BUATNYA PASTI MALAS BERDOA

Akibat ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan, istri saya terpaksa tidak dapat menemani saya menghadiri resepsi pernikahan teman saya. Terpaksa saya datang sendiri. Padahal teman saya itu sudah mewanti saya agar pergi berdua dengan sang istri. Bahkan kalau mungkin, dua anak saya juga mesti datang.

”Aku ingin kamu datang dengan istri dan anakmu. Ingat, hari itu akan menjadi hari terindah dalam hidupku,” ucapnya seraya menyerahkan undangan pernikahan dirinya dengan wajah berbinar.

Saya mengangguk dan tersenyum. Kendati demikian, dalam hati saya berusaha memaklumi keinginannya jika ia ”memaksa” setiap orang yang diundang untuk hadir dalam resepsinya. Saya menebak, mungkin ia sangat gembira, atau malah terlalu gembira. Di usia yang sudah mendekati kepala empat, akhirnya ia berhasil menyunting seorang gadis yang usianya terpaut limabelas tahun dengan dirinya.

Jadi, ini harus dirayakan! Jadi, ini mesti dihadiri semua orang yang terundang! Apalagi, pihak yang terundang memang memiliki kewajiban menghadiri resepsi pernikahan pihak yang mengundang. Konon, kita berdosa bila tidak menghadiri udangan pernikahan, kecuali ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Siang itu, saya memasuki gedung tempat resepsi pernikahan dilangsungkan. Saya langsung menjumpai sang mempelai yang berada di depan karena memang demikian kebiasaannya. Setelah berbasa-basi sejenak dengan mengucapkan selamat dan memohon maaf karena istri-anak tak bisa ikut, saya segera berlalu menuju tempat makan.

Saya celingak-celinguk, siapa tahu ada kawan. Ah, tidak ada. Saya langsung memilih menu resepsi yang tersaji. Cukup mewah. Air liur saya mendadak menetes. Sayang, anak dan istri tidak ada. Kalau ada, pasti saya bisa menjadikan mereka sebagai alasan untuk mencoba berbagai makanan.

”Silakan, di sini Mas…,” ujar seorang bapak tua berbaju batik dengan ramah.

”Oh, terima kasih,” jawab saya sambil menghampiri dan duduk di sebelahnya.

Kami berdua menikmati hidangan yang tersaji. Di piring saya tertampung nasi, sate ayam, rendang, capcay, salad, sambal goreng ati, dan kerupuk udang. Saya mengakui, rasa masakan katering yang dipesan teman saya itu sangat pas di lidah. Enak. Pasti semua orang merasakan kenikmatan yang sama seperti halnya saya.

Saya benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa dengan makanan yang saya makan. Namun, baru setengah saya menghabiskan hidangan dalam piring, saya dikejutkan sebuah benda mengkilat yang melayang hampir mengenai pelipis saya. Ups! Untung saya menghindar. Saya kaget. Mata saya memandang ke sekeliling.

Dari jarak dua meter saya melihat seorang ibu bertubuh subur tergopoh-gopoh mendatangi saya. Tangannya menyeret seorang anak berusia sekitar empat tahun yang menangis keras. Tak hanya menangis, anak itu juga memukul-mukul tubuh perempuan itu dengan puncak emosi. Beberapa kali tubuh perempuan itu harus menerima hantaman tangan kecil sang anak. Bak! Buk! Bak! Buk!

”Maaf, Mas. Maaf. Anak saya ini memang kurang ajar, ”kata ibu itu kepada saya. Oh…. Saya hanya membalas dengan senyum.

”Tuh lihat! Hampir saja garpu yang kamu lempar itu kena si Om. Coba kalau kena, bagaimana!!? Dasar anak bandel!!”

Wheerrrr!!! Jemari ibu itu hinggap di pantat sang anak. Tak ayal, tangis anak itu bertambah melengking. Puluhan orang yang hadir dalam resepsi tak melepaskan mata mereka ke adegan yang bak sinetron.

Celaka! Anak itu bukannya diam dengan cubitan ibunya. Anak itu malah melakukan perlawanan yang keras. Anak itu memukul, anak itu menjambak, anak itu mencakar. Wajah ibunya. Semua orang benar-benar dibuat ngeri. Tapi, semua orang seperti takjub dengan pemandangan itu. Kok bisa ya?

”Aduh!!! Ibu sakit, Nak! Sakit!”

Anak itu tak peduli. Ia terus memukul, menjambak, dan mencakar. Bercak darah muncul dari dahi sang ibu. Maka ibu itu segera membekap tubuh anak lelaki itu ke pelukannya. Keras. Amat keras. Anak itu tak berkutik.

”Memang kenapa, bu?” tanya saya penasaran.

”Biasa, Mas. Kalau ada acara-acara seperti ini, dia pasti minta ikut. Tapi, kalau sudah ikut, saya akan dibuat malu. Tadi sudah memecahkan piring gara-gara minta makan sendiri. Sekarang minta makanan yang khusus bagi kerabat pengantin. Sudah dibilang tidak boleh. Marah. Ya begini….”

Saya melihat wajah ibu bertubuh subur itu. Ia sungguh tak berdaya. Perasaannya berkecamuk di tengah orang-orang. Malu. Marah. Kecewa. Terhina. Terlecehkan. Bukan oleh orang lain. Tapi, oleh anaknya sendiri.

Hati kecil saya tiba-tiba bertanya, kalau anak kecil bandel, kalau ada anak kecil susah diatur, kalau ada anak kecil mau menang sendiri; siapa sebenarnya yang salah? Orang tuanya yang gagal mendidiknya atau si anak sendiri yang memang sudah ”ditakdirkan” Tuhan menjadi anak yang ”susah”.

”Itulah akibatnya kalau anak yang lahir orang tuanya tidak pernah berdoa saat membuatnya…”

Saya tidak tahu siapa yang bersuara. Apakah orang tua yang berbaju batik itu? * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: