SANG PECUNDANG

”Bang, cepetan ya. Udah setengah delapan, nih. Bisa telat, ” kata saya kepada sopir angkot berperawakan ceking yang duduk di sebelah saya.

”Bener, Jo. Seperti biasa saja. Wush..wush…wush,” cetus seorang pemuda yang tiba-tiba sudah duduk tepat di belakang sopir angkot itu. Pemuda berpakaian putih hitam itu sepertinya telah lama menjadi langganannya. Itu terlihat dari panggilan darinya kepada si sopir angkot itu. Entah siapa nama sopir itu. Jojo atau Sarjo, Wijo atau Bejo.

Seorang gadis berwajah rupawan menimpali ringan. ”Iya. Sikat aja. Yang penting kita nggak terlambat. Nggak enak terlambat melulu. Kesiangan, orang di kantor ngomel-ngomel, kalau kepagian diem aja.”

Bau parfum sang gadis menyodok hidung para penumpang. Lembut. Membuai.

Sang sopir angkot bergeming. Dingin. Bibirnya terkatup. Rapat. Sama sekali tidak terdengar suara dari mulutnya. Raut wajah dan tatapan mata si sopir sudah amat jelas. Ia siap melayani segala keinginan penumpang.

Penumpang penuh. Angkot melaju perlahan-lahan. Meninggalkan asap beracun berwarna hitam pekat. Selanjutnya kencang. Bahkan teramat kencang.

Pagi hari yang sibuk jalanan kota disibak raungan angkot yang saya tumpangi. Ia melaju seakan-akan tanpa kendali. Para penumpang miris, tetapi senang. Para penumpang bergetar, namun menikmati. Angkot itu bergerak zig-zag. Mengebut dan menyalip, memepet dan memotong kendaraan yang di depannya.

Dua mobil kijang dan sebuah sedan tersentak kaget. Sopirnya meradang saat tahu di depannya bergerak mobil berwarna hijau. Tiba-tiba.

”Hei! Emang jalan nenek moyang Loe. Yang bener aja kalau nyopir!”

”Cangak Cia!!!”

”Bledug Sia!!!”

Seribu umpatan menyerbu riuh. Khas jalanan. Sopir angkot yang saya tumpangi tak peduli. Para penumpang setali tiga uang. Cuek beibeh…

”Sikat terus….!” Entah siapa yang bersuara.

Sang sopir angkot terus melarikan mobilnya. Cepat. Kencang. Tak tertandingi. Ia bak Michael Schumacher di lintasan F1 yang gegap gempita oleh sorak sorai penonton. Tapi, sopir angkot itu memang bukan tandingan sang legenda Jerman yang ternama tersebut. Ia tidak lincah. Ia sangat jauh dari cekatan.

Pada sebuah tikungan yang tajam, angkot yang dikendarainya gagal ia kuasai. Ia tergeragap. Kaget. Sopir itu semakin kaget ketika tahu di depannya bergerak pelan pengendara motor. Seorang ibu. Brakkk!!!

Angkot yang saya tumpangi menyerempet motor di depannya. Ibu pengendara motor pun tersungkur. Ia mengerang kesakitan. Para pejalan kaki bergerak cepat menolong. Menegakkan motor dan melihat kondisi pengendara.

Angkot yang saya tumpangi berhenti. Dari balik kaca spion sopir angkot melihat situasi. Santai. Dingin. Tak terbaca. Tiba-tiba….Wush! Angkot kembali melaju kencang. Di jalanan. Melibas semua yang menghalangi.

”Bang, berhenti!. Kasihan si ibu itu!” ucap saya keras.

Si sopir tak menanggapi. Angkot tetap berjalan seperti biasa. Kencang.

”Berhenti! Abang harus bertanggung jawab!” kata saya lagi. Lebih keras.

Sopir angkot terlihat jengah. Ia menepikan mobilnya. Berhenti.

”Kalau Bapak mau turun, silakan!” kata sopir angkot. Tetap dengan gaya khasnya. Dingin. Tanpa senyum.

Saya tersentak kaget. Sangat kaget. Namun, saya lebih kaget lagi saat mendengar beberapa penumpang berkata culas.

”Iya. Kami harus cepat sampai. Terus aja, Pir!”

”Si Ibu itu yang salah. Tahu ada mobil, nggak mau minggir!”

”Kalau mau nolong, turun aja, Pak!”

Saya terpenjara perkataan saya sendiri. Saya bagai orang yang kalah. Pecundang. Maka saya harus tahu diri. Saya membuka pintu angkot itu. Turun. Kebingungan seketika menyergap. Apa yang mesti saya lakukan di sini, di jalanan ini? ***

Sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com/_s1IUiJ_5t4E/Sm3OIDYpwcI/AAAAAAAAAOc/VOni3fv96Vo/s320/angkotBogor.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: