LUKI PELIT BIN BAKHIL

Hari Sabtu siang. Irfan, anak saya yang pertama, pulang dari sekolah dengan sikap yang lain dari biasanya. Mukanya cemberut. Mulutnya manyun. Tidak sedap dipandang. Jelas terlihat, Irfan sedang tak enak hati. Mungkin marah, mungkin jengkel, mungkin kecewa. Entah terhadap apa dan kepada siapa. Saya tidak tahu.

Irfan tidak mengganti seragam putih-merah yang dikenakannya. Setelah melempar tas sekolahnya ke sembarang tempat, ia langsung tiduran di ruang tengah di depan televisi. Wajahnya tak berubah. Manyun terus. Kartun ”Avatar” yang ditayangkan sebuah stasiun televisi tak mengubah hatinya.

”Kenapa, Mas kok pulang sekolah langsung gitu?” tanya saya seraya bergegas mendekatinya.

Irfan tak menyahut. Matanya tetap tertuju ke layar televisi. Saya sedikit penasaran. Ego seorang bapak yang berkuasa mulai muncul di kedalaman hati saat melihat perhatian tulus saya sungguh tidak digubris. Sedikit jengkel memang. Saya lalu membombardir Irfan dengan sejumlah perkiraan.

”Nilai ulanganmu jelek ya? Kamu pasti dimarahi pak guru di sekolah? Atau bertengkar dengan teman? Ditinggal mobil jemputan? Lupa diberi uang saku sama ibu?”

Irfan menggelengkan kepala atas semua dugaan saya. Kali ini saya bersyukur, ia mulai memperhatikan pertanyaan saya. Bahkan saya lebih bersyukur lagi ketika Irfan membuka suara.

”Mas jengkel sama Luki, Pak….”

Ah, Luki! Lagi-lagi Luki! Saya mulai paham atas sikap Irfan. Luki, ya Luki. Irfan sangat sering bercerita tentang Luki, teman satu kelasnya itu. Cerita Irfan, Luki adalah teman yang paling menyebalkan. Hampir tidak ada teman yang menyukai Luki. Di kelas, Luki selalu sendirian. Tak ada teman yang mau menyertai, walau hanya untuk sekadar duduk menemani.

Kata Irfan, watak pelit Luki adalah penyebabnya. Luki adalah anak yang tidak suka berbagi dengan teman-temannya. Ia suka sekali diberi, tapi ia malas memberi. Ia suka sekali meminta, tapi ia marah jika diminta. Karena wataknya itu, teman-temannya sampai menjuluki Luki Si Pelit bin Bakhil. Padahal Luki bukan anak orang sembarangan. Ayahnya seorang saudagar yang cukup dikenal. Ibunya seorang pejabat di sebuah departemen. Luki selalu berlebih dalam segalanya, di sekolah.

”Kenapa memang dengan Luki?”

Irfan bangkit dari tidurannya. Ia kini duduk santai. Wajahnya tetap menghadap ke televisi. Tapi, saya tahu, Irfan sangat ingin menumpahkan perasaannya.

”Coba, bagaimana Mas nggak jengkel sama Luki. Dengan seenaknya sendiri Luki minta bekal kepunyaan Mas yang sudah disiapin Ibu. Padahal, Mas tahu, isi bekal itu risoles. Bapakkan tahu, risoles itu makanan yang paling Mas sukai. Mana boleh Luki yang pelitnya minta ampun itu diberi risoles kesukaan Mas?!”

Saya tidak mencegah Irfan bercerita. Saya malah berharap ia terus bercerita.

”Eh, sudah dibilang Mas keberatan, Luki masih terus minta. Malah sambil maksa-maksa segala. Mas jadi jengkelkan. Mas marah. Hampir saja Mas pukul dia. Untung teman-teman memisahkan. Lalu, semua teman marah kepada Luki. Mereka membela Mas. Pelit sih Luki….”

Saya terpaku. Mendengar cerita Irfan, saya tidak bingung dengan Irfan, anak saya itu. Tapi, saya malah bingung dengan diri saya sendiri. Sebagai seorang ayah yang terus belajar bijak, saya tahu, tidak patut Irfan berbuat demikian. Namun, sebagai manusia, saya paham dengan sikapnya. Sebab bagaimana mungkin kita tidak marah dengan seseorang yang dengan seenaknya sendiri meminta sesuatu yang paling kita sukai. Apalagi dengan maksa-maksa. Apalagi orang itu terang-terang kita benci.

”Mas, Bapak sekarang punya akal bagaimana cara menghadapi Luki,” kata saya seolah percaya diri. Padahal saya sadar, saya seperti berbohong dengan diri saya sendiri.

”Bagaimana Pak, bagaimana?” sergah Irfan antusias.

”Sekarang Mas mesti mengubah sikap Mas sendiri. Lupakan kalau Luki itu pelit. Lupakan kalau Luki itu tidak disukai teman-teman. Sekarang Mas harus menganggap Luki seperti teman-teman yang lain. Luki adalah teman yang menyenangkan. Luki adalah teman yang enak. Nah, kalau Mas punya makanan, beri si Luki makanan itu. Kalau Luki sendirian, temani dia. Jangan biarkan ia sendirian. Bapak yakin, lama kelamaan Luki sadar dan pasti ia akan berubah menjadi teman yang benar-benar menyenangkan.”

Irfan manggut-manggut mendengar saran saya. Saya sendiri tidak tahu apakah ia paham dengan saran saya atau tidak. Saya juga tidak tahu apakah ia akan melaksanakan saran saya atau tidak. Bahkan saya sendiri tidak tahu apakah saya berada dalam kebenaran atau tidak. Karena saya sebenarnya juga sedang belajar untuk memberi sesuatu yang saya cintai kepada orang yang tidak saya sukai. Bukankah sikap ikhlas tertinggi adalah saat kita mampu memberikan sesuatu yang paling kita cintai terhadap orang yang paling kita benci? * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: