SI BODOH YANG BANDEL

rokokKetika saya pertama kali berkenalan dengannya, saya tahu dia seorang perokok. Perokok berat malah. Setiap jam, menit, atau detik; dua jari tangannya tak mampu melepaskan diri dari batangan rokok berwarna putih. Gayanya asyik, mirip sekali dengan iklan-iklan rokok yang terpampang di jalan-jalan.

Pak Iman, begitu biasa ia dipanggil, amat menghayati makna iklan itu. Bagi Pak Iman, iklan-iklan produk lain boleh berbohong atau menipu, tapi tidak untuk iklan rokok. Iklan rokok memang amat benar. Ia berhasil menyentuh sendi paling dasar dari realitas kaum Adam. Maka iklan itu menjadi sahih. Tidak dibuat-dibuat. Ia simbol sebenarnya dari seorang laki-laki. Berani. Jantan. Menggoda.

Jadi, jangan sekali-kali mencoba mengutarakan keberatan terhadap rokok yang sedang dihisap Pak Iman. Sekali hal itu didengarnya, ia akan membantahnya.

”Apa salahnya orang merokok? Tidak ada yang salah! Itu hak paling mendasar. Merokok, apalagi di depan banyak orang, itu bahkan simbol keberanian dan kejantanan. Jangan mengaku sebagai perokok hebat kalau menghadapi banyak orang untuk merokok saja tidak berani. Takut ditegur. Tidak enak sama orang. Phuh!!! Itu bukan jiwa seorang perokok tulen.”

Nah, begitu cara Pak Iman membantahnya. Ia tidak peduli siapa yang dihadapi. Orang tua, perempuan, atasan, pejabat; pokoknya siapapun juga. Kalau ada seseorang yang menyanggahnya dengan mengatakan demikian.

”Tapi, asapnya ke mana-mana Pak Iman. Kasihan yang tidak merokok…”

Maka Pak Iman akan lantang menjawab.

”Justru sebaliknya. Kalian harus mengasihani orang yang merokok. Kalau orang yang tidak merokok mengisap asap rokok paling-paling ia batuk-batuk. Tapi, kalau seorang perokok diminta tidak merokok meski hanya sesaat, bisa-bisa perlahan-lahan mentalnya sakit. Mana yang lebih berat, tubuh yang sakit atau mental yang sakit? Jadi, hormatilah orang yang merokok.”

Saya tahu, kondisi ekonomi keluarga Pak Iman niscaya tidak memungkinkan ia menjadi perokok. Pak Iman hanya seorang sopir di tempat saya bekerja. Istrinya tidak bekerja. Anaknya tiga, dua yang pertama duduk di sekolah menengah, sedangkan yang ketiga masih SD. Kabarnya lagi, istrinya tengah mengandung anak keempat. Rumah Pak Iman masih mengontrak. Maka saat ia mengungkapkan nasib keluarganya yang Senin-Kamis, saya menyekaknya dengan kalimat tegas.

”Pak Iman mestinya berhenti merokok. Tak ada manfaatnya. Satu bungkus rokok saja harganya sudah di kisaran sepuluh ribu. Coba, kalau Pak Iman setiap hari menghabiskan satu bungkus, berapa duit yang harus dikeluarkan? Sudah tigaratus ribu, Pak. Wah, angka yang sangat banyak itu….”

Saya pikir saya benar. Pak Iman yang sudah didesak masalah ekonomi pasti akan sadar jika disentuh dengan solusi ekonomi. Bukankah kepentingan pribadi yang sifatnya mubazir selayaknya dikorbankan demi keluarga? Namun, saya kecele. Nasihat saya ternyata dianggap Pak Iman keliru. Keliru besar malah.

”Oh, jangan salahkan rokok. Rokok itu sudah membawa rezeki sendiri. Rokok tidak mengambil jatah rezeki dari beras, susu, gula, atau bahan makanan pokok yang saya berikan untuk keluarga. Rokok juga tidak mengambil jatah uang sekolah anak, rekening listrik, atau yang lain. Tuhan selalu memberikan kepada saya rezeki rokok setiap bulannya.”

Tubuh Pak Iman kian rapuh. Daging dan lemaknya habis, tergerus racun nikotin yang perlahan melahapnya. Jalannya sempoyongan, serupa benar dengan tokoh pemabuk yang biasa tampil di pentas-pentas pertunjukan teater. Ekonomi keluarga Pak Iman keropos. Susah untuk memasukkannya ke dalam kriteria orang-orang yang tertolak pembagian BLT (Bantuan Langsung Tunai). Tapi, untuk berhenti merokok…..tentu TIDAK!

”Saya tidak mungkin berhenti merokok. Rokok sudah menyatu dengan jiwa saya. Dialah yang menggerakkkan saya. Kalau saya berhenti merokok, jiwa saya akan diam. Mati!”

“Tapi, rokok haram, Pak Iman.”

“Ha….ha….ha….ha….”

Saya tidak tahu apa makna tertawanya Pak Iman. Di relung hati yang paling dalam, saya terharu dengan kekukuhan hatinya. Kini saya tahu, seorang perokok ternyata bukan hanya orang yang paling bandel di dunia. Ia juga orang yang paling bodoh! Nalarnya perlahan-lahan hilang, kabur bersama asap rokok yang diisapnya, melayang di udara. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: