BERHALA

Kalau tidak karena anak saya merengek, saya tidak akan datang ke rumahnya dan berkenalan dengannya. Anak saya merengek terus-menerus meminta agar dirinya diajar mengaji oleh orang itu. Di rumah. Bersama adiknya. Padahal orang itu telah mengajar anak saya di masjid yang tidak jauh dari rumah.

Apa hebatnya orang itu hingga anak saya sampai begitu kesengsem dengannya?

”Dia baik. Dia hebat. Kalau bercerita tentang kisah para nabi dia semangat sekali. Dia juga lucu. Ah, pokoknya Mas suka sekali sama dia. Mas ingin diajar dia di rumah, ” kata anak saya dengan mimik lucu saat melukiskan kehebatan guru mengajinya itu.

Saya tidak tahu nama sebenarnya. Namun, dari orang-orang, saya tahu kalau ia biasa dipanggil Ustad Abu Umar. Entahlah, apakah nama itu memang benar-benar menunjuk dirinya ataukah nama itu hanya sekadar nama panggilan karena salah seorang anaknya bernama Umar. Saya tidak terlalu peduli. Yang penting saya hendak menemuinya sebagai realisasi dari janji saya kepada anak saya.

Beberapa ibu yang tengah duduk di gardu ronda langsung menunjuk letak rumahnya begitu saya menanyakan Ustad Abu Umar. Oh, ternyata ia orang yang sangat dikenal di lingkungan rumahnya, batin saya. Sesaat muncul rasa simpati yang tiba-tiba mengalir dalam tubuh saya. Pasti lingkungan di sekitar rumahnya menjadi ”bercahaya” dengan kehadiran dia.

Saya menemui Ustad Abu Umar di rumahnya yang terbilang sederhana. Rumah Ustad Abu Umar berada di tengah perkampungan penduduk yang cukup padat. Rumahnya tidak berpagar, seolah ia membiarkan diri dan keluarganya menyatu dengan denyut kehidupan warga. Rumahnya berlantai tanah, seakan ia hendak menyerahkan raga diri dan keluarganya demi menyerap hawa murni keluhuran bumi tempat berpijak.

”Silakan duduk, Pak. Silakan,” sapa Ustad Abu Umar ramah saat saya masuk ke rumahnya setelah mengulur salam.

Tubuh Ustad Abu Umar sedang-sedang saja. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek pula. Perawakannya jauh dari gemuk. Kurus malah. Jubah putihnya yang panjang seperti terlihat kedodoran membungkus badannya. Jenggotnya tercukur rapi tanda kalau dia rajin merawat rambut di dagunya. Pandangan matanya teduh tanda kalau ia orang yang terbiasa mengekang hawa nafsunya.

”Ada yang bisa saya bantu?”

Saya menceritakan segalanya. Tentang anak saya yang terkagum-kagum kepada cara Ustad Abu Umar mengajar yang penuh welas asih dan tentang anak saya yang terbangkitkan hati dan pikirannya setelah mendengar uraiannya. Tentang anak saya yang memaksa diajar dirinya di rumah, tidak hanya sekadar di masjid.

”Saya minta Ustad bisa mengajar anak saya di rumah. Tapi, mungkin tidak hanya anak saya seorang. Saya, istri, dan anak saya yang lain nantinya juga bisa ikut. Jadi keluarga kami, semuanya bisa mengaji kepada Ustad,” pinta saya.

”Ehmm…,” suara Ustad Abu Umar menggumam, terdengar ragu.

”Saya sanggup membayar Ustad empatratus ribu sebulan. Honorarium itu untuk empat kali pertemuan. Sekali pertemuan, satu jam lamanya. Kami akan berusaha mengikuti jadwal yang Ustad Abu tentukan. Terserah harinya….”

Melihat kehidupannya yang terlihat sederhana, saya yakin Ustad Abu Umar akan memenuhi permintaan saya. Dengan tambahan uang empatratus ribu sebulan dari saya, Ustad Abu Umar tentu tidak akan takut kehidupan rumah tangganya menjadi kekurangan. Apalagi, konon, anaknya lima. Masih kecil-kecil pula. Belum lagi kerjanya hanya sebatas pedagang kue yang dijajakan di pasar.

Namun, jawaban Ustad Abu Umar membuat saya terperanjat. Wajahnya memang tidak berubah, tetap ramah. Bibirnya juga tidak berubah, tetap mengembang. Tapi, ucapan-ucapannya membuat saya seolah tersihir.

”Maaf. Saya tidak dapat memenuhi permintaan Bapak. Bukan karena saya terlalu sibuk dan tidak menghargai Bapak. Tapi, karena memang saya berprinsip tidak mengajar ilmu yang saya miliki itu ke rumah-rumah. Saya hanya mengajar ilmu di masjid-masjid atau majelis taklim. Menurut saya, kita wajib mendatangi ilmu, bukan didatangi ilmu….”

”Ustad, saya bersedia menaikkan honornya.”

”Justru itu, saya takut hal ini akan menjadikan Bapak berhala bagi saya. Kalau Bapak sudah menjadi berhala, maka selamanya saya tidak mampu lepas dari Bapak. Saya akan bergantung kepada Bapak. Celakanya, di hadapan Bapak, saya pasti akan kehilangan kata-kata. Diam. Tak mampu bersuara.”

Ustad Abu Umar tetap tidak dapat memenuhi permintaan saya. Saya pun pulang dengan tangan hampa. Batin saya tiba-tiba berbisik, andai saya seorang pengusaha besar, pejabat tinggi negeri, atau malah Presiden sekalipun, mampukah Ustad Abu Umar tetap menolak permintaan saya?

Ah, sayang…. saya bukan ketiganya. Namun, di sudut hati yang lain, saya tetap mengagumi Ustad Abu Umar. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: