BALADA BANG RAJA

Saya tidak percaya Tuhan melahirkan makhluk pemalas untuk hidup di bumi yang kaya raya ini. Manusia, hewan, dan tumbuhan; tak ada yang pemalas! Semua rajin menghidupi dirinya agar mampu bertahan dari kesengsaraan. Maka saya juga tak percaya terhadap teori kemiskinan kultural yang dilandasi pemikiran malasnya manusia sebagai penyebab munculnya kemiskinan. Saya lebih yakin dengan teori kemiskinan struktural.

Namun, akhir-akhir ini, saya mulai goyah. Kepercayaan terhadap hal-hal di atas perlahan luntur setelah saya mengenal secara akrab Bang Raja, seorang pria yang tinggal dan mengontrak di dekat rumah saya. Bang Raja yang bertubuh tinggi besar itu pada kenyataannnya tidak mampu menunjukkan kebesaran dirinya. Sikap dan perilakunya mirip orang yang kalah sebelum bertanding. Selalu begitu, sejak dulu, sejak saya pertama kali mengenalnya hingga sekarang ini.

Bang Raja memiliki seorang istri dan tiga orang anak; dua perempuan, satu laki-laki. Usia Bang Raja sudah tidak muda lagi. Mungkin sekitar 45 tahun. Namun, hingga usia menjelang ”mahgrib” itu, Bang Raja tidak memiliki pekerjaan tetap. Nganggur! Rutinitas sehari-hari Bang Raja hanya nongkrong di toko kelontong Kang Sarju sambil menunggu panggilan tetangga yang memintanya membetulkan genteng, mengecat rumah, atau membersihkan rumput halaman.

”Saya dulu punya usaha mebel, Mas. Yah…, cukup majulah. Jual beli kursi, meja, lemari, juga peralatan dapur. Langganan saya saat itu banyak. Bahkan saya pakai strategi door to door agar mebel saya cepat laku. Wah, pokoknya capek banget saat itu, ” kisah Bang Raja tentang masa lalunya.

”Tapi, usaha saya habis setelah toko mebel itu terbakar. Ludes. Tidak ada sisa. Saya, istri, dan anak-anak terlunta-lunta. Yah, beginilah akhirnya…”

Tidak ada tetangga di sekitar tempat saya tinggal yang tidak bersimpati terhadap nasib keluarga Bang Raja. Kami semua yakin, Bang Raja akan mampu bangkit dari keterpurukannya. Kehilangan toko hanyalah sebuah ujian. Jiwa kemandirian Bang Raja pasti mampu menyelesaikannya.

Benarkah demikian?

Sayang, Bang Raja seperti sudah kehilangan dirinya. Ia tidak pernah menunjukkan dan membuktikan bahwa dirinya adalah mantan wiraswasta yang hebat; orang yang ulet, tangguh, dan tak mudah menyerah.

”Saya tidak mungkin mampu usaha lagi, Mas. Saya tidak punya modal. Padahal, modal itu nomor satu dalam berusaha. Tanpa modal, orang tidak mungkin dapat berusaha.”

Kasihan! Maka kami semua berduyun-duyun membantu Bang Raja agar bangkit. Tentu semampu kami. Hasil dana keroyokan yang ditarik dari setiap rumah berwujud sebuah gerobak. Gerobak yang kuat, lagi bagus. Tidak cukup hanya itu. Atas persetujuan kami semua, Ketua RT mengeluarkan uang kas RT sebagai modal awal bagi usaha Bang Raja.

Bang Raja tersenyum senang. Bang Raja berucap terima kasih. Kini, setiap hari, Bang Raja mangkal di depan toko Kang Sarju untuk menjual gorengannya. Tempe, tahu, pisang molen, bakwan, ubi.

Nyatanya, itu tidak lama. Tiga bulan kemudian, gerobak Bang Raja sudah raib. Tidak terlihat lagi. Hilang. Lho ke mana?

”Saya jual, Mas. Dagangan saya nggak laku. Orang tidak ada yang mau beli. Entah kenapa. Modal saya sudah habis. Terpaksa gerobak itu dikorbankan. Demi kehidupan sehari-hari keluarga saya.”

Tak ada rasa sesal di wajah Bang Raja. Tak ada rasa bersalah di hati Bang Raja. Kami percaya terhadap penjelasan Bang Raja. Kendati tetap ada yang menyisakan tanya, kok Kang Sarju bilang kalau dagangan Bang Raja banyak yang mencarinya. Pagi, siang, sore, atau bahkan malam. Dagangan Bang Raja laris manis, begitu kesimpulan Kang Sarju.

Kami seperti tidak peduli ”sisa tanya” itu. Kami hanya ingin menyaksikan Bang Raja hidupnya layak. Karena itu, kami semua sepakat, kembali mengucurkan dana bantuan sekadarnya untuk keluarga Bang Raja. Kali ini, sumbangan modal itu langsung diserahkan kepada istri Bang Raja. Para warga mempersilakan istri Bang Raja untuk berjualan sayuran dan bumbu dapur di pos ronda. Harapannya, ibu-ibu akan berbelanja di situ sehingga keluarga Bang Raja memiliki penghasilan tetap.

Satu hari ditunggu. Dua hari dinanti. Tiga hari dirindukan. Di hari keempat, yang muncul justru penjelasan Bang Raja yang terdengar pongah. Boro-boro minta maaf, Bang Raja malah menyalahkan inisiatif para warga yang membantunya.

”Modal segitu mana cukup, Mas. Apa-apa sekarang mahal. Kalau mau ngasih modal, ya yang pantas dong. Kalau dengan uang segitu istri saya disuruh dagang sayuran, yang kami dapat cuma capek. Mending kami di rumah saja….”

Kini, kami semua sudah patah arang dengan Bang Raja. Kami tidak peduli lagi dengan hidup dan kehidupan keluarga Bang Raja. Bantuan kami yang ikhlas dan tanpa pamrih ternyata mendapat sambutan yang tidak selayaknya dari Bang Raja. Rasa trenyuh kami perlahan-lahan pudar. Bahkan rasa trenyuh itu seperti hilang saat Bang Raja dan keluarganya harus terusir dari rumah kontrakannya karena mangkir membayar.

Hingga hari ini, kami semua tidak pernah lagi menyaksikan Bang Raja, istri, dan anak-anaknya. Entah ke mana mereka. Namun, di hari-hari tertentu, seperti menjelang hari raya Lebaran, istri Bang Raja muncul juga. Dengan membawa anaknya yang terkecil, ia mengitari rumah kami semua dan bertamu. Maksudnya satu; meminta uang zakat fitrah dari para warga! Tiba-tiba di hati kami semua, rasa trenyuh itu kembali muncul. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: