KYAI HIKMAH

Setiap hari Jumat saya melaksanakan sholat Jumat. Ini wajib! Kalau Allah tidak mewajibkan, mungkin saya tidak akan melaksanakan sholat Jumat. Saya terbiasa melaksanakan sholat Jumat di masjid yang tidak jauh dari kantor. Masjidnya tidak mewah, bahkan sederhana untuk ukuran masjid-masjid yang ada sekarang ini.

Ada yang khas dari sholat Jumat di masjid itu. Khotib dan imamnya itu-itu saja, tidak pernah berganti. Ada dua khotib yang menyampaikan khotbahnya. Satu orang masih muda, yang seorang lagi usianya mungkin beberapa tahun di atas yang pertama. Selain itu, khotbah yang disampaikan selalu menggunakan bahasa Arab. Istilah ”bahasa Arab” di sini lebih tepat membaca tulisan berbahasa Arab. Karena memang demikian kenyataannya.

Suatu hari saya menyempatkan diri duduk santai sebentar di ruang OB (Office Boy). Saya tahu, Dadang, salah seorang OB yang ada, amat mengenal para khotib yang biasa berkhotbah di masjid itu. Wajar, karena Dadang adalah penduduk di sekitar masjid dan bertetangga dekat dengan mereka.

”Dang,” kata saya membuka cakap. ”Kamu kenalkan dengan bapak-bapak yang suka memberikan khotbah setiap Jumat di masjid?”

”Ya kenal, Pak. Mereka tinggal di sekitar sini kok. Malah tidak jauh dari masjid, ” jawab Dadang lugas.

”Siapa mereka sebenarnya?”

Dadang lalu menyebutkan kedua nama khotib itu. Tak hanya menyebutkan nama, Dadang juga menceritakan siapa, apa, dan bagaimana mereka. Cerita Dadang, kedua khotib itu adalah orang-orang hebat. Mereka berdua memiliki ilmu yang tinggi. Mereka mumpuni. Tapi, khotib yang lebih tua dinilai para warga di situ lebih tinggi ilmunya. Tak heran bila khotib yang lebih tua selalu menjadi rujukan pengetahuan bagi khotib yang lebih muda, juga bagi para warga di sekitar.

”Ngomong-ngomong, pekerjaan tetap mereka berdua apa, Dang?” tanya saya.

Dadang seperti kaget dengan pertanyaan saya yang kedengarannya sangat polos. Naif. Namun, Dadang menjawabnya juga. Bahkan dengan senyum yang ramah nan lembut, meski bagi saya senyuman Dadang tampak seperti mengejek.

”Pak, apa perlunya kyai yang sudah tinggi ilmunya mempunyai pekerjaan?”

Ha!!! Saya betul-betul kaget mendengar ucapan Dadang. Amat kaget. Bahkan seolah tak percaya. Seketika ucapan Dadang menyeret saya ke rentetan pertanyaan yang mengalir deras ke kepala. Saya berusaha menampungnya. Satu persatu.

”Dang, kalau tak punya pekerjaan, bagaimana Pak Kyai itu hidup? Bukankah Pak Kyai memerlukan sandang, pangan, dan papan? Bagaimana Pak Kyai membiayai hidup dan kehidupan istri dan anak-anaknya? Dari mana Pak Kyai mendapatkan rezekinya? Bagaimana Pak Kyai memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan?”

Dadang tidak kaget dengan serbuan pertanyaan saya. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan hal itu. Kata Dadang selanjutnya.

”Pak, karena kedalaman akhlak dan jiwanya, Allah telah mengaruniai Pak Kyai dengan ilmu hikmah. Dengan ilmu itu Pak Kyai mampu mendapatkan semuanya. Sandang, pangan, papan. Semuanya. Kenikmatan dunia? Itu mah sudah lewat. Pak Kyai sudah kenyang. Tugas Pak Kyai sekarang ini tinggal membimbing umat.”

”Tapi, bagaimana cara kerja ilmu itu hingga pak kyai tidak perlu pekerjaan untuk mendapatkan rezekinya?”

Dadang menatap saya sungguh. Saya tidak tahu arti tatapannya. Mungkin Dadang sedang mengukur seberapa dalam kejujuran saya dalam bertanya.

”Bapak tertarik?” tanya Dadang dengan sorot mata mengundang. Seakan tanpa disadari, saya mengangguk lemah.

”Kalau Bapak mau, kita belajar sama-sama. Saya juga lagi belajar…”

Dadang telah memberikan pekerjaan rumah yang sangat besar kepada saya. Ilmu hikmah! Ilmu yang mampu membuat manusia memperoleh kenikmatan tanpa bekerja. Adakah itu? Saya kini terus mencari informasi tentang ilmu itu di buku-buku, internet, majalah, atau media lain. Siapa tahu saya menemukan dan bahkan mampu menguasainya. Namun, saya paham, kalau Dadang keluar dari pekerjaan di kantor, ia pasti telah memperoleh ilmu hikmah itu. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: