BURUNG KECIL

Lelaki separuh baya itu masih saja berdiri di tempatnya. Matanya tak berkedip menatap sebuah tulisan besar yang terpampang di hadapannya. Sebuah tulisan pada kain yang menempel di tembok pintu masuk kantornya.

Dari tempat berdiri saya melangkahkan kaki mendekatinya. Pak Doyong, lelaki yang rambutnya mulai beruban itu tetap bergeming kendati saya sudah berada di sebelahnya.

”Ada yang aneh dengan tulisan di dinding itu Pak?” tanya saya mengagetkan lelaki yang teramat bersahaja itu. Semburat senyum muncul dari mulut Pak Doyong.

”Kau lihat tulisan itu,” telunjuk lelaki yang mulai kelihatan tua itu terarah ke depan. ”Betapa indah dan dalam makna yang terkandung di situ. Andai semua orang mau memahami dan melaksanakan….”

Saya membaca dalam hati tulisan itu untuk mengimbangi perhatian Pak Doyong.

”Dengan Tingkat Keselamatan Kerja yang Maksimal, Kita Tingkatkan Produktivitas yang Optimal”.

”Apa yang Pak Doyong tangkap dari tulisan itu?” selidik saya ingin mengetahui pikiran Pak Doyong. Lelaki itu menatap saya lagi. Ia seperti ingin mengetahui kejujuran saya saat bertanya. Saya tertunduk sejenak. Katanya kemudian.

”Banyak. Banyak sekalipesan yang muncul dari tulisan itu.”

”Tapi, bukankah tulisan semacam itu sudah biasa terpampang di mana-mana? Apa yang aneh dengan tulisan semacam itu?”

”Itulah kita. Memang tidak ada yang aneh dengan tulisan seperti itu. Justru yang aneh adalah sikap kita dalam memandang tulisan-tulisan semacam itu. Pernahkan kita memperlakukan tulisan semacam itu tidak hanya sekadar slogan? Pernahkah kita berpikir bahwa kata-kata itu merupakan bentuk tanggung jawab moral kita selama ini? Pernah kita berpikir untuk menyelaraskan tulisan itu dengan sikap kita?”

Melihat Pak Doyong tiba-tiba saya seperti melihat kembalinya empu dari masa silam. Empu kata-kata. Empu yang rajin mengingatkan apa makna yang ada di balik kata-kata. Empu yang tak lelah mengingatkan tanggung jawab di balik kata-kata. Kata-kata tidak diperlakukan sekadar sebuah pesan, tetapi juga tanggung jawab.

”Apakah tulisan semacan itu bermanfaat?” tanyaku berterus-terang.

”Lho, iya jelas!” jawab Pak Doyong tegas.

”Tapi, bukankah ada atau tidak ada, tulisan seperti itu tidak akan membawa pengaruh apa-apa kepada kita?”

Pak Doyong seperti terkejut mendengar pernyataan saya. Mimik mukanya seketika menegang. Ia seperti tidak suka mendengar pernyataan saya itu.

”Kamu memang perlu belajar dari cerita burung kecil.”

”Burung kecil? Apa maksudnya?” Saya tak mengerti.

”Sewaktu Nabi Ibrahim hendak dibakar, konon ada seekor burung kecil berkehendak menyelematkannya. Ia menyemburkan air dari paruhnya yang kecil. Seekor burung besar menertawakannya. Namun, si burung kecil kemudian membalasnya, Tuhan tidak akan menanyakan bagaimana aku memadamkan api itu, tapi Tuhan hanya akan bertanya apa yang kamu perbuat pada saat itu….”

Saya terpekur mendengar penuturan Pak Doyong. Saya mencoba memahami makna di balik penuturannya. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: