BELAJAR QONAAH

Saya tidak tahu namanya. Lelaki itu datang ke rumah karena sengaja saya undang. Pagi itu, pas di hari Minggu. Ketika ia tengah berjalan dengan beban di depan dan di belakang dari pikulan miliknya sehingga ia berjalan seakan terhuyung-huyung. Teriakannya kencang dan cukup untuk mengundang orang memperhatikannya.

”Sol sepatu! Sol sepatu!”

Usia lelaki itu masih cukup muda. Itu tampak dari kencang kulit di tangan dan wajah yang demikian nyata. Mungkin umurnya baru mencapai tigapuluh atau mungkin menjelang tigapuluhlima. Ia memperkenalkan diri sebagai Yana, asli Garut. Kendati asli Garut, Yana mengklaim dirinya orang Bogor. Sejak kecil ia mengaku tinggal dan berdiam di Bogor. Tak pernah pindah.

Saya dan Yana duduk di halaman depan, pada sebuah dudukan di bawah pohon jambu yang cukup rindang. Saya menyerahkan dua sepatu sandal saya yang sobek di sana-sini untuk diperbaiki. Dengan cekatan Yana langsung membuka peralatan ”perang” miliknya. Jarum, lem, tali, ampelas, lilin, dan pisau lancip kecil.

Bener kamu setiap hari keliling perumahan ini?” tanya saya sedikit heran saat Yana mulai bercerita bila ia setiap hari melewati rumah saya.

Bukannya saya tidak percaya dengan penjelasan Yana. Tapi, saya agak heran bagaimana mungkin saya tidak pernah bertemu dengannya? Bahkan satu kalipun. Bukannya saya takabur atau malah sombong. Tapi, saya memang hampir-hampir mengenal semua penjual, baik penjual jasa maupun barang yang kerap lewat di depan rumah saya.

Ada Darno, penjual bakso asal Leuwiliang, Bogor. Ada Marno, penjaja mie ayam asli Brebes yang rasanya tak kalah dengan mie ayam ”Sido Mampir”. Ada pula si Jamil, penjahit keliling yang asyik dengan sepeda kunonya. Belum lagi Gatot, si penjual bakpao, Umar sang pedagang siomay, atau Tariq penjual sate Madura tapi tak pernah menginjak tanah Madura.

”Bapak tidak tahu saya. Tapi, saya tahu Bapak, istri Bapak, anak-anak Bapak, pembantu Bapak, bahkan mungkin barang-barang yang ada di rumah Bapak,” terang Yana membuat saya terbelalak kaget.

Seketika rasa waswas dan curiga merambati saya. Apa maksud orang ini dengan berkata seperti itu. Jangan-jangan… ah jangan-jangan. Saya berusaha memupus perasaan curiga yang membebat. Saya tiba-tiba malah takut dengan kecurigaan saya sendiri.

”Kok bisa kamu tahu semuanya?” tanya saya berusaha mengorek jawaban.

Yana tersenyum. Tulus. Amat tulus. Wajahnya tak berubah. Wajar. Amat wajar. Sambil menekuni pekerjaannya ia berkata pelan.

”Setiap hari saya melewati rumah Bapak. Karena setiap hari, saya jadi tahu apa yang ada di rumah Bapak, termasuk sedikit keadaan di dalamnya. Terus-terang saya banyak belajar dari Bapak.”

”Belajar dari saya? Maksudnya?” tanya saya semakin penasaran.

Yana menghentikan pekerjaannya. Matanya menatap saya. Tanpa prasangka.

”Saya sedang berusaha memaksakan diri untuk belajar hidup apa adanya seperti Bapak. Bapak punya mobil, tapi jarang sekali Bapak menujukkan kalau Bapak punya mobil. Bapak lebih berbahagia naik kendaraan umum. Bapak punya motor, tapi bapak juga jarang menaikinya. Kursi, meja, atau peralatan yang ada di dalam rumah, saya tahu benar, bukan barang-barang yang mahal.”

Saya mendengarkan terus penilaian Yana tentang diri saya.

”Sepatu Bapak ini mestinya bisa Bapak buang. Tapi, Bapak tidak melakukannya. Bapak seperti ingin mengamalkan hidup yang diajarkan Nabi Muhammad, yakni hidup yang qonaah. Hidup yang merasa serba cukup. Dikasih miskin, bersyukur, diberi kekayaan beristighfar. Enak sekali hidup seperti Bapak. Saya ingin seperti Bapak. Bapak telah hidup di jalan yang lurus.”

Saya tersenyum mendengar penilaian Yana. Dalam hati, saya berkata, kamu salah! Salah besar! Justru saat ini saya tengah merasakan betapa saya telah menyia-nyiakan karunia Allah kepada saya dan keluarga saya. Allah telah memberikan saya mobil, kenapa saya malas memakainya? Allah memberikan saya sepeda motor, kenapa saya jarang menggunakannya? Allah sudah memberikan saya uang yang banyak, mengapa uang itu tidak saya hambur-hamburkan untuk memenuhi semua kesukaan saya di dunia ini? Ah, betapa bodohnya saya.

Hidup apa adanya???

Ah, Yana juga keliru. Dalam hati, saya justru ingin hidup seperti hidupnya orang-orang kaya nan penting di negeri ini. Kekayaannya berlimpah ruah, dihormati dan dipandang semua orang, setiap waktu masuk televisi, tak pernah berpikir hari ini makan apa dan di mana, tapi makan siapa, serta yang paling enak…. hukum takut dengan dirinya!!! Bukankah sangat nikmat hidup seperti ini? * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: