NEOLIB

Ada yang ganjil di negeri ini. Sebuah kata bisa begitu menakutkan sehingga orang berusaha untuk menghindarinya. Jangankan menghindar, ia bahkan berusaha melenyapkan dari kehidupan dirinya. Lenyap selenyap-lenyapnya. Kata itu seolah hantu yang menyeramkan.

Di masa Orde Baru, siapa yang tidak takut dengan cap “komunis”. Sekali label ciptaan Marx dan Lenin itu bersarang di dadanya, selamanya ia tak akan bisa berdiri tegak. Tubuhnya lunglai karena “kematian” dalam hidup terus mengiringi. Langkahnya selalu terantuk batu yang menjegal. Langkah bisnis, langkah ekonomi, langkah sosial, langkah budaya, apalagi langkah politik.

Kini, kata-kata yang mematikan itu kembali menyerang. Bukan komunis, bukan fundamentalis, bukan pula teroris. Kata itu adalah neoliberalisme atau neoliberal atau neolib. Begitu antinya orang terhadap kata itu sehingga mereka yang dituduh berusaha mati-matian menepisnya. Orang lalu ibarat bersilat lidah. Telunjuknya saling terarah.

“Aku bukan neolib, dia yang neolib!”

“Aku?! Oh, salah besar, Bung. Anda yang neolib!”

Padahal, apa sih itu neolib hingga orang takut menyandangnya? Bukankah neolib hanya kepanjangan dari kata neo dan liberal yang bermakna liberal baru? Kalau begitu, apa yang mesti ditakutkan dari sebuah kata yang dihasilkan dari sepuluh aksara?

Saya tidak tahu neolib ataupun neoliberalisme. Tapi, saya sedikit paham tentang liberalisme. Ingat, sedikit paham! Bahkan mungkin sangat sedikit. Seingat saya, liberalisme merupakan paham atau falsafah yang bercirikan kebebasan berpikir bagi setiap individu masyarakat.

Adam Smith

Adam Smith

Di bidang falsafah, liberalisme berkehendak atas pertukaran gagasan yang bebas. Pada elemen politik, sistem pemerintahan mesti diwujudkan secara transparan. Di lajur ekonomi, liberalisme menolak pembatasan terhadap kepemilikan individu. Dalam konteks ini, liberalisme sangat dekat dengan kapitalisme yang diusung Adam Smith dalam The Wealth of Nations.

Nah, istilah neoliberalisme itu -konon- mengemuka seiring dengan menguatnya gerakan anti globalisasi. Bahkan istilah ini kerap dipertukarkan dengan globalisasi. Mengapa demikian? Karena neoliberalisme dan globalisasi berbuah sama. Keduanya bertumpu pada konsep perdagangan bebas dan pasar bebas yang akhirnya membuat negara-negara miskin semakin bertambah miskin.

Bagaimana neoliberal di negeri ini?

Para ahli ekonomi di negeri ini mencirikan paham neoliberal pada tiga aspek. Pertama, stabilitas ekonomi makro. Kedua, agenda liberalisasi. Ketiga, agenda privatisasi. Tapi, ingat! Ketiga ciri itu dimunculkan oleh para ahli ekonomi yang memang dikenal sebagai penentang neolib, seperti Rizal Ramli, Hendri Saparini, Iman Sugema, atau Revrisond Baswir.

Sebaliknya, para tokoh yang selama ini “dipajang” sebagai pengusung agenda neolib, seperti M. Chatib Basri, M. Ikhsan, Anggito Abimanyu, menolak keras hal tersebut. Bagi mereka, neolib atau tidak, bukan perkara yang utama. Persoalannya adalah kesejahteraan rakyat. Stabilitas makro dan privatisasi merupakan sebuah keniscayaan di saat bangsa terdera krisis yang akut.

Saya tidak terlalu peduli pada perdebatan mereka tentang neolib. Saya malah berpikir, neolibkah saya? Jangan-jangan, tanpa disadari saya dan semua dari kita sebenarnya sudah masuk dalam lingkup falsafah neolib sebagai “adik” dari paham liberal.

Coba, siapa yang tidak suka kalau pikiran kita dibiarkan bebas dengan gagasan- gagasan yang unik dan cemerlang? Maukah pemerintah Anda yang hendak mengatur kehidupan Anda bertindak tertutup dan tidak transparan? Senangkah Anda kalau kehidupan Anda yang begitu bebas dibatasi pergaulannya? Maukah mal-mal milik asing yang merajalela sebagai tempat Anda berbelanja, digusur?

Ah, jangan-jangan, kita benci neolib, tanpa kita ketahui maksudnya. Boro-boro anti neolib, bisa-bisa kita lebih neolib daripada orang neolib di sono…. * * *

One Response

  1. Iya Mas Sigit, setuju banget.
    Kebebasan berpendapat di blog adalah liberal.
    Kemudahan membuat mall (Giant, Mcdonald,M-Studio) adalah liberal. Hidup neolib.:)hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: