ISTRI SAYA SAINGAN SAYA

”Anak-anak sudah tidur ya, Mas?”

Aku, istri, dan kedua anakku

Sebuah suara lembut muncul dari balik pintu setelah sebelumnya terulur salam. Istri saya.

”Baru saja. Mereka tadi sudah belajar kok, ” jawab saya.

Jam sudah merapat di angka sembilan. Semburat rasa lelah mencengkeram keras istri saya. Apalagi tiga tas berada dalam genggaman tangannya. Satu tas berisi segala macam perlengkapan kantor, seperti buku kecil, tempat dan alat alat-alat tulis, ponsel, ditambah segala macam peralatan perempuan, bedak, tisu, dan yang semacamnya. Tas lain berisi laptop bermerk Jepang yang ditentengnya pergi-pulang kantor. Tas terakhir tas plastik hitam, entah apa isinya.

Istri saya meletakkan barang-barang bawaannya. Ia lalu menuju ke ruang tengah. Pada sebuah kursi panjang di depan televisi ia merebahkan dirinya. Dalam hitungan detik matanya sudah terpejam. Mulutnya terkatup rapat. Rasa lelah yang begitu mendera membuatnya segera terlelap.

”Dik, airnya sudah panas dari tadi….”

Tidak ada sahutan. Istri saya sudah larut dalam mimpinya. Baju seragam berwarna krem milik sebuah departemen masih melekat di badan. Kerudung putih panjang tetap menutupi kepala dan rambutnya. Sepasang kaos kaki putih masih terpasang di kedua kakinya.

Saya pandangi wajahnya dalam-dalam. Ah, betapa lelah ia mengarungi bahtera perkawinan bersama saya. Pagi hari setelah sholat subuh, ia mempersiapkan semuanya. Ditemani pembantu yang masih setia, istri saya menyiapkan semuanya buat anak-anak; sarapan pagi, baju dan celana sekolah, buku-buku pelajaran yang harus dibawa, dsb.

Sesudah selesai, istri saya mempersiapkan dirinya sendiri untuk berangkat ke kantor. Jam delapan biasanya ia berangkat. Tapi, sebelumnya ia sudah bersibuk ria. Kapan itu? Saat anak-anak sudah berangkat, ia akan asyik dalam dunianya. Membuka laptop dan mengetik, membaca dan mengoreksi catatan kertas. Cukup waktu satu setengah jam untuk melakukan semuanya itu.

Apa yang harus saya lakukan terhadap istri saya yang sudah sedemikian keras menemani saya?

Ah, saya tidak ingin muluk-muluk. Saya hanya ingin menjadikan istri saya sebagai saingan saya. Saingan dalam berlomba-lomba berbuat kebaikan dan kebajikan bagi keluarga. Kalau istri saya mahir memasak di dapur, saya mesti tidak malas belajar darinya. Belajar bikin tumis kangkung, sayur asem atau sop, dan semacamnya. Andai istri saya terbiasa menyapu lantai, saya mesti meneruskannya dengan mengepel lantai. Kalau istri saya terampil mengurus anak, kenapa saya mesti malas untuk memandikan anak-anak?

Alhamdulillah… saya sudah terbiasa dengan itu semua. Saya banyak belajar dari ayah dan ibu saya dalam mengelola rumah tangga. Ayah dan ibu saya sama-sama bekerja. Ayah dan ibu saya sama-sama mengurus anak-anaknya. Ayah dan ibu saya sama-sama memberi pelajaran kepada anak-anaknya. Bahkan, sepertinya, tidak ada pekerjaan di rumah yang tidak dilakukan secara bersama-sama oleh ayah dan ibu saya.

Apa cita-cita ayah dan ibu saya?

Sederhana! Mereka ingin masuk surga bersama-sama!

”Mas, airnya sudah panas?” * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: