ZIKIR BOMBARDIR

”Sudah belum, Mi?” tanya saya lirih kepada teman lama saya, Helmi.

”Sebentar lagi. Kamu tunggu aja dulu…” jawabnya tak kalah lirihnya.

Helmi masih asyik bermain dengan jari jemari tangannya. Ia seperti tidak kenal lelah. Malam yang mulai merambat pelan tak terlalu dihiraukan. Bibirnya terus dibasahi dengan kata-kata pujian. Ia larut dalam dekapan-Nya. Wajahnya kadang tersenyum. Tapi, hanya sesaat. Sesaat kemudian, wajahnya berubah lagi. Kali ini seperti hendak menangis. Begitu terus.

Saya menyabarkan diri menunggu. Sudah lebih dari setengah jam kami berada di Masjid Abubakar untuk sholat berjamaah isya. Para jamaah lain sudah bergiliran menjemput sandalnya. Pulang! Tinggal kami berdua, saya dan Helmi yang masih berdiam di masjid. Bedanya, saya bersandar di tembok sambil terkantuk-kantuk. Helmi tetap duduk tawadhu’.

Helmi teman lama saya di Yogya. Baru siang tadi ia menelpon, menyatakan ingin menginap di rumah saya. Ada keperluan, katanya. Helmi kini orang sukses. Usahanya maju. Karyawannya hampir mencapai seratus. Saya tidak heran jika ia akan sukses. Sejak kuliah dulu, hobinya memang berdagang. Apa saja bisa dijual olehnya. Madu, baju batik, juga buku. Tapi, ia paling suka menjual buku. Katanya, dengan menjual buku ia dapat dua keuntungan sekaligus. Satu uang, kedua ilmu.

Saya agak terlelap ketika Helmi menyapa. ”Mau langsung pulang?” tanyanya. Senyumnya mengembang tipis.

Saya menggelengkan kepala. Mulut saya menguap tanpa bisa dicegah. Meski rasa kantuk sudah di ambang batas, saya menolak pulang. Tiba-tiba seperti ada yang mendorong saya untuk sesaat tinggal di masjid bersama Helmi. Walau sekadar duduk-duduk. Santai.

”Ya sudah. Kita di sini saja dulu,” cetusnya.

Helmi menjejeri tempat saya duduk. Kami berdua bersandar pada tembok masjid yang berwarna krem. Malam terasa sepi nyenyat. Pandangan kami berdua lepas. Kami seperti diingatkan saat-saat kami berdua kerap nongkrong di Mushola Arrahman, selepas sholat isya, di Yogya dulu. Dulu sekali.

”Masih seperti dulu ya. Nggak berubah. Tetap saja lama…,” kata saya setengah bercanda. Saya ingat, sejak dulu Helmi memang paling doyan zikir. Setiap sehabis sholat ia pasti menyempatkan diri duduk di pojok mushola. Diam, tidak bergerak, tapi mulutnya tak berhenti. Komat-kamit. Zikir! Teman-temannya tak pernah mengganggu bila Helmi lagi asyik.

Helmi kembali tersenyum. Namun, senyum kali ini seperti senyum malu-malu. Bak perempuan yang kebingungan menjawab tatkala keluarga sang kekasih datang melamar.

”Ah, kamu, ada-ada saja.”

”Lho, iya. Kamu memang tak berubah,” tegas saya.

Helmi membenahi sarungnya. Ia seperti tidak sreg dengan sarung pinjaman saya itu. Wajar, sarung itu memang sarung baru yang masih terbungkus rapi saat saya berikan. Belum lagi terkena air. Jadi, memang belum terlalu nyaman buat dipakai sholat di masjid.

”Kamu keliru kalau kamu menyangka aku tidak berubah,” ujarnya menanggapi penilaian saya. ” Aku malah merasa tidak seperti dulu lagi.”

”Ah, masa! Lha itu tadi buktinya. Zikir saja lamanya bukan main,” bantah saya.

Helmi terdiam beberapa saat. Wajahnya berubah serius. Ia ingin berucap panjang. Tapi, mulutnya seperti tersumbat. Kerongkongannya kering. Helmi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika ia berucap suaranya lirih, hampir tak terdengar. Namun, suaranya perlahan menjadi keras.

”Kesibukan usaha membuat aku merasa berubah. Pikiranku hanya tertuju bagaimana caranya agar usahaku terus maju. Tidak lebih. Aku seperti tidak punya waktu lagi untuk berzikir. Zikirku hanya zikir wajib. Zikir sesudah sholat lima waktu. Padahal, dulu, di setiap kesempatan, aku selalu berzikir. Di angkot, di motor, di kereta, bahkan saat mendengarkan dosen bicara, aku tak lupa menyebut asma Allah. Nikmat sekali saat bibir ini dibasahi kalimat-kalimat agung seperti itu….”

Saya tidak tahu mesti berkata apa. Prihatin? Tentu saja tidak. Saya justru sangat malu kepada Helmi. Helmi yang begitu sukses. Helmi yang begitu lelap dalam ibadah. Helmi yang begitu larut dalam zikir. Kenyataannya, masih saja ia merasa kurang dan kurang. Sedangkan saya…. Ah malu saya menceritakannya.

Belum lagi saya membalas keluh kesahnya, tiba-tiba ia sudah berkata pelan.

”Apa harta yang aku miliki telah berubah menjadi hijab yang membuat aku hilang kesempatan untuk selalu menyebut kebesaran-Nya?”

Aku hanya diam, menunduk. Dalam hati aku mengutuk kelemahanku sendiri. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: