BERJUMPA DENGAN SHOLAT KHUSU’

sunriseLama sudah saya digoda oleh sholat khusu’. Mungkin sejak saya masih kecil dan mulai mengenal apa itu sholat. Ayah saya selalu berkata sesaat sebelum sholat. Begini kata-katanya yang kerap terngiang hingga kini.

”Ingat, kamu harus mampu sholat khusu’. Tak usah terburu-buru dalam sholat. Dengar dan pahami arti bacaan sholat. Kalau sudah, resapi hingga ke hati.”

Sejak itu, saya mengartikan sholat khusu’ dengan sholat yang pelan-pelan. Sholat yang tidak terburu-buru. Kata ayah saya, dengan terburu-buru, sholat kita menjadi rusak. Rusak niatnya. Rusak gerakannya. Rusak bacaannya. Rusak segalanya. Kita tidak mendapatkan apa-apa dari sholat, kecuali ”sholat” itu sendiri.

Saya yakin, omongan ayah saya benar. Karena begitu banyak teman-teman masa kecil saya yang melakukan sholat dengan terburu-buru. Mereka terburu-buru karena ingin segera bermain sepak bola di lapangan. Mereka terburu-buru karena kartun di televisi sudah lama menanti. Mereka terburu-buru karena sudah tidak tahan, ingin segera menceburkan dirinya di tepian Sungai Serayu yang jernih. Akhirnya, sholat menjadi korban, dan bahkan dikorbankan.

Ketika remaja saya mulai digerogoti makna lain tentang sholat khusu’. Ini semua gara-gara pergaulan saya dengan Komar. Saya tahu ia lebih piawai dalam soal-soal keagamaan dibanding saya karena ia adalah anak dari seorang pengurus organisasi keagamaan modern di kota kelahiran saya. Kata Komar tegas.

”Sholat khusu’ itu bukan sholat yang pelan-pelan. Keliru itu!”

”Sholat khusu’ itu, ”kata Komar lebih lanjut. ”Sholat yang membuat kita merasa rendah di hadapan Allah. Kita merasa bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Kita hanya makhluk yang tidak berdaya. Allah- lah sang segalanya.”

Sejak itu, saya menafsirkan sholat khusu’ sebagai sholat yang membuat kita mampu merendahkan diri di hadapan Sang Maha Tinggi. Kata Komar, dengan merendahkan diri, kita menjadi sadar, bahwa kita hanya seorang hamba, bukan Tuan. Kita hanya makhluk yang diciptakan, bukan ”Sesuatu” yang menciptakan. Kita makhluk, bukan Tuhan.

Saya percaya, ucapan Komar itu tidak keliru. Sebab, begitu banyak orang yang melakukan sholat, tapi merasa dirinya amat hebat. Mereka merasa hebat karena kekayaannya yang melimpah ruah. Mereka merasa hebat karena kepandaiannya yang melangit. Mereka merasa hebat karena keturunannya yang mendarah biru. Akhirnya, kendati sholat, mereka sombong dan takabur. Ah, pasti mereka itu tidak paham apa itu sholat khusu’.

Saat saya dewasa, saya kembali tergoda. Berbagai macam halaqah ataupun liqo’ yang disampaikan para ustad telah melemparkan saya pada satu kalimat indah nan mengharukan tentang sholat khusu’.

”Sholat khusu’ itu…., andai engkau seolah-olah mampu melihat Allah dan Allah melihat engkau. Engkau tak ingat apa-apa, kecuali Allah. Engkau tak diingatkan apa-apa, kecuali Allah. Itulah perjumpaanmu yang sesungguhnya dengan sholat khusu’.”

Ah, betapa beratnya sholat khusu’ itu ternyata. Sepanjang usia saya, sepanjang saya melakukan sholat, sepertinya saya belum pernah merasakan hal itu. Bahkan meskipun hanya seolah-olah. Ketika saya sholat, saya justru ingat, bahwa kemarin saya masih berutang kepada warung padang di sebelah kantor yang selalu saya nikmati masakannya. Saat saya sholat, saya malah bertemu dengan gagasan-gagasan bernas yang membuat saya mampu menulis terus sepanjang waktu.

”Sholat seperti itu berarti sholat yang belum berhasil lepas dari dekapan setan!” begitu kata ustad yang sering saya lihat di televisi.

Namun, ustad yang lain malah mengatakan seperti ini.

“Itu bagus! Kamu berarti telah menjadi musuh setan yang sesungguhnya. Mana ada orang yang sholat tidak digoda setan, kecuali kalau dia memang telah bersekutu dengan setan. ”

Maka di batang usia saya yang terus merambat, saya tetap belum berhasil berjumpa dengan sholat khusu’ yang begitu saya impikan itu. Namun, di dalam hati kecil, saya berjanji tidak akan pernah putus asa untuk terus mencari dan mencarinya. Di buku-buku. Di kajian-kajian. Di masjid-masjid. Saya yakin suatu saat saya pasti akan berjumpa dengannya.

Dan kini, saya tiba-tiba menyadari, bahwa sholat yang saya lakukan ternyata telah sukses memenjarakan diri saya. Benar! Penjara! Sholat itu membuat saya begitu mencintai keluarga saya; orang tua saya, istri saya, dan anak-anak saya. Sholat itu telah menggagalkan saya untuk bersahabat karib dengan segala macam perbuatan maksiat, seperti menipu, berbohong, minum khamar, atau merokok. Sholat itu menjadikan saya ingin melepas sebagian pendapatan saya kepada orang-orang yang tidak berpunya. Sholat itu….. Ah, saya demikian rindu dengan sholat!

Jadi, adakah sebenarnya saya telah berjumpa dengan sholat khusu’ tanpa saya menyadarinya? * * *

5 Responses

  1. Q ingin bisa meresakan sholat khusu’….

    yah…

    Q pernah merasaknnya!!!!

    Q merasa seolah2 berada dlm ruang gelap tapi hanya ada Q d sana….& tempat yg Q duduki itu bersinar…jadi, hanya aku yg terlihat…..

    tapi itu dulu..!!!

    ntahlah..!!!

    harus dari mana Q mulai lagi…

    Q sdh terlalu jauh meninggalkan semua itu…

    smga Allah memberiku kesempatan…..

    smg…Allah berkenan menggerakkan jiwa & raga Q tuk lagi mw bersimpuh d hadapan Nya…

    ntahlah….saat ini terasa sgt berat…..

    tolong doakan saya…
    😦

  2. Sholat itu telah menggagalkan saya untuk bersahabat karib dengan segala macam perbuatan maksiat, seperti menipu, berbohong, minum khamar, atau merokok……(bang,….yang merokok itu beraaat…sekali)

    • Ha..ha…ha…
      Kata orang bijak tidak ada sesuatu yg berat andai kita tak mencobanya. Bahkan, bukankah terhadap anak2 kita pun kita sering memberi semangat yg seperti ini?
      “Ayo, kamu pasti bisa! Jangan bilang berat kalau kamu belum mencobanya!”
      Maka anak kita pun bersemangat. Jadi, kenapa kita malas belajar terhadap anak-anak kita? Tabik, Mas.

  3. benar2 memberi inspirasi utk tetap berusah khusu’ dlm sholat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: