BLUE JEANS

”Lho, kok malah duduk. Jadi nggak pergi?” Teman saya, Udin datang dengan suara yang mengagetkan. Saya terkejut sesaat. Tapi, rasa terkejut itu hilang, berganti dengan pikiran yang kembali menerkam.

Saya akui, beberapa hari ini pikiran saya terasa agak berat. Saya terbebani sebuah masalah yang begitu amat sangat sepele sekali. Malu saya menceritakannya. Hanya soal blue jeans! Si Udin, teman saya itu sampai terkekeh kegelian saat saya menceritakan bahwa celana khas kaum koboi Amerika itu sudah mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini. Di rumah, di jalan, di kantin, di mobil, juga di masjid yang notabene tempat ibadah; blue jeans seperti menutup semua isi kepala saya.

Begini soalnya….

Setelah tidak lagi mengenakan celana blue jeans selama 13 tahun (Seingat saya, saya mengenakan celana blue jeans yang terakhir kali sesaat setelah selesai kuliah, habis itu, tidak pernah lagi. Goodbye blue jeans!), tiba-tiba saya ingin kembali mengenakan celana berbahan tebal yang khas itu. Saya sendiri tidak tahu kenapa keinginan itu muncul? Saya tak mau berprasangka buruk dengan diri saya sendiri. Tapi, jangan-jangan karena usia saya sedang menuju angka 40 tahun. Wah…. Wah!!!

Konon, buat para pria, pada usia segitu itu merupakan ”ujian” yang maha berat. Karena saat usia 40 tahun itu, para pria akan terlihat sedikit berubah dari biasanya. Mereka terlihat agak ganjen, ”nakal”, atau malah jadi pesolek; pokoknya kembali bergaya dan berdandan bak anak muda. Para pria berkelakuan demikian karena mereka ingin memperoleh perhatian dari pihak-pihak lain. Siapa pihak lain itu? Ah, tahu sendirilah. Puber kedua! Tapi, ini konon lho.

Blue Jeans

Blue Jeans

Nah, blue jeans kerap diidentikkan dengan anak muda. Lihat saja iklan-iklan blue jeans yang terpampang di billboard, majalah, koran, atau media lain. Mereka selalu menampilkan anak muda-mudi yang keren, gaul, dan modern. Sepertinya belum pernah iklan blue jeans menampilkan orang tua, bapak-bapak, atau kakek-kakek sebagai model iklannya. Maka jangan heran kalau di sementara masyarakat kita, orang tua yang suka mengenakan celana blue jeans ini dinilai masih bergaya anak muda. Nggak ngaca kelee

Namun, -menurut perasaan saya sendiri- saya sebenarnya akan berhasil melewati tudingan yang seperti ini. Andai saya memakai blue jeans, saya tidak peduli perkataan orang. Pokoknya saya ingin memakainya. Titik! Tidak peduli saya digelari sok-sok yang seabreg itu; sok muda, sok gaul, sok keren, dan sok-sok yang lain. Apalah tudingan itu, kafilah tetap berlari. Pokoknya saya ingin memakai blue jeans!

Dengan blue jeans yang akan saya beli itu, saya memiliki banyak manfaat. Pertama, kalau bepergian di liburan sabtu-minggu bersama anak-istri, saya bisa memakainya (tidak seperti biasa menggunakan celana kantoran). Kedua, saya dan istri saya tidak repot memikirkan cucian kering apa tidak karena blue jeans bisa dipakai berkali-kali (konsensus nasional tersembunyi lho). Ketiga, karena dinilai sebagai sok muda, celana blue jeans malah bisa membuat saya bebas berinteraksi dengan siapapun; pria wanita, kaya miskin, tua muda, besar kecil, pegawai pengangguran, dll.

Akan tetapi, yang jadi masalah, kok sangat jarang ya para ulama, pewaris para nabi, manusia yang akhlaknya terjaga, memakai celana blue jeans? Lihat saja para ulama yang ada di negeri ini, semisal KH. Ali Yafie, KH. Mustafa Yakub, Quraish Shihab, atau yang lebih muda semacam ustad Hidayat Nurwahid, ustad Daud Rasyid, mereka sepertinya tidak pernah terlihat memakai celana blue jeans.

Nah, para ulama itu bukan tidak menggunakan, tetapi -konon- memang tidak mau menggunakan celana blue jeans. Kenapa memang? Karena menggunakan celana blue jeans termasuk dalam kategori tasyabuh bil kuffar alias meniru-niru gaya hidup orang kafir. Padahal tasyabuh bil kuffar ini termasuk sesuatu yang dilarang dalam Islam. Haram! Dosa! Dan ini yang paling saya takutkan!

”Hei, sebenarnya jadi beli blue jeans nggak?!”

Ya begitulah, untuk masalah yang begitu amat sangat sepele sekali ini saja, saya tak bisa memutuskan, apalagi untuk hal-hal yang besar. Tapi, syukurlah, tidak ada orang yang mau mencalonkan saya menjadi presiden, menteri, wakil rakyat, anggota DPD, atau bahkan Ketua RT sekalipun. Coba kalau mereka mencalonkan saya dan saya jadi…. Pasti kacau negeri ini! Wong pemimpinnya peragu! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: