CERAI

Dia datang tergopoh-gopoh ke rumah saya. Mas Nano. Pagi itu. Saat orang-orang hendak bersiap-siap memulai kesibukan. Meletakkan motor secara sembarangan hingga hampir jatuh, Mas Nano langsung memeluk saya dengan ketat. Dan…ia menangis! Mas Nano menangis!

”Waduh! Ada apa ini, Mas?” tanya saya dengan ribuan pertanyaan mengikuti. Mas Nano tidak menjawab. Ia terus sibuk dengan tangisannya. Saya kebingungan. Saya lalu mengajak Mas Nano masuk ke dalam rumah. Mas Nano saya persilakan duduk di kursi tamu. Bergegas saya mengambil air putih.

Mas Nano teman akrab saya. Orangnya ramah, supel, dan cukup ganteng untuk ukuran orang Indonesia. Setiap hari dia berangkat kerja dengan menggunakan sepeda motornya yang masih baru. Istri Mas Nano tidak bekerja atawa ibu rumah tangga. Kendati tidak bekerja, saya tahu, istri Mas Nano aktif dalam kegiatan di luar rumah. Bahkan dari kegiatannya itu, ekonomi keluarga Mas Nano tertopang oleh peran istrinya itu.

”Dik, istri saya minta cerai!” cetus Mas Nano dengan nada sesenggukan.

Dugh! Saya bagai tersambar petir. Kabar yang dibawa Mas Nano membuat saya tergetar. Bayangan buruk tiba-tiba mampir dalam pelupuk mata saya. Andai itu benar-benar terjadi apa yang terjadi dengan Mas Nano selanjutnya? Bagaimana nasib anak-anak dan istrinya? Di mana mereka semua akan tinggal?

”Tolong saya! Apa yang harus saya lakukan?!”

Saya tidak tahu hendak berkata apa. Saya bingung. Amat bingung. Bagaimana mungkin saya harus memberi saran kepada Mas Nano? Usianya lebih tua dia, mungkin sekitar 5 tahun. Pernikahan saya baru 3 atau 4 tahun, sedangkan dia sudah lebih dari 10 tahun.

Kok bisa sih istri Mas Nano minta cerai? Memang ada masalah apa?” Mulut saya tiba-tiba bersuara tanpa bisa dicegah.

Mas Nano lalu bercerita dengan gamblang. Persoalannya amat sepele. Kata Mas Nano, suatu malam dirinya tiba-tiba teringat dengan kenangan masa indah bersama mantan kekasihnya yang dulu. Entah kekuatan dari mana, Mas Nano lalu menelpon mantan kekasihnya itu. Ngobrolah mereka. Tentu dengan sembunyi-sembunyi. Begitu setiap malam. Keasyikan ngobrol, mereka seperti lupa diri. Akhirnya, istri Mas Nano tahu. Marahlah ia dengan semua kelakuan Mas Nano. Istrinya merasa Mas Nano telah menipu sepanjang usia perkawinan mereka.

Saya tersenyum mendengar cerita Mas Nano. Saya paham, Mas Nano adalah orang yang masih belum bisa lepas dari belenggu kelampauan. Tidak hanya lepas, Mas Nano memang senang mempertautkan dirinya dengan kenangan indah di masa lalu. Mas Nano bahkan seperti berusaha hidup dalam dua dunia. Kenangan indah di kelampauan dan realitas objektif di kekinian. Saya yakin banyak orang yang seperti Mas Nano di sekeliling kita.

”Dik, tolong saya!”

Saya berpikir sejenak. Tapi, saya memang tidak tahu bagaimana menolongnya. Apakah saya harus menemui istrinya? Ah, saya tak mau campur tangan rumah tangga orang. Apakah saya mesti mencari ustad untuk mendamaikan mereka? Iya, kalau benar, kalau keliru bagaimana. Saya benar-benar mati kutu. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada kamus tebal bahasa Indonesia yang ada di lemari buku.

”Mas, hilangkan kata cerai dari kamus hidup dan kehidupan Mas Nano dan istri!” cetus saya tiba-tiba. ”Pasti Mas Nano dan istri akan bahagia.”

Mas Nano tampak kaget dengan saran saya. Tapi, saya tidak peduli. Karena hanya itulah yang bisa saya lakukan untuknya. Pelan-pelan muka Mas Nano terlihat berbinar. Tangisnya berhenti. Ia pamit setelah menyeka air matanya.

Dua hari kemudian saya melihat Mas Nano dan istrinya berboncengan. Dari jarak yang cukup jauh ia berteriak keras.

”Dik, terima kasih sarannya!” * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: