ORANG BAIKKAH SAYA?

Saya dan Pak Jeri menyaksikan dari dekat prosesi pemakaman Kang Said. Senja itu. Saat jenazah diturunkan pelan-pelan ke liang lahat. Lalu, sedikit demi sedikit tanah hitam di dekat makam menutup keseluruhan tubuh Kang Said hingga penuh, menyatu dengan tanah. Satu persatu para pelayat meninggalkan makam dengan seribu kesan di kepala.

Saya dan Pak Jeri berjalan beriringan. Jumat yang panas membuat tubuh kami basah oleh keringat. Dari kepala hingga kaki, cairan asam yang keluar dari pori-pori itu serasa menutup tubuh seluruh. Tidak hanya sekali saya melihat Pak Jeri mengambil saputangan dari sakunya dan mengelap wajahnya yang kuyup.

”Tidak disangka, Kang Said begitu cepat dipanggil…” ucap saya membuka cakap.

”Benar. Wong tadi saya melihat Kang Said masih membersihkan masjid buat sholat Jumat. Kelihatannya tidak masalah dengan dirinya. Eh, habis Jumatan kita malah dibuat kaget dengan kepergiannya, ” timpal Pak Jeri.

Ya, Kang Said memang pribadi yang mengagetkan. Kematiannya yang tiba-tiba, tanpa didahului sakit, seperti menutup episode akhir kisah hidupnya yang kerap membuat orang-orang di sekitarnya ternganga. Kang Said memang hanya penjaga masjid, tetapi kisah hidupnya seperti layak dibukukan.

Tujuh tahun yang lalu. Duduk dengan pakaian ala kadarnya, Kang Said membuat puluhan jamaah masjid di lingkungan perumahan kami seakan bertanya-tanya. Siapa gerangan orang ini? Untuk apa dia di sini? Di mana ia tinggal? Adakah ia memiliki keluarga?

Dari berbagai selentingan kami berhasil merangkum siapa sebenarnya Kang Said. Ia ternyata penduduk asli kampung di sekitar perumahan kami. Ia orang yang pergi dan kembali. Hal ini terjadi karena impiannya. Sejak kecil Kang Said terobsesi dengan laut. Ia ingin selalu berdekatan dengan ombak. Kapal-kapal besar yang mengarungi wilayah seantero Nusantara, atau bahkan dunia menjadi mimpinya. Ia bercita-cita menjadi awak kapal.

Orang tua Kang Said menolak keras cita-cita anaknya itu. Alasannya, Kang Said adalah anak laki satu-satunya dari empat bersaudara. Kang Said anak yang terkasih. Namun, Kang Said tak peduli larangan orang tuanya. Seusai SMA, diam-diam, Kang Said mendaftar di sekolah pelayaran. Diterima! Kang Said senang, tapi tidak demikian dengan orang tuanya. Bapaknya mengultimatum Kang Said; sekolah pelayaran atau orang tua. Kang Said tak goyah. Kukuh. Ia memilih sekolah pelayaran. Maka Kang Said harus ”kehilangan” orang tuanya.

Surat-surat Kang Said dari Makasar, Surabaya, Jakarta, atau bahkan kota-kota di luar negeri, seperti Amsterdam, New York, atau Milan, tidak menggoyahkan hati orang tuanya. Bahkan kiriman uang setiap bulan tak mampu mengobati kesedihan mereka. Saat orang tuanya hening dalam duka, Kang Said asyik dengan dunianya. Bahkan ketika orang tuanya meninggal, Kang Said tidak bisa hadir.

Tak dinyana, empatpuluh tahun sejak kepergiannya, Kang Said muncul di depan rumahnya. Sendirian. Tanpa siapapun. Tanpa anak atau istri. Semua kaget. Semua tak percaya. Kang Said disambut tangis haru. Kendati marah dengan Kang Said, saudara-saudaranya menerima dengan ikhlas. Mereka memaafkan Kang Said.

Sejak kemunculan yang pertama itu, tak seorangpun tahu bagaimana perasaan hati Kang Said. Namun, tunduk luluh dalam diam di masjid seharian penuh seolah menjadi bukti rasa penyesalan di dadanya. Bahkan seperti menebus segala rasa salahnya, Kang Said bersedia menjadi penjaga masjid. Maka hari-hari Kang Said di masa tuanya lebih banyak dilakukan di masjid hingga ajal menjemput seusai sholat Jumat berakhir.

”Kang Said termasuk orang baik atau bukan ya?” tanya Pak Jeri tiba-tiba.

Saya tak tahu bagaimana menjawabnya. Saya hanya berpikir, biarlah urusan baik-buruk seseorang menjadi wewenang Tuhan. Manusia tak berhak menghakiminya. Saya diam, sengaja mengabaikan pertanyaan Pak Jeri. Tapi, Pak Jeri sepertinya memang berniat menarik saya ke dalam lingkaran kepenasarannya.

”Bagaimana Mas, menurutmu, Kang Said orang baik atau tidak?” ulangnya.

”Kang Said orang baik…., ” cetus mulut saya tanpa tercegah.

Pak Jeri manggut-manggut. Tapi, mulutnya berulah lagi.

”Kalau orang baik, kenapa pelayatnya sedikit?”

Saya memahami maksud kata-kata Pak Jeri. Namun, menurut saya, itu keliru.

”Pak Jeri, menurut saya, baik dan buruk seseorang tidak ditentukan jumlah para pelayat saat seseorang meninggal dunia. Baik buruk seseorang justru ditentukan oleh siapa yang mengantar orang yang meninggal itu ke pemakaman. Meskipun banyak, kalau yang mengantar itu para penjahat, koruptor, tukang zina, pemabuk ya pasti tak ada gunanya.”

Kembali Pak Jeri manggut-manggut. Tapi, kembali lagi mulutnya berulah. Kali ini dengan senyum. Namun, seolah nyinyir.

”Alhamdulillah…. kita termasuk golongan orang yang baik.”

Saya terperangah mendengar pernyataan Pak Jeri. Tiba-tiba pernyataan itu seperti menerjang saya. Benarkah saya termasuk golongan orang yang baik?

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: