puas dengan sepak terjang SBY. Penampilannya terlalu lembut untuk seorang tokoh setingkat presiden. Ia dinilai jauh dari cekatan untuk menangani berbagai macam persoalan bangsa yang sudah akut, seperti korupsi, kemiskinan, pengangguran, pemerataan ekonomi, dan konflik SARA. Sikap SBY malah tertutupi oleh kelincahan wakilnya, Jusuf Kalla yang terkesan sigap dan cekatan.

Penampilan seperti  yang ditunjukkan oleh Presiden SBY ini membuat rakyat geregetan. Apalagi setiap masalah yang muncul selalu disikapi dengan keputusan yang memakan waktu lama sehingga terlihat berlarut-larut. Maka muncullah sentilan Presiden SBY sebagai “Si Ragu-Ragu” karena ia suka sekali mendiamkan masalah bangsa tanpa bisa ditebak kapan ia hendak mengambil sebuah keputusan. Kasus Century mengambang, kasus mafia pajak amblas.

Ironisnya, SBY tidak hanya dituduh ragu-ragu dalam mengambil keputusan, tetapi ia juga dipandang terlalu banyak mengeluh. Rakyat bahkan seakan dipaksa untuk menyadari “kesulitan-kesulitan” SBY saat memerintah dan bukan sebaliknya, SBY harus memahami kesulitan-kesulitan derita rakyat. “Keluhan” SBY yang merasa tidak pernah naik gaji selama tujuh tahun masa pemerintahannya menjadi puncak isu yang diingat di benak publik.

SBY sebagai “Sang Pengeluh” akhirnya muncul di hadapan publik. SBY tentu sangat terganggu dengan itu. Namun, nyatanya ini belum berakhir. Karena, tidak sedikit para tokoh di tanah air yang ternyata rajin mencatat janji-janji SBY selama menduduki jabatan sebagai Presiden RI. Siapakah mereka itu? Mereka adalah para tokoh agama yang niscaya sangat dihormati oleh umatnya di negeri ini.

Tak dinyana para tokoh agama itu menyerukan kepada Presiden SBY untuk berhenti melakukan kebohongan kepada rakyat. Dengan bukti “9 kebohongan lama” dan “9 kebohongan baru” para tokoh agama berharap SBY tidak berbohong lagi dengan mengeluarkan janji-janji palsu yang tidak pernah mampu ia buktikan dan realisasikan. Jadilah SBY harus rela menerima gelar sebagai “Pembohong”.

Kini, publik hanya mampu menunggu “gelar” apa lagi yang hendak disandang SBY. Kita paham SBY adalah jagonya strategi dalam politik pencitraan dan hingga sekarang rasanya belum ada tokoh yang mampu menyamai kepiawaiannya. SBY pasti tidak akan tinggal diam dengan segala gelar negatif yang dilekatkan kepada dirinya. Ia pasti akan bergerak untuk mengolah isu itu menjadi sesuatu yang “menguntungkan” dirinya.

Maka yang bisa dilakukan publik hanyalah menunggu apa yang akan dilakukan SBY untuk menghapus segala gelar negatif itu dari ingatan rakyat. Isu-isu panas sudah menghadangnya, termasuk pembangunan gedung DPR, kasus penyanderaan WNI oleh perompak Somalia, dan lain-lain. Persoalannya, mampukah SBY menyelesaikan itu semua untuk membalikkan citra yang sudah telanjur hadir dan melekat di benak rakyat? Publik tak sabar menunggunya. * * *

Sumber gb: http://2.bp.blogspot.com

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: