GOLPUT

Saya bingung dengan Sri-Bintang Pamungkas. Di saat tokoh yang lain berkiprah di partai politik, ia malah berniat menyelenggarakan Kongres Golput di Yogyakarta. Hasilnya, dukungan belum lagi didapat, ia harus berurusan dengan aparat negara meski Kongres itu akhirnya sukses diselenggarakan di Bandung pada 17 Mei 2009.

Sejujurnya, saya tidak ingin bicara tentang gebrakan tokoh yang merupakan adik dari ekonom terkenal Prof. Sri-Edi Swasono itu. Saya juga tidak terlalu peduli dengan isu bahwa semangat Sri Bintang untuk mengusung Kongres Golput tak lepas dari kegagalannya saat berkiprah sebagai pendiri dan politisi Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) yang miskin dukungan.

Saya hanya ingin bicara tentang golput! Lalu, kenapa harus golput?

Dr. Arief Budiman

Dr. Arief Budiman

Begini. Nama dan sejarah golput memang unik. Nama golput berangkat dari peristiwa yang terjadi di Gedung Balai Budaya, Jakarta pada 3 Juni 1971. Tepat sebulan sebelum Pemilu 1971 digelar, 34 aktivis demokrasi yang dipimpin pentolan Angkatan 66, Arief Budiman memproklamirkan gerakan yang dikenal dengan nama “Golput”.

Golput merupakan ungkapan simbolik. Dengan golput, para aktivis ingin melancarkan serangan terhadap sistem otoriterianisme yang hendak dibangun Soeharto melalui jalan pemilu yang jauh dari luber dan jurdil. Dengan golput, para aktivis ingin meyakinkan publik bahwa bila hendak bersikap jujur terhadap cita-cita bangsa, jauhi pemilu, bersikaplah golput.

Golput sendiri berasal dari dua kata, yakni golongan dan putih. Golongan bermakna kelompok atau kumpulan, sedangkan putih adalah nama warna yang sering diasosiakan sebagai bersih atau suci. Maka nama Golput bisa ditafsirkan sebagai berkumpulnya orang-orang yang memiliki niat dan cita-cita yang luhur dan suci.

Dalam konteks politik, nama Golput memang paradoks. Sebagai cita-cita ia sangat mulia sehingga ia sengaja menamakan dirinya sebagai Golput atau golongan putih; bukan Golhit (Golongan hitam), Golmer (Golongan merah), Golhij (Golongan hijau), Golbir (Golongan biru), atau yang lainnya.

Namun, di mata aparat, golput adalah “krimininal” bila sengaja disuarakan atau menjadi ajakan kepada masyarakat. Mengapa demikian? Karena golput dinilai akan menciderai pelaksanaan program politik negara, yakni pemilu. Apa jadinya jika rakyat malas pergi ke tempat pemungutan suara untuk mencontreng.

Tapi, tunggu dulu! Lha, kalau demikian, bagaimana pelaksanaan pemilu 2009 yang ternyata jumlah Golputnya mencapai kisaran angka 40%? Ngeri saya! Coba kalau Golput diperbolehkan sebagai gerakan, bisa-bisa tak ada rakyat yang mau ikut pemilu. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: