MANG UJANG

Kami memanggilnya Mang Ujang. Usianya sudah setengah abad. Ia biasa datang setiap hari Sabtu atau Minggu pagi saat kami sekeluarga santai-santai di rumah. Libur akhir pekan. Muncul tiba-tiba, menyunggingkan senyum sekejap, lalu hilang setelah berucap terima kasih. Begitu setiap Sabtu atau Minggu-nya. Ya, Mang Ujang memang peminta-minta langganan rumah kami.

Sudah empat kali Sabtu atau Minggu Mang Ujang tidak muncul yang berarti sudah satu bulan ia tidak menengadahkan tangannya ke rumah kami. Istri saya sampai tak bisa menyembunyikan keresahannya. Memang bagi keluarga kami, kedatangan Mang Ujang, juga empat perempuan peminta-minta yang lain setiap hari Sabtu dan Minggu, ibarat rezeki yang turun dari langit. Tuhan telah memberi jalan kepada mereka untuk membersihkan rezeki yang kami peroleh.

”Mas, Mang Ujang kok nggak pernah datang lagi ya?” tanya istri saya dengan tutur bahasa lembut. Seperti biasanya.

Panjang Umur! Belum selesai istri saya membicarakan dirinya, Mang Ujang sudah muncul di hadapan kami berdua. Aneh! Mang Ujang datang tidak seperti biasanya. Wajahnya kali ini terlihat sangat kuyu. Memelas. Seperti ada yang membebani pikirannya. Entah apa.

”Eh, sebentar ya, Mang….”

Istri saya hendak berbalik masuk ke dalam sekedar mengambil uang seribuan pada ”dompet umat’ yang biasa kami letakkan di atas lemari. Dompet umat? Ya, kami menyebutnya demikian karena uang yang ada di dompet itu merupakan uang yang khusus diperuntukkan bagi para peminta-minta, baik pengemis maupun peminta sumbangan.

Belum sempat istri saya berbalik, suara lirih Mang Ujang terdengar.

” Maaf, bu…”

Istri saya tertahan langkahnya.

”Ada apa, Mang?”

Mata Mang Ujang berkaca-kaca. Dalam hitungan detik mata Mang Ujang telah meluncurkan butiran-butiran air bening yang tidak mampu ditahannya. Lalu, bibir Mang Ujang bergetar. Mang Ujang menagis. Benar menangis. Sesenggukan. Istri saya terpaku melihat pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya itu.

”Eh, kenapa Mang?” tanya istri saya. Kebingungan seketika menyergap. Melihat itu, saya segera berdiri dan menghampiri mereka.

”Ada masalah ya Mang?” tanya saya menerka-nerka.

Mang Ujang mengangguk lemah. Rasa malu yang terlalu besar membuat Mang Ujang berusaha menahan tangisnya agar tidak lebih lama. Berhasil, meski air bening itu tetap membasahi wajahnya.

”Begini pak, bu. Saya mohon bantuan kepada bapak ibu. Bapak saya meninggal dunia kemarin. Istri saya sekarang masuk rumah sakit. Kalau bisa, saya ingin meminjam uang kepada bapak ibu. Dua puluh ribu saja, Pak…” tutur Mang Ujang tersendat.

Saya dan istri saya saling berpandangan. Saya dan istri tak tahu harus berbuat apa. Ucapan Mang Ujang tiba-tiba telah mengeruk sisi kemanusiaan kami. Juga pikiran-pikiran rasional kami. Keduanya seolah saling beradu.

Jujur, saya dan istri saya tidak terlalu mengenal siapa Mang Ujang. Aslinya dari mana? Di mana tempat tinggalnya? Berapa anaknya? Nah, itu saja saya tidak tahu, apalagi bila ditanya bagaimana latar belakang, sifat, atau watak Mang Ujang. Tentu saya lebih tidak tahu. Saya dan istri saya hanya mengenal Mang Ujang karena dia selalu datang setiap Sabtu atau Minggu ke rumah untuk meminta sedekah. Nama Mang Ujang itupun sebutan kami berdua.

”Kalau mau pinjam, kapan Mamang mengembalikannya?” tanya saya tiba-tiba, tanpa rasa bersalah.

Mang Ujang bingung dengan pertanyaan saya. Ia seperti tersudut. Ia tidak dapat menjawabnya. Saya tahu diri. Saya segera mengambil uang di kantong celana. Alhamdulillah… Ada uang lima ribuan!

”Mang, saya dan istri mohon maaf. Saya tidak bisa memberi bantuan pinjaman uang. Tapi, saya ada uang lima ribu. Nah, ini sekadar buat membantu kesusahan. Moga-moga cepat selesai masalahnya…”

Mang Ujang menerima pemberian uang saya. Ia membalikkan badan setelah mengucapkan beribu-ribu terima kasih.

Sebuah pertanyaan tiba-tiba menyergap saya. Salahkah saya karena tidak meminjamkan uang Rp.20.000 kepada Mang Ujang meski uang itu ada? Mang Ujang mungkin jujur dengan masalah dan kesusahannya. Namun, saya yakin, saya juga telah jujur dengan hati nurani saya sendiri.

Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar mengejutkan. Mang Ujang dipukuli di kompleks perumahan sebelah karena ketahuan mengambil hp milik seorang warga di situ. Kini, setiap mengenang Mang Ujang, saya merasa amat bersalah. Saya tidak tahu, apakah ia akam muncul lagi di depan rumah saya atau tidak. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: