KENDAT

Sebagai tempat saya dilahirkan, saya tahu benar Banjarnegara memiliki makna. Secara etimologis, Banjarnegara berasal dari kata banjar dan negara. Banjar bermakna sawah, sedangkan negara berarti tempat, wilayah, atau daerah. Jadi, Banjarnegara merupakan tempat atau daerah sawah.

Benarkah demikian?

Pada kenyataannya memang demikian. Sekitar 75% penduduk yang tinggal di wilayah yang masuk Provinsi Jawa Tengah itu memang berprofesi di bidang agraris. Ada yang menjadi petani, peternak, atau pedagang.

Di masa Soeharto, bendungan Sudirman (Mrica) sengaja dibangun di Banjarnegara untuk mendukung keberhasilan bidang pertanian, selain -tentu saja- pembangkit listrik. Maka nama Banjarnegara niscaya sesuai dengan maknanya. Banjarnegara adalah kota sawah!

Nah, di Banjarnegara terdapat beberapa tempat, seperti desa, kampung, atau bahkan kecamatan yang memiliki nama “unik”. Saya menyebutnya “unik” karena nama-nama itu tidak hanya kaya dengan cerita yang berbau mitos, tetapi juga mengandung sesuatu yang berbau misterius.

Tahu arti Sigaluh?

Sigaluh adalah nama kecamatan di Banjarnegara yang berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo. Kata Sigaluh kabarnya berasal dari kata segaluh, yakni sega (nasi) dan luh (air mata).

Konon, nama itu muncul berkaitan dengan nasib pasukan Mataram yang terus-menerus menerima serangan Belanda. Saat beristirahat di daerah itu, seorang prajurit yang sedang makan menitikkan air mata. Nah, air mata itu jatuh di atas nasinya. Maka orang-orang kemudian menamai daerah itu dengan nama Segaluh (Sigaluh).

Sudut desa di Banjarnegara

Sudut desa di Banjarnegara

Nama Kecamatan Susukan tidak jauh berbeda. Nama Susukan, kabarnya, berasal dari kata susu dan kan. Nama itu berawal dari kisah seorang pembantu rumah tangga yang bekerja kepada ndoro yang orang Belanda di masa penjajahan dahulu.

Suatu saat, pembantu itu diminta majikannya membuat susu untuk anaknya yang masih bayi. Karena menggunakan bahasa Belanda, pembantu itu bingung. Di sela kebingungannya, ia berucap kepada majikannya sebagai penegasan permintaan, “susu kan?” Sejak itu nama Susukan mulai terkenal di daerah itu.

Saya tidak tahu apakah kisah-kisah yang melatarbelakangi munculnya nama-nama daerah itu benar atau tidak. Sebab perlu dilakukan penelitihan sejarah untuk mengungkapkan kebenarannya.

Saya juga tidak tahu dengan keberadaan nama-nama desa di Banjarnegara yang dinilai “misterius” dan dahulunya konon ada; entah kalau sekarang. Desa itu, misalnya adalah Kendat dan Gembor.

Tahu artinya Kendat atau Gembor?

Kendat artinya bunuh diri. Kendat adalah bunuh diri yang dilakukan dengan cara mengalungkan seutas tali ke lehernya. Gembor bermakna minta tolong, yakni seseorang yang berteriak lantang meminta pertolongan.

Berkaca kepada arti nama, apakah ini berarti Kendat berasal dari sejarah orang yang meninggal dengan cara mengalungkan tali di lehernya. Atau malah Kendat berawal dari kesukaan penduduk di daerah itu untuk mengakhiri hidupnya. Lalu, bagaimana dengan Gembor?

Saya berharap kedua nama desa itu sudah diganti dengan nama yang lebih baik dan bermakna. Tentu saja, bagaimanapun Banjarnegara adalah kota yang amat sangat saya cintai. * * *

3 Responses

  1. bjrngra tmpat ak lhr,tanah yg subur,mjdikn bjrngra kota yg mkmur, bgunlah bjrngra yg maju..

  2. Semoga!

  3. besok saya pulang ke banjarnegara,,

    huft rasanya pengen lagi menelusuri jalan jalan desa di wilayah banjar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: