COMFORT ZONE

Di mata saya Pak Sukra ibarat lelaki yang datang dari langit. Sebagai pemimpin ia layak disebut mendekati sempurna. Disiplin, berwibawa, inspiratif, dan antispatif. Sebagai pribadi, ia menyenangkan. Ramah. Familiar. Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Kepada siapa saja.

Pak Sukra seolah dilahirkan tanpa beban hidup. Wajahnya jarang kelihatan kusust. Kalau seorang atasan biasa berwajah kusut saat ada persoalan berat, lain dengan Pak Sukra. Hampir tak ada sisa-sisa beban pekerjaan yang melekat padanya. Semua dinikmati dengan gembira. Kok bisa?

”Hidup tak perlu disesali. Jalani saja apa adanya,” ucap Pak Sukra kepada saya pada suatu kesempatan di sore hari. Sebagai karyawan, saya memang perlu belajar darinya. Pak Sukra pasti punya pengalaman yang lebih karena ia lebih senior daripada saya.

Tapi, keisengan saya seketika muncul manakala melihat sosok Pak Sukra.

”Ah itu kan karena posisi Bapak sudah enak sekarang. Gaji lebih dari cukup. Kendaraan roda empat siap mengantar ke mana saja. Rumah tidak lagi ngontrak. Tabungan menggunung di bank. Kalau saya di posisi apak, saya juga akan berkata seperti itu.”

Pak Sukra tertawa renyah. Mulutnya terbuka lebar.

”Rupanya kamu iri ya.”

”Oh, tidak. Bukan begitu,” kata saya mengoreksi.

”Ah, akui saja. Tapi, begini…” Pak Sukra membetulkan letak duduknya. ”Kalau kamu mengikuti sejarah hidup saya di kantor ini, kamu akan tahu betapa kerasnya saya bekerja di sini. Hidup saya adalah pekerjaan saya.”

”Jadi Bapak tinggal merasakan hasilnya sekarang?”

”Oh, tidak,” sergah Pak Sukra. ” Justru orang-orang seperti kamulah yang tinggal merasakan kenikmatan dari apa yang saya dan teman-teman lain usahakan. Lihat saja sekarang, gajimu sudah berlipat-lipat dibanding saya dulu di awal-awal masuk kerja di sini. Bonus setiap tahun menanti. Kenaikan gaji setiap tahun menunggu. Belum lagi rekreasi ke luar negeri, juga pergi haj. Belum lagi program dana pensiun. Betapa enaknya sekarang ini….”

Saya mengiyakan ucapan Pak Sukra. Sambil senyum-senyum. Malu.

”Tapi, apa sih rahasia keberhasilan Pak Sukra bekerja di sini?” tanya saya sedikit penasaran dan berusaha mengalihkan perhatian. Jujur, saya ingin belajar dari orang sekaliber Pak Sukra.

Pak Sukra tersenyum mendengar pertanyaan saya. Matanya bermain. Nakal. Katanya kemudian….

”Orang boleh bangga dengan kemampuan, skill, otak, kelihaian, atau bahkan pendidikan yang tinggi. Silakan. Itu bagus. Tapi, bagiku, itu semua tidak berarti apa-apa tanpa kemampuan membawa diri.”

”Maksud Bapak?”

Pak Sukra tertawa nyaring.

”Ah, kamu! Pura-pura tak tahu. Ingatkan comfort zone?!!!”

Comfort Zone?

Saya berusaha menerka makna yang keluar dari mulut Pak Sukra. Tapi, kok aneh? Untuk apa Pak Sukra membawa-bawa konsep itu dalam menjawab pertanyaan saya. Sebab comfort zone adalah konsep untuk menunjukkan sempurnanya lingkungan sebuah organisasi bisnis. Sistem dan prosedur berjalan selayaknya, reward and punishment berlangsung adil, komunikasi atasan-bawahan bekerja secara wajar.

Jangan-jangan…. Ah, jangan-jangan Pak Sukra memaknai comfort zone bagi kepentingan pribadinya. Artinya, ia berupaya menerjemahkan konsep itu sebagai lingkungan yang amat sesuai bagi dirinya untuk melakukan berbagai ”akrobat” dan ”rekayasa” di dalam perusahaan. Andai ini benar-benar terjadi, saya sekarang tahu, Pak Sukra bukan manusia yang berasal dari langit. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: