ANAK LAKI-LAKI, BUKAN PEREMPUAN

Sore itu saya bersama istri saya hendak menengok seorang teman yang dirawat di rumah sakit. Isna namanya. Isna tidak sakit! Isna dirawat di rumah sakit karena ia baru saja melahirkan anaknya. Kata istri saya, Isna melahirkan anak yang ketiga. Laki-laki. Dua anak Isna sebelumnya juga laki-laki. Jadi, Isna kini memiliki tiga anak yang kesemuanya laki-laki.

”Selamat ya, Is. Selamat….” kata istri saya sambil menyalami Isna. Isna tampak gembira menyambut kedatangan kami berdua. Didampingi suaminya yang juga adalah teman istri saya, kami berempat larut dalam obrolan hingga waktu besuk menjelang habis.

”Belum kapok nih, mau tetap nambah lagi…” goda istri saya kepada Isna. Yang digoda hanya tersenyum.

Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, di dalam mobil, istri saya banyak bercerita mengenai Isna. Cerita istri saya, Isna dan suaminya adalah pencinta makhluk Tuhan bernama manusia yang berkelamin perempuan. Wanita! Bukan laki-laki! Sejak pertama kali menikah hingga kini, keinginan mereka sama; ingin punya anak perempuan. Mereka tidak pernah kepikiran memiliki anak laki-laki.

Bagi Isna dan suaminya, anak laki-laki itu sangat merepotkan, juga menyebalkan. Awalnya, istri saya kaget dengan keyakinan mereka. Namun, istri saya kemudian menjadi paham setelah mengetahui latar belakang Isna dan suaminya. Isna lahir dalam sebuah ”keluarga perempuan”. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara yang kesemuanya perempuan. Orang tua Isna mendidik anak-anaknya untuk saling asah, asih, dan asuh. Hasilnya, keluarga Isna adalah keluarga yang sukses. Semua profesi mentereng ada dalam keluarga Isna. Dokter, insinyur, dosen, atau politisi.

Lain Isna, lain suami Isna. Suami Isna dilahirkan dari sebuah ”keluarga laki-laki”. Dua kakaknya dan tiga adiknya, semua laki-laki. Tapi, berbeda dengan keluarga Isna yang berhasil, keluarga suami Isna sebaliknya. Orang tua suami Isna dianggap gagal mendidik anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi yang sukses. Dalam keluarga suami Isna bertabur profesi ”hitam” yang disandang anak-anaknya. Pengangguran, tukang tipu, pemabuk, preman jalanan.

Istri saya tidak pernah tahu bagaimana cara Isna dan suaminya mendidik anak-anak mereka yang notabene tidak terlalu mereka harapkan kelahirannya. Istri saya hanya tahu, Isna dan suaminya tidak pernah menyerah untuk mendapatkan anak perempuan.

”Oh, tidak ada yang kapok. Kami akan terus berusaha. Ya kan bu, ” kata suami Isna meminta dukungan istrinya.

Isna tersenyum. Katanya kemudian.

”Justru ini yang bikin aku penasaran. Masa sih laki-laki terus.”

”Bagaimana kalau gagal?” tanya saya enteng.

Isna dan suaminya terdiam. Mereka saling berpandangan. Agak bingung. Tapi, tiba-tiba sang suami Isna menjawab tegas.

”Akan saya jadikan mereka anak perempuan!”

Saya tidak tahu apakah suami Isna bercanda atau tidak. Namun, saya sungguh terkejut dengan pernyataan suami Isna. Tapi, tidak demikian dengan Isna. Ia seperti sangat biasa dengan ucapan suaminya itu. Saya dan istri saya tidak tahu lagi bagaimana menanggapi Isna dan suaminya. Hanya dalam hati kecil, saya berharap Isna dan suaminya mampu menginjak bumi. Berdamai dengan kenyataan. Bahwa mereka sungguh memiliki anak laki-laki, bukan perempuan! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: