BARISAN SETAN

Ia selalu mengambil posisi tepat di belakang imam saat sholat di kantor. Ia tidak mau berada di shaf ke dua, ketiga, apalagi shaf paling belakang. Indra namanya. Usianya menjelang 40 tahun. Perawakannya kecil, bahkan untuk ukuran orang Indonesia sekalipun. Namun, jangan ditanya semangatnya. Ghirrah ke-Islam-an Indra seperti menjangkau langit. Tinggi. Tak terlampaui.

Indra tak segan mengajak teman-temannya sholat berjamaah zuhur dan ashar di Mushola Al Aqsa, mushola yang ada di kantor kami. Yang menyahut ajakannya, Indra akan melontarkan pujian tulus.

”Nah, begitu. Surga merindukan orang-orang seperti kamu. Apakah kamu tidak rindu bila surga sudah sangat rindu kepadamu?”

Yang tidak menyahut ajakannya, Indra akan membuat orang itu bertekuk lutut untuk kemudian tersenyum kecut. Bagaimana tidak kecut bila Indra berkata seperti ini.

”Ayolah teman! Beri kesempatan kedua kaki dan tubuhmu untuk melangkah dan duduk di mushola kita. Hanya lima menit! Masa kamu begitu kikir memberikan waktu kepada kaki dan tubuhmu berada di masjid meski hanya lima menit?”

Saya tidak tahu bagaimana Indra dapat berubah seperti itu. Padahal, dulunya dia amat biasa. Tidak terlalu ”alim”. Konon, aktivitas dia di sebuah kelompok pengajian telah membuatnya berubah total. Indra seolah memperoleh pencerahan yang menjadikan dirinya serupa dai di medan dakwah. Di manapun ia berada, dakwah menjadi kerja utamanya. Tidak kenal lelah, tidak kenal menyerah.

Itu pandangan saya terhadap Indra selama ini. Dan pandangan itu tidak pernah berubah sampai suatu hari, sehabis sholat zuhur, Indra menyampaikan pernyataan yang begitu mencengangkan saya. Kalimatnya tajam dan cenderung ketus.

”Saya mulai benci sholat zuhur dan ashar di mushola ini!”

Saya terperangah. Saya tidak tahu bagaimana mesti menanggapinya. Saya hanya memandangi wajahnya dengan perasaan heran. Keheranan saya adalah sebuah pertanyaan, dan Indra tahu itu. Lanjutnya kemudian.

”Coba Mas pikir. Bagaimana mungkin Islam akan jaya jika mereka seperti itu sholatnya. Seenaknya sendiri. Seolah tanpa aturan. Seakan tidak ada imam. Sepertinya mereka tidak sadar, sholat yang mereka lakukan itu ada kaitannya dengan kemenangan Islam.”

Saya tidak tahu ke arah mana pernyataan Indra. Bukankah sholat itu memang urusan masing-masing pribadi dengan Tuhan? Apa kaitan sholat di mushola Al Aqso dengan kemenangan atau kejayaan Islam?

”Maksud kamu?”

”Mas, tidak paham atau pura-pura tidak paham?” tanyanya serius.

”Lho, saya benar-benar tidak paham,” kata saya sungguh-sungguh.

Indra menghela napas panjang. Dalam hatinya ia menyesalkan kebodohan saya. Ia tampak kebingungan melanjutkan pembicaraan. Tapi, sikap saya yang menunggu dengan wajah yang naif membuat Indra seketika berubah pikiran. Ia melanjutkan percakapannya.

”Mas, lihatkan betapa buruknya barisan dalam sholat kita? Selalu saja ada ruang-ruang tersisa di antara barisan-barisan itu. Barisan setan! Kita sangat susah membentuk barisan yang rapat dan rapi meski itu hanya dalam sholat. Padahal di kanan-kiri kita adalah saudara-saudara kita sendiri. Apa yang membuat kita enggan merapat dan merapikan barisan dengan sesama saudara kita itu?

Saya terus memperhatikan ucapan Indra.

”Belum lagi masalah imamnya. Si imam sholat seolah-olah tidak peduli dengan barisannya. Padahal imam itu pemimpin. Seorang pemimpin paling berhak untuk mengatur barisannya. Tapi, ini tidak dilakukan. Entah apa alasannya. Rikuh mungkin atau malah takut. Anehkan? Bagaimana mungkin seorang imam tidak berani mengatur barisan yang dipimpinnya?”

Saya kini paham dengan arah pembicaraannya. Tapi, saya tetap belum paham soal barisan itu dengan kemenangan Islam.

”Lalu, apa hubungannya dengan kemenangan Islam?”

Mulut Indra berdecak lirih. Ia seperti jengkel melihat kebodohan saya yang tidak pernah berkurang.

”Mas, barisan sholat menunjukkan siapa diri kita. Kalau kita gagal menata barisan dalam sholat, jangan berharap kita mampu menata dalam barisan-barisan yang lainnya. Barisan politik, barisan ekonomi, atau barisan budaya. Yang ada hanya kegagalan demi kegagalan, harapan demi harapan. Cuma sebatas itu. Ingat Mas, barisan sholat itu dasar, pondasi.”

”Kalau dengan kejayaan Islam?”

Indra tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ia lalu pergi dengan meninggalkan kata-kata pedas. Terasa menusuk. Entah untuk siapa. Mungkin saya!

“Bagaimana mungkin Islam akan jaya kalau umatnya jauh dari cerdas!” * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: