PLAYBOY

Saya benar-benar gagal memahaminya. Barang sejengkalpun. Sikap dan tingkah lakunya sungguh memuakkan. Saya kerap dibayangi kebencian yang sangat dan bahkan berniat memukulnya. Namun, siapa sih saya kok bisa berbuat seperti itu? Orang tua bukan, saudara bukan, kerabat juga bukan. Saya hanya seseorang yang sempat berkenalan dengannya secara akrab. Di kantor.

Sikap dan tingkah lakunya yang saya sorot adalah pandangan dan ”kedekatannya” dengan teman-teman perempuan. Awalnya, saya menyadari mungkin saya sendiri yang tidak suka. Namun, ketika banyak teman-teman yang lain mengungkapkan hal serupa, saya jadi tahu, dia memang lelaki bertipe playboy. Laki-laki yang memiliki kecenderungan untuk menjalin hubungan percintaan dengan perempuan sebagai wujud perkelanaan yang sementara.

Sungguh, parasnya tidak terlalu tampan. Terkesan biasa-biasa saja malah. Bahkan banyak yang lebih tampan daripada dia. Tubuhnya juga tidak terlalu atletis. Malah cenderung kurus. Dia bukan pula anak yang lahir dari orang tua berpunya. Ia berasal dari keluarga sederhana. Namun, mesti diakui, Aldi memang memiliki pesona di kalangan lawan jenisnya. Ramah, supel, ringan tangan, murah senyum, dan penuh perhatian; pokoknya segala sifat yang menjadi syarat seseorang disebut playboy ada pada Aldi.

”Kamu memang hebat, mana ada perempuan yang tidak tertarik denganmu. Tapi, mbok ya kamu serius. Kalau sudah yakin dengan seorang perempuan, seriuslah. Jangan sudah dua atau tiga tahun menjalin hubungan tiba-tiba kamu putus tanpa alasan yang jelas. Kasihan perempuannya…”

Sengaja saya menyampaikan hal ini karena saya mendengar gosip paling baru tentang dia. Aldi ganti pacar lagi! Gila! Maka jika dihitung sejak ia pertama kali masuk bekerja di kantor kami, sudah empat gadis ia ”embat” tanpa ada kejelasan kelanjutannya. Si Rina bertahan empat tahun, Fani satu tahun, Tania tiga tahun, dan kini ia sedang memburu Fika. Fika adalah recepsionist kantor kami yang semlohai dan masih berstatus karyawan kontrak.

Bagaimana reaksinya saat saya menyampaikan hal itu?

Aldi hanya tertawa. Bahkan semburat rasa bangga menyembul dari wajahnya. Matanya jelas tak bisa berbohong. Saya jadi heran, bukan keprihatinan saya yang menjadi perhatian dirinya, tapi malah ungkapan pujian saya yang justru menjadi perhatiannya. Katanya kemudian.

”Itulah susahnya, Mas. Aku susah untuk yakin. Aku tidak yakin bahwa seseorang akan pas menjadi calon istriku.”

”Kalau susah untuk yakin, kenapa kamu dekati perempuan-perempuan itu?”

”Mungkin ini sudah naluri saya, Mas. Setiap ada perempuan yang aku lihat berbeda, aku cenderung ingin berdekatan dengannya. Awalnya sih pingin dekat saja. Lama kelamaan kok ada perasaan lain. Ya sudah kita jadian saja. Dianya juga mau kok. Tidak ada paksaan dalam dirinya.”

Aldi terkekeh. Ketawanya renyah. Ringan.

”Lho, itu berarti kamu yakin dong?” tegurku.

”Oh, bukan, Mas. Ini beda. Aku yakin ia dapat menjadi kekasihku, tapi aku tidak yakin ia mampu menjadi istriku yang sebenar-benarnya.”

Bah! Saya memang sering mendengar penuturan yang seperti ini di kalangan pria-pria yang ”lemah”, yakni para pria yang keder dan gemetar ketakutan ketika lembaga perkawinan dihadapkan kepadanya. Karenanya, pernyataan seperti itu sangat absurd. Dan saya tidak percaya perkataan itu keluar dari mulut seorang Aldi.

Lalu, kekasih, istri, ah mengapa keduanya selalu dipersepsikan bertentangan? Apakah kekasih yang baik tidak akan mampu menjadi istri yang baik? Apakah istri yang baik hanya akan lahir dari kekasih yang tidak baik?

”Wah, kasihan sekali perempuan-perempuan itu. Kamu jadikan ia sebagai kelinci percobaan demi munculnya keyakinan pada dirimu bahwa ia sungguh perempuan yang pantas sebagai pendampingmu.”

”Oh, terbalik, Mas. Itu sangat terbalik. Justru aku telah menyelamatkan mereka, para perempuan itu, sebelum mereka menyadari bahwa mereka akan berkubang dalam perkawinan yang semu bila menikah denganku.”

Saya tidak yakin pandangan-pandangan seperti ini mampu muncul dari benak Aldi, seorang pria yang menurutku jauh dari kesan berangasan dan sangar, serta tidak beradab. Aldi sangat jauh dari itu! Benar! Ia lembut, sopan, dan ramah. Aldi dekat dengan hidup yang beretika. Jadi, apa yang melatarbelakangi Aldi memiliki pandangan seperti itu? Entahlah.

”Mas, aku sangat menghargai keberadaan seorang istri. Istri adalah makhluk yang sangat istimewa dalam pandanganku. Ia ibarat seorang putri dalam istana yang megah. Ia ibarat bidadari dalam surga mimpi. Karena itu, bila ia sudah kutemukan dan kunikahi, istriku tidak perlu mengabdi atau sekadar melayaniku. Justru aku yang akan dengan sukarela mengabdi dan melayaninya, ”tutur Aldi dengan mimik yang serius. Amat serius.

Percaya?

Saya tidak percaya dengan penuturan Aldi. Ia sangat mengagungkan seorang istri dalam sebuah rumah tangga. Namun, pencariannya terhadap seorang istri, selama ini, sungguh sangat jauh dari sikap itu. Adakah ia secepatnya akan menemukan istri yang teridam-idamkan? Hanya Allah yang tahu! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: