ISLAM DAN NASIONALIS? SAMA SAJA!

Mbah Tirto bukan siapa-siapa. Ia hanya petani kecil di pinggiran kota kelahiran saya. Tapi, jangan ditanya haluan dan wawasan politiknya. Sejak dulu hingga sekarang ia pendukung fanatik partai Islam dengan segudang argumentasi yang diyakininya. Namun, jangan ditanya partai Islam apa karena Mbah Tirto akan menjawab singkat, ” hanya Tuhan, malaikat, dan Tirto yang tahu”.

Mbah Tirto tinggal agak jauh dari rumah saya di kampung. Namun, setiap pulang mudik, saya tak lupa menyisihkan waktu buat menemuinya. Gayeng! Nikmat! Begitu perasaan saya setiap bertemu dengan Mbah Tirto. Bagi saya, pertemuan dengan Mbah Tirto bak guyuran air pegunungan yang sejuk, bersih, dan segar setelah bergumul dengan panas udara Jakarta.

”Nggak ikutan kampanye, Mbah?” tanya saya kepada Mbah Tirto di suatu pagi yang cerah di teras rumahnya yang cukup sederhana. Mbah Tirto menyuguhi saya dengan tempe mendoan yang hangat. Hhhmmm….!

”Aku sudah tua. Tenagaku tak cukup lagi buat begituan. Yang bisa aku lakukan sekarang hanya berdoa. Moga-moga kampanye partai politik itu tidak bikin masyarakat waswas,” jawab Mbah Tirto bijak.

Saya mencicipi tempe mendoan yang disuguhkan. Edan! Tempe tipis bertepung yang digoreng setengah matang itu membuat perut dan mulut saya seolah bekerja sama untuk terus mengunyah dan mengunyah, tanpa henti.

”Pemilu milih apa, Mbah?” tanya saya masih dengan mulut tersumpal mendoan.

Mbah Tirto tersenyum mendengar pertanyaan saya. Saya coba menebak makna di balik senyuman Mbah Tirto. Mungkin ia tersenyum melihat saya yang begitu bernafsu melahap mendoan hingga seolah kesetanan. Atau mungkin ia tertawa mendengar pertanyaan saya yang terasa naif dan basi di telinga. Bukankah saya sudah tahu haluan politik Mbah Tirto?

”Kamukan sudah tahu ke mana haluan politik aku….”

”Mbah, nggak bingung, partai Islam yang mana? Wong partai Islam-nya banyak dan ribut melulu….”

Mbah Tirto kembali tersenyum. Tapi, kali ini senyumnya lain. Senyuman kali ini seperti dipaksakan. Terasa getir.

”Bukan partai Islam kalau tidak ribut dan pecah. Partai Islam memang dibentuk untuk ribut. Bukankah sejarah mencatat seperti itu?”

Mbah Tirto lalu bertutur lancar tentang sejarah Islam dari masa lalu hingga kini. Di masa pergerakan nasional, Sarikat Islam (SI) menjadi wadah umat Islam untuk menyuarakan nilai-nilai sosial, politik, dan budaya terhadap penjajahan. Tapi, pertentangan pengurus SI antara kubu Agus Salim dan kubu Alimin-Darsono membuat SI pecah menjadi SI Merah dan SI Hedjo.

Di masa demokrasi liberal, kembali umat Islam kukuh bersatu untuk mengusung Masyumi sebagai satu-satunya partai politik Islam yang harus dibesarkan. Namun, belum lagi Masyumi dapat merealisasikan tujuannya secara paripurna, Masyumi goyah. NU memutuskan keluar dari Masyumi pada sekitar 1952 akibat -konon- masalah kursi DPR dan kedudukan menteri agama.

Di era Orde Baru, Soeharto membentuk sistem kepartaian yang baru. Partai yang berhak hidup dan dapat ikut pemilu hanya PPP, Golkar, dan PDI. Umat Islam bersatu dalam wadah PPP yang merupakan fusi dari NU, MI, PSII, dan Perti. Tapi, jangankan memenangkan pemilu, PPP malah ditinggalkan NU yang kembali ke khittah sebelum menjadi pesaing Golkar yang ditakuti.

Di masa reformasi, setali tiga uang, bahkan lebih parah lagi. PPP, PAN, PKS, PKB, PBB, PBR, atau PKNU, merupakan simbol kegagalan umat dalam menyatukan dirinya pada tataran politik. Jangankan berpikir untuk bersatu, mereka bahkan serasa lebih nyaman untuk bercerai berai.

”Kalau tahu seperti itu, kenapa masih pilih partai Islam, Mbah?” tanya saya agak penasaran.

”Memangnya aku harus pilih apa?” Mbah Tirto balik bertanya.

”Partai nasionalis mungkin…”

Mbah Tirto tertawa terkekeh mendengar saran saya. Agak lama. Setelah tawanya mereda, ia bersuara lantang.

”Sama saja. Baca saja sejarah partai nasionalis di negeri ini. Mereka tak beda jauh dengan partai-partai Islam. Mulanya bersatu, tapi kemudian berpecah…”

Saya terkejut dengan pernyataan Mbah Tirto. Benarkah demikian? Bila demikian, untuk apa partai nasionalis ataupun partai Islam didirikan? Apa gunanya mereka bertempur dalam pemilu? Apakah sekedar memenuhi legalitas negeri demokrasi? Bagaimana dengan cita-cita bangsa? Harapan rakyat? Bingungkan!!!!

Ah, jangan-jangan, orang-orang seperti Mbah Tirto sebenarnya memilih dalam pemilu juga hanya sebatas prasyarat pengakuan dirinya sebagai warganegara Indonesia. Mereka memilih, tapi tanpa semangat! Mereka memilih, namun tanpa harapan! Mereka memilih zonder cita-cita! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: