MENOLAK UNDANGAN

Tubuhnya berpeluh. Wajahnya terlihat agak kusam. Seharian dia mengantar surat undangan pernikahan ke tetangga-tetangga dekat. Sendirian. Pak Kamil, lelaki yang sudah mendekati usia 60 tahun. Pensiunan pegawai negeri sipil di sebuah departemen. Bulan depan ia akan menikahkan anaknya yang pertama, Sari -tentu- dengan pria tambatan hatinya.

”Sudah selesai Pak Kamil?” tanya saya kepadanya sambil mengharap dia untuk sekadar duduk mengaso di teras rumah saya.

Pak Kamil tersenyum. Kepalanya menggeleng. Namun, tawaran saya untuk duduk mengaso ternyata diamininya. Ia melenggang ke teras rumah saya dan mengambil tempat duduk persis di samping saya.

”Ngopi, Pak?”

Pak Kamil kembali tersenyum. Kali ini saya paham makna senyumannya. Saya memanggil pembantu saya dan meminta ia membuatkan kopi untuk Pak Kamil. Tidak sampai lima menit, kopi itu sudah terhampar di hadapan Pak Kamil. Ia menyeruputnya pelan-pelan setelah saya persilakan.

Saya mulai membuka percakapan ngalor-ngidul.

”Kenapa Pak Kamil tidak menyuruh orang untuk mengantar surat undangan ini? Kan capek Bapak ke sana ke mari. Banyak lho Pak Kamil undangannya…” tegur saya melihat setumpuk undangan masih berada di tangan Pak Kamil.

Lagi-lagi Pak Kamil tersenyum. ”Memang capek, Mas. Tapi, rasa capeknya itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang saya rasakan kali ini. Akhirnya, Sari menemukan jodohnya. Bagaimanapun juga saya sempat khawatir dengannya.”

Pak Kamil memang berhak merayakan kebahagiaan itu. Sari, anak perempuan satu-satunya Pak Kamil, hingga menjelang 36 tahun belum menemukan jodohnya. Padahal dua adiknya yang laki-laki sudah mendahuluinya menikah. Sebagai orang tua, Pak Kamil tentu blingsatan. Apalagi sebagai ayah, Pak Kamil berkewajiban untuk menikahkan anak perempuannya.

”Jadi sekarang sudah plong nih…” canda saya.

”He…he… ya belumlah. Kalau sudah selesai semuanya, baru plong. Yah, termasuk mengantar semua undangan ini, ” jawab Pak Kamil masih tetap dengan senyum mengembang.

”Berarti tinggal sedikit udangannya…”

”Tidak juga. Ini malah ada yang balik undangannya. Dikasih undangan, menolak. Tidak mau menerima.”

Ha!!! Dikasih undangan, menolak?! Tidak mau menerima undangan pernikahan?! Saya kaget mendengar penuturan Pak Kamil. Ah, pasti Pak Kamil bercanda. Mana ada orang dikasih undangan perkawinan menolak. Malah biasanya orang paling senang kalau diundang dalam perhelatan perkawinan. Bahkan kalau kelupaan tak diundang, seseorang akan bertanya-tanya, kok saya tidak diundang? Kenapa ya? Apa sebabnya, sedangkan yang lain pada diundang?

”Ah, Pak Kamil bercanda…”

”Eh, bener. Saya tidak bohong. Buat apa saya bohong,” wajah Pak Kamil serius.

”Siapa orang itu?”

Saya memang penasaran. Sebab baru pertama kali ini mendengar ada orang yang menolak saat diundang hadir dalam pesta pernikahan.

”Pak Joko…” jawab Pak Kamil datar.

”Pak Joko? Pak Joko yang rumahnya di pojok jalan?”

”He-eh.”

Seketika dalam benak saya muncul bayangan Pak Joko. Lelaki berusia sekitar 50 tahun itu adalah warga baru di perumahan kami. Lima bulan yang lalu ia mengontrak rumah di pojok jalan bersama empat anaknya. Dua laki-laki, dua perempuan. Yang tertua bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu, sedangkan yang kecil masih duduk di sekolah dasar.

Gosip yang beredar, empat anak Pak Joko berasal dari rahim empat perempuan yang pernah menjadi istrinya. Istri yang pertama meninggal karena sakit. Istri yang kedua, ketiga, dan keempat; semuanya pisah karena bercerai. Kehidupan ekonomi rumah tangga Pak Joko ditopang oleh upah anaknya sebagai buruh. Pak Joko sendiri bekerja serabutan. Kadang jadi tukang betulin genteng, kadang jadi tukang bersih-bersih rumput.

”Apa sebabnya kok Pak Joko menolak undangan Pak Kamil?” tanya saya semakin penasaran.

”Dia tak menyebutkan alasannya. Dia hanya bilang, tidak mungkin bisa datang ke resepsi pernikahan anak saya. Jadi, daripada undangan itu mubazir, Pak Joko menyarankan kepada saya agar undangan itu diberikan saja kepada orang yang bisa hadir.”

”Aneh…”

”Pak Joko bilang, dia takut dosa. Sebab menghadiri undangan pesta perkawinan itu kan hukumnya wajib. Daripada menerima undangan, tapi tak bisa datang, lebih baik dia menolak undangan yang datang kepadanya. Jadi, Pak Joko selamat. Dia merasa tidak berdosa.”

”Pak Kamil diam saja?”

”Ya, awalnya saya tidak bisa menerima penjelasan Pak Joko. Saya paksa dia menerima undangan itu. Kalaupun dia tak datang, itu tidak menjadi masalah. Yang penting saya telah mengabarkan kebahagiaan saya kepada semua orang. Tapi, Pak Joko tetap tak bisa undangan saya. Ia ngotot menolak. Hampir ribut saya tadi dengan Pak Joko….”

Saya geleng-geleng kepala mendengar cerita Pak Kamil. Saya ingin tertawa, tapi juga trenyuh. Dalam hati, saya bertanya-tanya, benarkah tindakan Pak Joko yang menolak undangan resepsi perkawinan anak Pak Kamil? Benarkah sikap Pak Kamil yang memaksakan kehendak terhadap Pak Joko? Mengapa Pak Joko dan Pak Kamil menyeret undangan perkawinan ke persoalan wajib atau haram?

Ah, ruwet saya bila ikut memikirkan Pak Joko dan Pak Kamil. Padahal, bisa jadi persoalan mereka hanyalah perkara kecil. Yah… masalah kado atau sumbangan pernikahan. Tapi, mungkin lho… ini mungkin. Huuus!!! Suudzhon kamu! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: