SILAT HATI

Pada suatu hari saya, istri, dan anak-anak saya makan malam di sebuah restoran keluarga. Malam itu suasananya ramai. Banyak tempat duduk yang terisi penuh. Tidak aneh, karena malam itu malam minggu. Waktunya setiap keluarga untuk sejenak keluar, menanam keakraban dan kebersamaan.

Makanan yang saya, istri, dan anak-anak saya pesan, tiba juga. Seorang pelayan perempuan terlihat membawa beberapa nampan berisi penuh makanan.

”Asyik! Enak sekali,” kata anak saya yang pertama.

”Ya, pasti enak. Aku mau gurami bakar…” anak saya yang kedua tak mau kalah.

Mereka mulai berebut mencicipi makanan yang terhampar di meja. Riuh. Ribut.

Tanpa diduga melompatlah sesosok tubuh ringkih dan kumal ke arah meja kami. Ia hampir terjatuh. Gitar yang dibawanya menghantam meja kami. Saya, istri, dan anak-anakku terkejut. Begitu pula pelayan dan pengunjung restoran. Keterkejutan semua orang serentak berubah menjadi rasa khawatir saat diketahui mulut lelaki itu berbau alkohol. Mabuk.

Lelaki pengamen pemabuk itu mulai berkicau dan terus berkicau. Menyanyi. Tak karuan. Istri dan anak-anak saya memilih agak menyingkir. Juga orang-orang yang lain. Lelaki itu tampak tidak suka dengan sikap orang-orang di restoran. Tiba-tiba tangan lelaki itu mendorong tubuh pelayan perempuan yang ada di depannya. Keras. Perempuan itu terjerembab. Lelaki itu tak peduli. Ia bahkan menantang orang-orang yang ingin menolong perempuan pelayan itu.

Darah saya naik. Saya langsung berdiri kukuh. Menantang lelaki itu.

”Kau ingin menghadapi aku, ayo lawan!” ucapnya keras. Saya mencoba tenang. Ketenangan adalah awal dari kemenangan.

Lelaki itu merangsak mendekati saya. Tiba-tiba tubuh saya bergetar hebat. Pesan guru silat saya mengiang di telinga. ”Barang siapa berpikiran untuk berkelahi, ia sesungguhnya telah gagal menjadi petarung sejati”.

Lelaki itu sudah berdiri sangat dekat dengan saya. Keraguan menyergap saya.

”Hei, kemarilah!”

Sebuah teriakan keras mengagetkan saya dan lelaki pengamen pemabuk itu. Ternyata suara seorang pria muda yang sedang duduk sendirian di pojok restoran. Ia melambaikan tangan ke arah lelaki pemabuk itu. Ramah. Pria itu usianya mungkin beberapa tahun di bawah saya.

”Kau tak usah ikut campur! Ini urusanku!” balas lelaki pemabuk itu.

”Ayolah, di sini kosong! Aku masih punya sebotol bir buat kita bermabuk ria….”

Wajah lelaki pemabuk itu berubah. Kegarangannya lenyap. Ia melangkah gontai meninggalkan saya, istri, dan anak-anak saya yang terkesima.

”Mana birnya?!”

”Duduklah dulu di sini, kawan….”

Lelaki pemabuk itu duduk di samping pria muda tadi.

”Kau suka bir?” tanya pria muda.

”Ya!”

”Oh, aku juga. Setiap malam aku menghangatkan tubuhku dengan sebotol bir. Aku membawanya ke taman dan duduk di bawah sinar rembulan. Uh, sungguh menyenangkan.”

Wajah si Pemabuk melunak. ”Aku juga suka sinar rembulan.”

”Wah, kamu pasti punya istri yang menyenangkan?”

Lelaki pengamen pemabuk terdiam sesaat.

”Tidak benar, ”jawab lelaki itu kemudian. ”Istriku meninggalkanku. Aku tidak punya rumah. Aku tidak punya pekerjaan. Aku malu pada diriku sendiri….”

Aneh bin ajaib. Mata lelaki pemabuk itu berkaca-kaca. Keputusasaan menjalari rona mukanya. Saya, istri, dan anak-anak saya terkesima. Namun, semua berusaha menuntaskan makanannya secepat mungkin.

Saat saya, istri, dan anak-anak saya berlalu dari restoran itu, saya mendengar pria muda itu berkata simpati.

”Itu memang hal yang menyulitkan. Ayo kawan, ceritakan kesusahan yang kau alami itu kepadaku.”

Saya palingkan wajah saya untuk terakhir kalinya. Saya melihat lelaki pengamen pemabuk itu menangis di hadapan pria muda tadi.

Saya, istri, dan anak-anak saya melihat pemandangan itu dengan sangat takjub. Kami semua tak menyangka lelaki pemabuk itu bisa menangis setelah sebelumnya bertindak keras. Beringasan.

”Mas, lelaki muda tadi hebat ya…” kata istri saya.

”Memang kenapa?” tanya saya penasaran.

”Lelaki muda tadi paham benar bagaimana cara mengambil keputusan yang tepat dalam situasi konflik.”

”Hmm….”

Istri saya melanjutkan.

”Lelaki muda itu telah menunjukkan kepada kita semua betapa kata-kata yang lembut, jernih, dan cerdas ternyata lebih sering bermanfaat dibanding kekuasaan dan kekuatan semata.”

Saya tak banyak bicara. Tapi, diam-diam saya menyimak ucapan istri saya hingga tiba di rumah. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: