KEBABLASAN

Kata kebablasan sepengetahuan saya berasal dari bahasa Jawa, kebablasen. Kata itu berasal dari kata bablas yang mendapat awalan ke dan akhiran an. Dalam bahasa Indonesia, kata itu memiliki arti terus, hilang, atau mati.

Kalau Anda dari Jakarta hendak pergi ke Cibinong, tapi pada kenyataannya Anda malah sampai di Bogor, maka Anda pantas untuk mengatakan hal itu dengan kalimat. “Ah, aku bablas sampai di Bogor. Padahal aku cuma mau ke Cibinong.” Kata bablas pada kalimat di atas bermakna terus atau melewati batas.

Jika Anda mempunyai cukup tabungan di bank untuk membeli sebuah rumah mewah, tapi tiba-tiba pejabat di bank itu menggelapkan uang Anda, maka Anda berhak untuk berkata, “Sontoloyo! Duitku bablas gara-gara ulah pejabat bank itu!” Kata bablas di situ bermakna hilang atau lenyap.

Bila Anda bersikeras naik ke puncak Gunung Sindoro di kawasan Temanggung, Jawa Tengah, padahal cuaca tidak memungkinkan, maka jangan kaget jika sang juru kunci Gunung Sindoro berkata keras kepada Anda. “Kalau Sampeyan sampai bablas, jangan salahkan saya!” Kata bablas yang diucapkan sang juru kunci bermakna mati.

Itu semua kata-kata yang umum dalam keseharian cara berbahasa kita. Namun, pahamkah Anda dengan penggunaan kata kebablasan yang sering disuarakan para elit politik kita dalam menyampaikan pendapatnya? Lihatlah contoh ucapan berikut ini!

– Demokrasi di negeri kita sudah kebablasan.
– MPR sudah kebablasan dalam melakukan amandemen UUD 1945.
– Kebebasan pers di Indonesia kebablasan.

Jujur, saya kadang-kadang “terpukau” dengan penggunaan kata kebablasan yang disampaikan para elit politik kita. Mereka seperti malas untuk berpikir lebih dalam tentang makna kata sebelum mereka mengucapkannya. Mengapa demikian?

Karena saya merasakan bahwa penggunaan kata kebablasan dari para elit politik kita seperti memiliki dua nuansa. Pertama, mereka berusaha menunjukkan bahwa orang lain telah berbuat keliru, sedangkan dirinya benar. Kedua, mereka seolah ingin mengukuhkan bahwa posisi dirinya sudah pas (sesuai aturan norma dan nilai tertentu), sedangkan orang lain, tidak.

Namun, ironisnya, mereka sendiri sebenarnya telah melupakan satu hal, yakni bahwa mereka sesungguhnya tidak terlalu memahami bagaimanakriteria sebuah persoalan dinilai kebablasan. Apa ukurannya? Asal perasaan mereka sudah meyakini ada hal yang tidak pas, mereka langsung saja bersuara.* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: