IRPAN

Bagi orang Jawa, nama adalah harapan. Saat mereka memiliki anak yang

Irfan

baru saja dilahirkan, ribuan impian sudah muncul di kepala. Ada yang ingin anaknya sukses di kelak kemudian hari. Ada yang berharap anaknya tumbuh menjadi orang yang berani dan ksatria. Ada pula yang berhasrat anaknya ganteng, tampan, dan mulia.

Kalau kita berharap anak kita “sukses”, orang Jawa menamainya Suharto (su=baik, harto=harta). Andai berharap anak kita gagah berani, mereka menamainya, Bambang (bambang=satria). Kalau ingin anak kita berbudi luhur dan santun, Budiono patut disematkan.

Kata orang yang paham agama, nama adalah doa. Dengan nama yang melekat pada dirinya, seumur hidup sang anak akan disangga oleh doa. Ia tidak akan pernah “meleng” karena ia sendiri adalah doa yang bergerak menuju satu titik sebagai pencapaian cita-cita. Tentu, kelak di hari esok.

Ilmi atau Helmi disematkan pada anak yang diharapkan berilmu nantinya. Kalau orang tua ingin anaknya berada di jalan kemenangan, ia menamainya Fattah. Bahkan tokoh sejarah kerap menjadi dambaan, seperti Fatimah, Aisyah, atau Umar, dengan harapan anak-anaknya menjadi seperti mereka.

Tapi, tahukah Anda arti kata, IRPAN?

Kalau Anda tidak tahu, berarti Anda sama dengan saya. Sebab nama inilah yang akhir-akhir ini sedang mengganjal di hati saya. Begini ceritanya.

Nama anak saya yang pertama, Irfan Yahya Abdillah. Saya sengaja menamai anak saya itu demikian karena pada nama itu sekaligus terkandung harapan dan doa. Saya berharap anak saya kelak mampu menjadi orang yang berpengetahuan dan mampu menghidup-hidupkan ilmu pengetahuan yang dimiliki ke semua orang.

Saya memanggil anak saya itu dengan nama panggilan, Irfan. Irfan sendiri berasal dari akar kata ‘arafah (pengetahuan). Dengan panggilan itu, saya berharap, setiap kata itu muncul kepadanya dari seseorang; kakek atau neneknya, teman atau kerabatnya, ayah atau ibunya, maka itu adalah sebuah doa untuk anak saya.

Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Kultur Sunda, yakni Bogor yang melingkupi tempat saya hidup, perlahan-lahan mulai menenggelamkan nama panggilan anak saya. Kata yang begitu saya agung-agungkan itu mulai tergeser tanpa saya pernah sadari. Tiba-tiba segalanya telah berubah.

Nama anak saya kini berganti dari Irfan menjadi Irpan! Entah siapa yang memulai karena anak saya sendiri tidak mengetahui. Pokoknya, di lingkungan rumah, tempat bermain, atau sekolah; nama Irpan lebih mengemuka. Para guru, tetangga dekat, atau teman-teman juga seperti lebih suka menyebut nama Irpan.

Apa arti Irpan? Entahlah….

Celakanya lagi, kadang-kadang anak saya keliru menuliskan namanya sendiri. Di kertas-kertas bekas ulangan harian, saya pernah menemukan namanya berubah, Irpan Yahya Abdillah. Ironisnya lagi, bapak atau ibu gurunya di sekolah juga tidak mengoreksi. Semuanya seolah benar adanya. Bahkan, bukan kebetulan bila ia sendiri juga sering menyebut dirinya Irpan.

Saya tahu apa penyebabnya. Kultur Sunda telah mengubah nama anak saya dari Irfan menjadi Irpan. Saya jadi sering bertanya-tanya, begitu susahkah orang Sunda melafalkan huruf F (ef) sehingga setiap kata beraksara F mesti dibaca P?

Meski saya tahu penyebabnya, saya tidak tahu cara mengubahnya. Bagi saya itu dialek; adat; kebiasaan yang sudah mendarah daging. Jadi, saya paham, itu susah diubah!

Sama susahnya dengan meminta orang Bali mengucapkan kata yang ada aksara T (et) atau orang Batak mengucapkan kata yang ada huruf E, bukan E’ (seperti kata becak). Juga orang Jawa yang “kreatif” membubuhkan awalan tak tertulis pada kata yang huruf depannya B dengan M sehingga kota Bandung menjadi mBandung.

Maka saya kini hanya bisa berharap. Berharap dengan setulus-tulusnya bahwa, meski dilafalkan Irpan, semoga itu tidak mengubah persepsi pada semua orang bahwa nama anak saya adalah Irfan. Irfan pakai aksara F, bukan P. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: