SERIGALA

Sore itu, istri saya datang dengan berita yang mengejutkan. Pulang dari arisan ibu-ibu kompleks, ia masuk rumah dengan gelegar petir yang menyambar. Keras dan mengagetkan.

”Mas, akhirnya Pak Subhan dan Ibu Subhan pisah. Mereka akan bercerai,” cetus istri saya dengan suara yang agak terburu-buru. Istri saya melangkah ke ruang tengah dan meletakkan dompet dan bukunya di atas meja.

Lho, kok tahu?! Dari mana beritanya itu?” tanya saya keheranan. Sebab bagaimana mungkin pulang arisan istri saya malah membawa kabar yang tidak-tidak. Urusan rumah tangga orang lagi! Mending kalau berita yang dibawa seputar persoalan kesehatan ibu-anak, penciptaan keluarga sakinah, atau keharmonisan antar warga. Lha ini… urusan dapur orang!

Sambil duduk di kursi dengan pandangan sedikit prihatin, istri saya lalu bertutur.

”Tadi Ibu Subhan datang di arisan. Ibu-ibu juga tak tahu kalau ia akan datang. Memang ia diundang karena Bu Subhan ikut arisan. Tapi, selama inikan ia jarang datang. Kita tidak pernah tahu kenapa ia jarang datang. Paling-paling sekadar kabar selentingan. Itupun jarang kita percaya.”

Saya berusaha menyimak terus jalan ceritanya.

”Nah, pas ia datang, di akhir acara, Bu Subhan minta waktu sejenak. Kita semua tidak tahu, ada apa ini? Eh, di situ dengan berlinang air mata, Bu Subhan meminta maaf atas segala kesalahan kepada semua warga di RT kita. Dia bicara, bahwa besok dia sudah tidak akan tinggal di RT kita lagi. Dia akan pergi membawa dua anaknya….”

”Memang kenapa?” potong saya cepat. ”Kan Pak Subhan masih tinggal di situ. Wong kemarin saya masih omong-omong sama dia. Bicara ngalor ngidul….”

”Itulah masalahnya, ” gantian kali ini istri saya yang memotong. ” Bu Subhan mau pulang ke rumah orang tuanya. Dia memutuskan untuk pisah dengan Pak Subhan. Dia merasa sudah tidak kuat lagi hidup dengan Pak Subhan. Hobi Pak Subhan yang itu-tu… membuat Bu Subhan menangis terus sepanjang waktu. Akhirnya, ia mengambil keputusan, ini harus diakhiri.”

Istri saya mengakhiri ceritanya. Saya paham kenapa Pak dan Bu Subhan berpisah. Perkataan ”itu-tu” dari istri saya sudah menjelaskan semuanya karena faktor ”itu-tu” memang sudah menjadi gosip laris di kalangan warga tentang diri Pak Subhan. Dan perkataan ini pula yang membuat saya sekonyong-konyong terbayang kepada sosok Pak Subhan.

Manusia serigala

Manusia serigala

Pak Subhan lelaki yang baik. Itu kesan pertama saya saat pertama kali berkenalan dengannya. Wajahnya tidak terlalu tampan, meski juga tidak terlalu biasa. Ia menarik. Mungkin itu kata yang pas buat menggambarkan sosoknya. Apalagi sosok itu ditunjang dengan gaya Pak Subhan yang ramah, supel, dan lembut.

Pak Subhan terkesan pendiam dan bahkan selalu berusaha menjaga sikap. Itu yang terlihat bila ia bersama-sama dengan para warga lain melakukan berbagai macam kegiatan. Ronda malam, gotong royong, kerja bakti, atau sekadar kongkow-kongkow. Ia lebih banyak mendengar dan membalas perhatian orang lain dengan senyum. Kadang kami agak geregetan dengan sikap Pak Subhan.

Pak Subhan rajin ke mushola untuk salat berjamaah. Kendati itu hanya dilakukan pas waktu subuh atau isya. Hal yang wajar, karena Pak Suban harus berangkat kerja pagi-pagi dan pulang agak malam. Setiap tengah bulan, ia tampak hadir dalam forum pengajian warga. Bahkan di forum itu, ia tak segan untuk bertanya jika ada yang terasa mengganjal di hatinya.

Karena itu, saya tidak percaya dengan berita tentang diri Pak Subhan! Pasti mengada-ada. Namun, jika itu benar, saya sangat heran dengan Pak Subhan! Bagaimana mungkin ia bisa dikenal sebagai orang yang suka main perempuan padahal segala perilaku kesehariannya seolah jauh dari itu? Apakah demikian susahnya bagi Pak Subhan untuk meninggalkan kegemaran yang kadung ndakik itu?

Istri Pak Subhan tidak cantik? Wow, keliru! Istri Pak Subhan tak cuma cantik, tapi juga menarik. Istri Pak Subhan tidak sekelas dengan Pak Subhan? Salah! Istri Pak Subhan adalah alumni sebuah perguruan tinggi bergengsi di Yogyakarta, sama dengan Pak Subhan. Istri Pak Subhan bukan wanita pekerja? Ah, apa beda keduanya jika di rumahpun istri Pak Subhan mampu berkarya, membantu ekonomi suaminya.

Maka melihat Pak Subhan, saya jadi ingat perkataan guru ngaji saya dahulu di kampung. Kata guru ngaji saya itu, kaum lelaki itu serigala. Apa yang ada dalam otaknya saat ia melihat seorang perempuan hanyalah bagaimana lekuk tubuhnya saat dia telanjang. Tidak lebih! Karena itu, janganlah menyuruh para lelaki untuk “mengurung” otaknya. Itu tidak mungkin! Pasti akan gagal. Sebab para lelaki itu lihai, cerdik, licik, dan…. penuh tipu daya! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: