MAM

Wajahnya cemberut. Senyum tak pernah keluar dari bibirnya yang biasa tersapu lipstik berwarna lembut. Aneh. Seingat saya sudah satu minggu ia berlaku seperti itu. Sungguh tidak enak dipandang. Padahal saya meyakini kalau ia salah seorang gadis yang pantas disebut cantik di kantor.

Saya menemui Nana, demikian gadis itu biasa dipanggil, dalam ruangannya yang sejuk ber-AC. Saya memang ada keperluan dengannya. Saya terpekur sejenak. Di ruangan yang biasanya bersih dan rapi, kini awut-awutan. Kertas berceceran di mana-mana. Meja penuh tumpukan arsip yang tak tertata. Amburadul. Ruangan Nana hari ini tidak beda dengan TPA alias Tempat Pembuangan (sampah) Akhir. Saya mengurungkan niat untuk masuk.

”Masuk aja, Mas….” pintanya dengan mulut ogah membuka.

”Begini, Na,” ucap saya setelah duduk di hadapannya. ”Saya mau ngomong masalah….”

Saya terus berbicara. Panjang lebar. Menjelaskan kepada Nana apa yang saya inginkan. Namun, wajah Nana yang melongo, memandang tempat saya duduk, membuat saya seperti berbicara dengan makhluk asing. Nana tidak mendengarkan omongan saya. Pikirannya melayang.

Saya berhenti berbicara. Diam. Saya tatap bola matanya.

”Mas, ngomong apa tadi?” ucapnya tanpa rasa bersalah.

Saya senewen. Mulut saya yang sudah berbusa seperti tak berarti apa-apa.

”Sorry, saya lagi bingung,” cetusnya memelas. ”Saya tak tahu mesti berbuat apa.”

Nana menekuk wajahnya.

”Bos, ya Na….”

Nana mendongak. Dia tidak terkejut dengan ucapan saya. Apa yang dialami Nana memang sudah menjadi rahasia umum di kantor ini.

”Coba Mas pikir. Hari ini entah sudah berapa kali Bos berubah pikiran. Tadi pagi bilang A, siang bicara B, eh sorenya berubah lagi jadi C. Menurut Mas, mana yang harus saya ikuti?”

Saya tidak tahu mesti menjawab apa.

”Ini bukan baru kemarin saja, Mas. Pusing saya mengikuti kemauannya. Bos perintahkan ini, saya kerjakan. Belum lagi selesai, Bos ubah perintah yang tadi diganti dengan perintah yang lain. Kerja si Bos seperti tak ada perencanaan. Kalau begini bagaimana saya mesti ngomong ke teman-teman saya yang di bawah….”

Saya tersenyum kecut mendengar keluhan Nana.

”Bos saya memang plin-plan!”

Benarkah Bos Nana seorang yang plin plan? Ah, saya tidak percaya!

Dalam khasanan manajemen komunikasi tidak ada tempat bagi seorang Bos yang plin-plan. Seorang Bos mesti mempunyai visi ke depan. Seorang Bos juga harus memiliki pengetahuan ke belakang. Namun, dalam manajemen komunikasi memang -konon- dikenal istilah MAM (Modified Action Management). MAM dimaknai sebagai seorang atasan yang punya kecenderungan berubah-ubah.

Kenapa berubah-ubah? Karena ia menerapkan manajemen aksi-modifikasi yang menuntu perubahan secara cepat dan bahkan kerap tidak terduga. Ibarat seorang pelukis, lingkaran di atas kanvas, bagi Bos penganut MAM, bisa berubah menjadi mata, bunga, atau malah telur mata sapi. Terserah kemauan si Bos. Cara berpikir Bos yang antisipasif dan tidak liner membuat ia seolah terlihat plin-plan.

Jadi?

Ah, andaikata Nana paham tentang MAM, pasti ia tak akan pusing. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: