AMANAH, TAPI JUGA FITNAH

Setahun yang lalu. Kegembiraan menyelimuti Fadil. Setelah menunggu kehadiran anak selama hampir 14 tahun, Allah menganugerahkan kepadanya seorang bayi laki-laki yang lahir dari rahim istrinya. Di batang usia yang sudah dekat dengan angka 40 Fadil bersorak gembira.

”Ajaib! Sungguh, ini mukjizat dari Allah. Padahal, saya dan istri sudah pada batas putus asa. Saya pasrah. Saya teramat lelah menunggu….”

Fadil berseru gembira. Matanya berkaca-kaca. Begitu terharu. Ia menyalami dan memeluk teman-temannya. Di serambi masjid, sebelum sholat maghrib dilakukan secara berjamaah. Masih dengan baju gamis, sarung, dan kopiah hitam.

”Selamat ya, Mas Fadil.”

”Moga-moga jadi anak yang saleh.”

Semua jamaah masjid mengiringi kelahiran putra Fadil dengan senyum. Mereka juga larut dalam kebahagiaan. Mereka paham akan datangnya ”cahaya” yang masuk ke dalam lingkungan keluarga Fadil. Ucapan, pelukan, dan doa menyerbu Fadil yang hanya mampu menerimanya dengan balasan ramah, terima kasih! Terima kasih!

Sungguh tidak mudah mengusung rasa sabar seperti Fadil. Menikah di usia yang pas, yakni 25 tahun, Fadil mengarungi rumah tangga dengan segudang harapan dan cita-cita. Dua anak sudah cukup, tapi kalau bisa tiga! Demikian pertautan hati Fadil dan istrinya saat baru melangsungkan ijab kabul. Alasannya sederhana. Dua cukup karena mengikuti anjuran pemerintah. Sedangkan tiga karena ia ingin, salah seorang dari anaknya mampu menjadi juru damai bila yang pertama dan kedua bertikai.

Namun, harapan dan cita-cita memang selalu jauh dari kenyataan. Jangankan tiga anak, satu anak pun Fadil tidak mampu menghadirkannya. Hingga pernikahan menginjak usia 10 tahun, Fadil harus rela menerima perkataan yang bersliweran.

”Ah, Fadil memang mandul.”

”Kapan si Fadil jadi lelaki sejati?”

Semua orang memuji ketabahan hati Fadil, juga kemuliaan akhlaknya. Meskipun memperoleh ujian yang berat sebagai seorang laki-laki, ia tak pantang menyerah. Bahkan oleh hinaan atau cercaan sekalipun. Maka saat kelahiran anaknya itu, Fadil hanya berucap singkat.

”Ya Allah, kuatkan hatiku untuk menjaga amanah yang Engkau berikan ini…”

Kini dan saat ini. Fadil betul-betul berusaha menjaga anak semata wayangnya itu sekuat tenaga. Ia memahami makna amanah dalam keseluruhan konteksnya. Amanah dipahami sebagai kehadiran dan keberadaan seorang anak yang wajib dijaga dan dilindungi. Sekali orang tua lalai dalam menjaga, maka berdosalah mereka berdua.

Dan Fadil memang menepati janjinya di hadapan Sang Maha Pencipta. Fadil memberi perhatian yang cukup kepada Daffa, buah kasihnya itu. Ia memberikan kasih sayang yang amat berlebih kepada putranya yang wajahnya sangat mirip dengannya itu. Pagi, siang, malam. Imbasnya mulai terasa di pagi subuh.

”Kok, Mas Fadil sekarang jarang sholat berjamaah di masjid ya…”

”Mungkin kelelahan karena menjaga Daffa.”

Memang benar! Daffa telah menjadi pusat perhatian Fadil dan istrinya. Bahkan Daffa serupa bayangan Fadil dan istrinya ke manapun mereka berada. Di rumah, di kantor, di kantin, di ruang rapat. Dari pagi hingga larut malam. Tak ada nama lain yang begitu melekat di benak Fadil, kecuali Daffa. Ya, Daffa! Anak semata wayangnya itu. Daffa adalah segalanya.

Maka Daffa menjadi sumber dalih bagi Fadil untuk tidak menghadiri acara-acara keagamaan yang sejak mula diikutinya. Sholat berjamaah subuh, maghrib, dan isya, tinggal menjadi kenangan bagi Fadil saat berada di rumah. Pengajian mingguan setiap bada subuh di hari Sabtu lama tidak dihadirinya lagi. Apalagi untuk menjadi pengurus tetap masjid, jelas Fadil sudah tidak mungkin. Daffa telah menjadi penghalang bagi Fadil untuk melangkah ke berbagai macam haluan.

”Saya tak mungkin meninggalkan Daffa dengan ibunya, sendirian di rumah. Saya harus membantu istri saya menjaganya. Bagaimanapun Daffa adalah amanah yang wajib saya jaga dan lindungi. Berdosa sekali bila saya mengingkari amanah itu. ”

”Daffa adalah sumber inspirasi bagi saya. Saya tak mungkin bisa jauh darinya. Dia lagi lucu-lucunya. Setiap hari dia memandang saya dengan pandangan yang unik. Ia seperti ikan yang merindukan air.”

Daffa telah dinomorsatukan. Tak ada yang mengalahkan Daffa. Bahkan Fadil tak mau menomordua atau menomortigakan Daffa. Daffa harus nomor satu! Saya bahagia Fadil begitu menyadari bahwa anak adalah amanah. Tapi, saya sedikit khawatir Fadil telah melupakan fakta bahwa anak adalah juga fitnah. Karena fitnah, anak kerap menjadi pintu penghalang bagi orang tua dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya. Apakah Fadil sudah terjebak di situ? * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: