DIK, ENAK YA KALAU ALLAH SUKA BERCANDA?

Mereka saya bariskan dengan rapi. Dalam ruang tengah yang tidak terlalu luas. Irfan dan Afif, dua anak saya. Keduanya mengenakan sarung dan baju koko yang keren. Adzan maghrib baru saja berlalu.

”Ingat, ya. Seperti ini sampai selesai. Ikuti semua gerakan Bapak!”

Saya berusaha memulai gerakan sholat sesempurna mungkin. Di hadapan anak-anak, saya tak ingin gerakan-gerakan sholat saya jauh dari sempurna. Di hadapan anak-anak, saya ingin menjadi seorang imam yang paripurna. Saya ingin menjadi contoh bagi mereka. Bukankah keteladanan, faktor terpenting dalam pendidikan anak dibanding faktor-faktor lainnya?

Saya tahu, kedua anak saya mengikuti semua gerakan saya. Itu saya ketahui dari diamnya mereka. Ketika takbir, mereka juga melakukan takbir. Saat ruku’ mereka juga melakukan ruku’. Tatkala sujud mereka juga bersujud. Sungguh saya sangat bahagia saat itu. Mereka seolah larut dalam lantunan bacaan sholat yang saya kumandangkan.

Sayang, itu semua hanya terjadi pada dua rakaat pertama. Pada rakaat ketiga atau terakhir suara cekikikan mulai terdengar. Awalnya pelan. Sangat pelan. Lama kelamaan, suara mereka berdua semakin keras. Ya Allah, ampunilah saya karena saya gagal mendidik anak-anak saya dalam sholat…

Sholat maghrib pun selesai. Saya melanjutkannya dengan zikir. Sejenak. Hening seketika terbit. Saya tahu, mereka berhenti bercanda. Saya juga tahu mereka berhenti bercanda karena takut dengan kemarahan bapaknya.

Saya membalikkan tubuh. Dalam keadaan masih duduk saya pandangi kedua anak saya. Lembut. Tanpa amarah. Irfan dan Afif tahu diri.

”Mas Irfan, Bapak. Mas Irfan yang mulai. Badannya digoyang-goyang ke aku. Aku jadi kepingin ketawa, ” kata Afif membela diri.

”Bukan, Bapak! Adik yang mulai,” balas Irfan tak mau kalah dengan penjelasan adiknya. ”Tangan adik mencolek-colek badan Mas. Mas jadi kegelian. Mas jadi kepingin ketawa terus.”

Saya tak tahu siapa yang memulai. Kakaknya, Irfan atau adiknya, Afif. Itu semua tidak penting bagi saya. Yang penting, mereka belum lagi dapat menegakkan perintah sholat dengan sempurna. Mereka memang masih anak-anak. Usia Irfan belum lagi sepuluh. Adiknya masih bergerak menuju tujuh tahun. Tapi, bolehkah orang tua seperti saya mendambakan anak-anaknya mampu menegakkan perintah Allah dan Rasul-Nya tanpa main-main?

Di kala agama dijadikan sebagai ilmu perahan belaka, di saat agama diturunkan semata sebagai nilai spiritual, dan bahkan di waktu agama hanya dilantunkan sebatas pelarian saat pekat; salahkan bila orang tua mendambakan anak-anaknya mampu menegakkan agama sesuai dengan kata-kata agama itu sendiri?

”Sholat itu bukan tempat bercanda atau tertawa. Allah melarang kita bercanda dan tertawa dalam sholat. Allah marah kalau kita melakukannya. Mas dan Adik tahukan, tidak ada orang yang bercanda dan tertawa-tawa dalam sholat. Dosa kalau itu dilakukan.”

Saya berusaha menanamkan nilai-nilai dalam sholat kepada anak-anak saya. Saya senang, mereka paham. Sikap diam dan anggukan kepala mereka menjadi bukti.

”Sholat itu doa. Di dalam sholat kita bisa minta apa saja kepada Allah. Kita bisa minta petunjuk kalau kita lagi bingung. Kita bisa minta sehat, minta jadi anak pintar, atau minta diberi kemudahan di sekolah. Adik dan Mas boleh minta apa saja. Allah pasti memberinya.”

Saya memaafkan mereka kali ini. Saya percaya, suatu saat mereka pasti berubah. Irfan dan Afif segera beranjak dari tempatnya duduk. Bergantian mereka mencium tangan saya. Tak lupa saya mengusap kepala mereka berdua sebagai tanda kasih.

Saya berusaha membenahi sajadah yang terhampar. Namun, belum sempat saya membenahi, saya mendengar percakapan Irfan dan Afif di kamar dengan setengah berkelakar.

”Dik, enak ya kalau Allah suka bercanda. Dia pasti tertawa saat kita bercanda tadi. Kita senang, Allah juga senang.”

”Iya, Mas. Aku juga tak percaya sama Bapak kalau Allah tadi marah. Masa Allah marah, kan kita lagi gembira.”

Saya menutup telinga saya rapat-rapat. Saya tak ingin mendengarkan percakapan mereka selanjutnya. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: