BETA

Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, saya akrab sekali dengan kata beta. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, bapak atau ibu guru di kelas menerangkan bahwa kata beta memiliki makna yang sama dengan aku atau saya.

“Beta itu kata lain dari aku atau saya,” begitu bapak atau ibu guru menerangkan. Karena memiliki kedudukan yang sama, tidak terlalu aneh bila ada teman-teman saya yang berbeta-beta selain beraku-aku dan bersaya-saya. Bahkan kami sangat senang bila membaca puisi yang terdapat kata beta. Terasa indah!

Saat pelajaran Kesenian, saya diakrabi pula dengan kata beta. Lagu “Kasih Ibu” mengalir jernih di telinga saya dengan mendayu merdu.

Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia.

Kata beta menjadi “kehormatan” bagi saya dan teman-teman. Bahkan saya seringkali menganggap kata beta memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding aku atau saya. Kata beta setara dengan kata kulo dalam kultur bahasa Jawa.

Namun, ke mana beta sekarang ini?

Saya sudah tidak lagi pernah mendengar kata beta. Di berbagai media, seperti koran, radio, televisi, atau majalah; kata beta bak hilang tertelan zaman. Di momen-momen tertentu, seperti pertunjukan sandiwara, drama, atau teater, juga sulit menemukannya.

Di lingkungan umum tak jauh berbeda. Masyarakat, baik pejabat maupun orang biasa, remaja maupun dewasa, lebih suka menggunakan kata saya, aku, atau bahkan gue. Lebih personal, lebih akrab. Seperti tak ada sekat.

Ketika anak saya yang duduk di kelas 4 saya tanya arti beta, ia menggelengkan kepalanya. “Apa itu?” tanyanya dengan wajah yang polos. Saya kemudian menerangkan arti kata beta. “Ih, aneh….” begitu tanggapan anak saya.

Kini saya seperti kehilangan kata beta. Saya bingung ke mana hendak mencari kata beta dalam keseharian bangsa ini. Dalam sastra kita, beta bahkan dikonotasikan sebagai puisi kuno yang kadaluwarsa.

Tapi, kenapa saya harus peduli dengan beta? Bukankah saya mesti membiasakan diri dengan “kultur kehilangan”, seperti halnya negeri saya ini yang sudah sangat terbiasa? Boro-boro kata beta, kehilangan wilayah, pulau, saham, atau bahkan harga diri saja tak pernah peduli.

Lalu, apa arti sebuah kata? * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: