MIN AYNA LAKHA HADZA?

”Yah, apa rumah ini sudah milik kita sendiri?” tanya si sulung, Irfan sambil asyik membolak-balik buku sains yang tengah dibacanya. Meski bertanya, Irfan seperti cuek dengan pertanyaan yang diajukannya.

Malam itu, saya, istri saya, dan kedua anak saya lagi duduk santai di ruang tengah. Acara televisi yang terkesan jauh dari menarik membuat kami semua larut dengan dunianya sendiri. Saya di depan internet, istri saya membuka laptop, dan si kecil Afif asyik belajar mewarnai.

”Alhamdulillah…. meski kecil, rumah ini sudah milik kita. Ayah dan ibu membeli rumah ini dengan kredit. Sekarang sudah lunas,” jawab saya ringan.

Irfan terlihat manggut-manggut menerima. Dari mulutnya yang mungil keluar lagi sebuah pertanyaan.

”Kalau mobil yang di depan, itu juga milik kita, Yah?”

”Alhamdulillah…. ayah dan ibu sudah mampu membelinya. Meski bukan mobil baru, tapi mobil itu telah mengantarkan kita semua mudik ke Jawa, belanja ke mall, juga sekadar rekreasi ke Taman Buah Mekarsari,” jawab saya lagi.

Irfan kembali manggut-manggut. Tapi, lagi-lagi ia mengajukan pertanyaan yang kali ini –mau tidak mau- mulai membuat kening saya berkerut.

”Kalau rumah dan tanah yang sering kita kunjungi di dekat IPB, itu juga milik kita sendiri ya, Yah?”

”Alhamdulillah…. Itu juga milik kita sendiri. Ayah dan ibu membelinya dengan harga yang cukup murah dari orang kampung di sana,” jawab saya meski mulai ada sedikit rasa curiga.

Saya benar-benar tidak tahu maksud pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi, saya akui, tiba-tiba malah tebersit rasa bangga bahwa saya dapat menjawab pertanyaan anak saya itu dengan sempurna. Di usia perkawinan kami yang menginjak 11 tahun, saya dan istri sudah berhasil memiliki rumah, mobil, dan tanah yang cukup luas. Saya bersyukur kepada-Nya.

Aku, istri, dan dua anakku. Irfan sedang bergaya.

Aku, istri, dan dua anakku. Irfan sedang bergaya.

Suasana hening sesaat. Tiba-tiba….

”Tapi, Yah, dari mana semua itu Ayah dapatkan?”

Degh!!! Kali ini saya terperangah oleh pertanyaan si sulung itu. Benar-benar terperangah! Saya segera beringsut dari duduknya. Saya hadapkan wajah saya ke mukanya. Rupanya, Irfan juga seperti sedang menunggu reaksi saya.

”Mas, ayah dan ibu membeli itu semua dari gaji yang diperoleh setiap bulan. Gaji ayah dan ibu digabung. Nah, gabungan gaji ayah dan ibu itu buat membeli rumah, mobil, juga tanah itu…” kata saya pelan dan berusaha sejujur mungkin.

Irfan seperti tak puas. Matanya menatap saya. Saya akui pandangan Irfan memang polos, tapi pandangan itu seolah menyelidik.

”Apa gaji ayah dan ibu cukup untuk membeli itu semua?” tanya Irfan tanpa rasa bersalah.

Saya agak panas. Saya mulai merasakan ”ketidakenakan” dari keusilan Irfan, anak saya sendiri. Namun, saya sadar, sekali saya berusaha untuk tidak jujur kepada anak, maka saya pasti akan merasakan akibatnya di kelak kemudian hari.

”Mas, gaji ayah dan ibu tentu saja tidak cukup untuk membeli itu semua….”

Irfan kaget. Tapi, saya tidak ingin kekagetan itu berlanjut. Karena itu, saya segera menutup kegelisahannya.

”Tapi, ayah memiliki sedikit keterampilan menulis. Ayah sudah menulis beberapa buku. Dari situ ayah punya sedikit uang tambahan. Ibu pun demikian. Ibu rajin menabung dari gajinya. Setiap bulan ibu menyisihkan gajinya untuk ditabung. Ayah dan ibu juga meminjam uang di bank. Setiap bulan ayah dan ibu mencicil pinjamannya…”

”Oh….”

Bibir kecil Irfan membelah. Kali ini senyumnya mengembang.

Saya tidak tahu apakah Irfan benar-benar puas atau tidak dengan jawaban saya tadi. Justru saya akui, saya seperti tersentil oleh pertanyaannya. Dalam hati saya hanya bisa berkata,

“Nak semua harta yang Ayah dan Ibu peroleh Insya Allah halal dan thoyyib. Ayah dan Ibu tidak ingin kamu dan adikmu menjadi besar karena rezeki yang tidak berkah”.

Saya memandang Irfan dalam-dalam. Dalam pandangan saya, wajah Irfan tiba-tiba serupa malaikat langit yang sedang bertanya,

“Min ayna laka haadza, ya akhi? Dari mana semua itu kamu dapatkan, saudaraku?” * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: