JAIPONG

Tari Jaipong

Tari Jaipong

Saya tersinggung berat! Saya kecewa berat! Saya tersinggung dan kecewa berat dengan Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat sekarang. Sebagai warga Jawa Barat yang tinggal di Bogor, saya tidak paham dengan kebijakannya. Buat apa jaipong dilarang-larang? Buat apa jaipong dilarang goyangnya, geolnya, dan giteknya? Apa ia tidak tahu jaipong itu identik dengan Jawa Barat? Ah, buang-buang waktu saja.

Karena hal ini, saya menemui Fakih buat protes. Kenapa Fakih? Ya, karena dialah yang ”memprovokasi” saya supaya memilih pasangan HADE (Ahmad Heryawan – Dede Yusuf) saat pilkada lalu. Padahal saya berniat golput (lagian mumpung belum dilarang MUI!). Saya menemui dia di rumahnya. Sial! Dia belum selesai sholat di masjid. Saya tahu dia memang imam masjid di dekat rumahnya.

”Eh, udah lama, Mas,” celetuk Fakih yang tiba-tiba sudah berdiri di samping saya. Ia memanggil saya Mas karena dia lebih muda dari saya. Meski lebih muda, Fakih dikenal sebagai orang yang ”dituakan”. Kedalaman ilmu dan wawasan, sikap serta tindak-tanduknya menjadi faktor, kenapa ia dituakan. Fakih lalu mengambil kursi. Kami duduk berhadapan dalam rumahnya yang sederhana.

Saya sudah tidak sabar. Fakih langsung saya serang dengan kata-kata keras nan tajam. Mulut saya nyerocos tak karuan. Seperti rem blong. Susah dikendalikan. Saya sampaikan semua kekecewaan saya. Saya katakan Ahmad Heryawan adalah gubernur yang miskin ide! Ia mau memasung kreatifitas rakyat! Ahmad Heryawan berniat menjadikan Jawa Barat sebagai test case syariat Islam! Semestinya Ahmad Heryawan lebih berkonsentrasi mengurusi masalah kemiskinan, infrastruktur yang rusak, atau perbaikan birokrasi! Itu semua lebih penting daripada jaipong.

”Sudah, Mas?” tanya Fakih setelah melihat saya kepayahan akibat terlalu banyak bicara. Saya mengangguk, mengatur napas yang mulai ngos-ngosan.

”Begini, Mas, ” kata Fakih dengan mimik serius. ”Saya yakin Pak Gubernur tidak punya niat mengganggu kreativitas para seniman atau rakyat. Kalaupun ucapan itu keluar darinya, pasti itu bukan larangan. Saya dengar ia sekadar menghimbau. Himbauankan tidak ada unsur paksaan. Dilaksanakan bagus, tidak dilaksanan juga tidak apa-apa. Wong Pak Gubernur niatnya baik kok.”

”Oke. Tapi, kenapa dia mengurus hal-hal yang sepele begitu? Apa tidak lebih baik dia memikirkan bagaimana rakyat bebas dari kemiskinan, korupsi bisa diberantas, jalan rusak diperbaiki?” potong saya cepat.

”Kata siapa itu hal sepele, Mas?” Fakih menentang pendapat saya. ”Itu justru hal yang besar. Selain besar, itu juga hal yang paling sulit dilakukan. Ini menyangkut masalah character building. Akhlak bangsa. Kalau masalah ekonomi, politik, atau hukum; semua bisa melihatnya. Tapi, kalau akhlak bangsa, bagaimana?”

Fakih berusaha menunjukkan kelemahan pendapat saya. Bicaranya lancar. Jernih. Mengalir. Saya menyimak pendapatnya yang terus berlanjut.

”Coba, Mas pikirkan. Pasir laut kita diambil Singapura, kita diam. Tenaga kerja kita diperlakukan seperti bukan manusia oleh negeri jiran, kita juga diam. Rakyat kita ditembak negeri antah berantah, Timor Leste, kita tak berkutik. Negeri kita dipermainkan IMF, kita tak berdaya. Perusahaan-perusahaan AS bertindak seenak udelnya di sini, kita pura-pura tak tahu. Kenapa kita jadi bangsa yang seperti ini?”

Fakih memandang saya. Seperti meminta jawaban. Saya hanya diam.

”Karena kita kehilangan karakter sebagai bangsa, Mas. Akhlak kita telah tergadai. Kita terbebani rasa takut yang amat sangat berlebih. Kita takut dijauhi Singapura atau Malaysia. Kita takut dibenci IMF. Kita takut dimusuhi Amerika. Kita takut tidak bisa makan.”

Fakih terus berbicara. Ia lalu menerangkan misi abadi seorang pemimpin di tengah rakyatnya. Menurutnya, para pemimpin mestinya bertindak layaknya para nabi. Ia berani di saat rakyat dilanda ketakutan. Ia bijak di kala rakyat kehilangan pegangan. Ia tetap sederhana ketika kemakmuran dan kesejahteraan tercipta. Kenapa semua itu harus dimiliki seorang pemimpin? Karena misi abadinya adalah membangun karakter massa. Akhlak bangsa.

Kata Fakih, di masa Orde Lama, politik dijadikan sebagai panglima. Di masa Orde Baru ekonomi diusung sebagai panglima. Sejarah mencatat, kedua-duanya terbukti gagal. Kalau sudah gagal, kenapa kita kembali mengulang kesalahan di masa lalu dengan tetap menjadikan salah satu dari keduanya sebagai panglima?

Saya manggut-manggut mendengar orasi Fakih. Saya tetap saja manggut-manggut ketika Fakih berkata lembut sambil tersenyum ramah.

”Mas, siapkan kalau kita jadikan akhlak sebagai panglima di negeri ini?” * * *

Sumber gambar: http://www.ceritaduniakerja.com/2009/02/imbauan-soal-jaipong-dinilai-mengada.html

3 Responses

  1. Permisi Kang,
    image tari jaipong-nya bagus, jika berkenan akan saya gunakan utk design kalender meja 2011, mohon hubungi saya via email ya Kang

    nuhun
    dmn

  2. kang mohon ijin gambar tari jaipongnya bagus…jika diperbolehkan mohon ijinnya buat design kaos kang…krn kami ingin mengngkat indonesia dr sisi seninya lewat t shirt kang

    nuhun

  3. Tuk D. Martin dan Faqih….

    Sy tidak dlam posisi menjawab krn sy memang tidak memiliki hak cipta atas foto tersebut. Foto itu diambil dr sebuah situs yg sy cantumkan di bawah tulisan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: