JANGAN PERNAH PANGGIL NAMANYA!

Pernikahannya belum lagi menginjak usia setahun. Namun, jangan ditanya berapa kali ia menampar istrinya (dan ditampar istrinya). Mungkin puluhan kali atau malah ratusan kali. Entahlah, saya sendiri tidak tahu. Saya tidak terlalu peduli dengan semua kejadian di dalam rumah tangganya.

Sebelum menikah, ia pacaran dengan istrinya hampir tujuh tahun; sebuah waktu yang sebenarnya lebih dari cukup untuk mengenal calon pasangannya. Tapi, itulah Tito dan Anti. Nasib pernikahan mereka berdua seolah berada di ujung tanduk.

”Kami benar-benar tidak paham, kenapa setelah menikah, kami malah seperti ini. Padahal, selama pacaran kami tidak pernah saling tampar. Jangankan menampar, bertengkar pun kami sangat jarang,” keluh Tito, anak dari seorang teman yang sudah saya anggap seperti adik sendiri.

Mendung menggelayut dari matanya. Saya tahu itu. Di teras depan rumah saya, hujan gerimis seperti mengantar curahan hati Tito yang tidak pernah berhenti. Ia cerita segalanya. Dengan nada yang terus berubah-ubah, kadang sedih, kadang kecewa, kadang marah.

Saya membiarkan Tito berbicara sepuas hatinya. Namun, saya sebenarnya sudah menangkap inti masalahnya. Konflik! Ya, konflik Tito-Anti, yang suami-istri. Konflik yang sebenarnya sangat biasa. Karena memang tidak ada suami atau istri yang tidak pernah tidak terlibat konflik dengan pasangannya. Maknanya, konflik memang sebuah keniscayaan dalam rumah tangga, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana menyelesaikan konflik itu.

”Bagaimana kamu memanggil istrimu setelah menikah?” tanya saya kepada Tito. Sengaja saya bertanya seperti itu karena dalam pandangan saya, konflik suami atau istri biasanya bermula dari pudarnya rasa hormat seorang suami terhadap istri atau sebaliknya.

Tito terkejut dengan pertanyaan saya. Ia seperti bingung, tidak paham, ke mana arah pertanyaan saya.

”Maksudnya?”

”Iya. Aku tanya, kamu panggil apa istrimu selama ini?”

”Ya Anti. Wong sejak dulu aku memanggil dia, Anti. Orang lain kalau memanggil dia juga Anti. Tidak ada orang lain yang memanggil namanya selain nama itu.”

”Kalau Anti memanggil kamu apa?”

”Mas.”

”Kenapa kamu bedakan? Kenapa kamu memanggil istrimu Anti, sedangkan kamu dipanggil dia dengan panggilan Mas, bukan Tito saja?”

Tito tak menjawab. Kepalanya digaruk-garuk. Saya tersenyum melihat polahnya.

”Begitulah laki-laki. Maunya minta dihormati dan dilayani. Tapi, kalau disuruh menghormati dan melayani istrinya, jawabnya ogah! Bagaimana rumah tangga akan harmonis kalau kedudukan suami dan istri sudah tidak seimbang sejak di awal rumah tangga dibentuk? Pasti kisruh terus….”

Tito manggut-manggut. Saya tidak tahu, apa ia paham atau pura-pura paham.

”Jadi, Anti harus memanggil aku, Tito supaya seimbang?”

Saya menggelengkan kepalanya. Saya mengutuk kebodohannya.

”Cobalah, kamu panggil nama istrimu dengan lebih hormat. Kalau istrimu sudah menghormati dan menghargai kamu dengan panggilan Mas, kenapa kamu tidak memanggil istrimu dengan panggilan sepadan. Dik, misalnya. Saya yakin, kalau kalian sudah memanggil pasangan kalian dengan panggilan yang terhormat, rasa kasih dan sayang, menghargai dan menghormati akan muncul dengan sendirinya.”

Tito kembali manggut-manggut. Saya yakin, kini dia mulai paham. Wajah dan senyum yang mengembang menjadi pertanda. Namun, memandang wajah Tito otak saya seketika tergerak untuk membandingkan rumah tangganya dengan rumah tangga adik saya.

Adik saya menikah tanpa pacaran. Ia hanya dikenalkan dengan istrinya melalui perantaraan orang yang sangat dipercayainya. Kini, mereka begitu menikmati indahnya bunga-bunga perkawinan. Saat mereka menikah, adik saya memanggil istrinya dengan sebutan ”dik”. Sebaliknya, istrinya memanggil adik saya dengan sebutan ”mas”.

Ketika anak pertama lahir, mereka meninggalkan panggilan ”dik” dan ”Mas” serta menggantinya dengan sebutan ”Umi” dan ”Abi”. Saat aku tanya, kenapa kalian menggunakan panggilan ”Umi” dan ”Abi”, bukan ”bapak-ibu” atau ”ayah-bunda” atau tetap ”mas-dik”. Mereka menjawabnya.

”Ada beban yang kami pikul dengan panggilan itu. Kami memanggul nilai-nilai Islam, bukan Arab. Di sana ada penghormatan, kasih sayang, kesetaraan, juga pertanggungjawaban. Kepada Sang Maha Tunggal.”

Saya tersenyum. Saya menghargai keyakinannya. Saya berdoa, semoga mereka berbahagia. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: