KENIKMATAN PUNCAK

istri dan mertuaku

istri dan mertuaku

Seringkali di tengah malam, ketika sepi menyergap, rasa lapar mendera tanpa tertahan. Untuk menghilangkannya, saya bukan berkeinginan mencoba kembali menu masakan yang sudah dimakan di sore hari. Saya juga tidak berharap dapat menemukan tukang bakso, mie goreng, atau siomay, yang lewat di depan rumah.

Malam seperti itu, saya hanya ingin mencicipi mie instan! Ya, hanya mie instan! Mie buatan sendiri! Racikan sendiri! Makan sendiri! Ah, betapa nikmatnya mie instan dimakan di tengah malam ketika istri dan anak-anak sudah berangkat ke peraduan untuk tidur. Bebas! Tanpa diganggu! Saya dapat memuaskan naluri masak dan makan sekaligus tanpa takut ada ”makhluk pengganggu”.

Saya bebas meracik mie instan dengan tambahan apa saja. Bakso bulat yang selalu tersedia di kulkas. Sosis merah dipotong kecil-kecil nan menggiurkan. Sayur cesim atau kangkung segar yang hijau. Tomat atau cabe rawit yang dibelah demi kelengkapan rasa. Wow dahsyat!

”Sreng! Sreng!! Sreng……!!!”

Suara bawang putih bercampur minyak yang menggoda. Harum. Semerbak. Maka segala racikan bahan yang sudah dipersiapkan, terjun ke penggorengan tanpa ampun. Benar-benar menggoda! Tanpa terasa lidah dan mulut saya sudah basah oleh air liur yang datang begitu tiba-tiba. Tanpa mampu ditahan.

”Ingat Mas, jangan lupa telur! Telur!”

Begitu biasanya istri saya mengingatkan bila saya sedang membuat mie instan untuk anak-anak. Alasan istri saya, telur adalah menu wajib sebagai bahan campuran mie instan. Tanpa telur, kenikmatan mie instan akan hilang. Maka jelas, kali ini saya tidak akan lupa dan tidak akan pernah lupa.

”Oh tidak! Tidak, istriku! Saya tidak akan lupa dengan telur. Bahkan tidak hanya satu. Dua! Saya akan menggoreng dua telur. Satu telur untuk campuran mienya. Satu telur lagi untuk didadar atau diceplok sebagai hiasan di atas mienya.”

Sungguh! Saya benar-benar ingin mewujudkan kebebasan berekspresi yang saya miliki sebebas-bebasnya. Kalau seniman bicara kebebasan berekpresi dalam seni, itu biasa. Jika politisi berucap kebebasan berekspresi dalam politik, itu juga sangat biasa. Tapi, kalau seorang pria yang jauh dari piawai memasak mempraktikkan kebebasan berekspresi dalam meracik masakan, itu baru luar biasa. Bukankah meracik masakan, kendati hanya sekadar mie instan, juga merupakan wujud kebebasan berekspresi?

Nyam! Nyam!! Nyam!!!

Asap mulai mengepul dari mangkok dengan bau sedap yang tak terbendung. Di malam yang nyenyat, dingin, dan tanpa gangguan; semangkok mie instan menjadi penumbuh nikmat. Tak tertandingi! Bahkan oleh jenis makanan asing, semacam pizza, spageti, hokben, ayam goreng kentucky, atau yang lainnya. Adakah makanan selezat mie instan yang dimasak sendirian, dimakan sendirian, dan dalam suasana kesendirian?

Saya larut dalam kenikmatan yang menyeluruh. Utuh. Namun, saya tak mampu mengidentifikasi apa yang menjadi faktor dominan dari kenikmatan yang puncak itu. Mie instankah? Situasi malamkah? Atau malah kebebasan berekspresi saya untuk mengolah makanan sejenis mie instan? Hanya kini saya percaya; pemasak, jenis masakan, dan situasi saat menikmati masakan memang menjadi faktor paling penting dalam keberhasilan memuaskan nafsu perut.

”Mas, sisakan sedikit ya mienya. Aku kepingin…”

Suara istri saya memecah kebisuan yang sepi. Degh!!! Saya terkejut. Saya kaget. Seiring dengan itu, kenikmatan puncak yang sedari tadi bersemayam, hilang musnah. Sungguh tidak berbekas. Saya berusaha keras mencarinya. Saya berusaha sekuat tenaga agar kenikmatan puncak itu bersedia kembali.

”Dik, saya buatkan mie lagi saja ya?” tawar saya.

”Malas ah. Kebanyakan. Sisakan sedikit kenapa sih…” jawab istri saya.

Saya diam. Dengan separuh ikhlas, saya sodorkan mie instan yang sudah tidak lagi utuh itu.

Shuuuup….ah!!! Shuuuuup…….ah!!!!!!

Tidak dinyana, istri saya menikmati mie instan itu dengan lahap. Amat lahap. Ia bahkan menghabiskan mie instan itu tanpa sisa. Benar! Tanpa sisa.

Sesaat saya terpana. Sejenak saya takjub. Namun, saya lalu tersadar, kenikmatan puncak itu memang sudah tidak mungkin kembali ke pangkuan saya. Bukan karena apa-apa. Tapi, karena ia sudah berpindah dan bersemayam di hati istri saya. Kenikmatan puncak itu bahkan seperti melambaikan tangan, tersenyum, lalu berkata,

”Kamu dan istrimu ibarat satu tubuh. Kalau kamu merasakan nikmat, jangan lupa, bagilah rasa nikmat itu kepadanya. Kalau kamu tidak mau, maka pasti, aku akan mendatanginya. Dengan caraku sendiri….”

Saya tertunduk. Saya malu. Saya benar-benar malu. * * *

2 Responses

  1. seperti suamiku Akbar Arfian Iskandar yg ga mau makan di luar tanpa istri
    pernah,d ajak temenya mkn bakso…. Aroma bakso membuat napsu makanya naik,tapi dia memilih menyimpan uangnya untuk makan bakso bersamaku next time…..
    Really,i lav my husband…..dia tdk pernah lupa untuk selalu berbagi dg istri…….

    Wid lav ….Wiwid

    • Berbahagialah Anda, Mbak Wiwid yg memiliki suami seperti dia. Moga menjadi keluarga sakinah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: