POLITIK PREMAN

premanSiang itu saya dibuat terkejut. Kenapa terkejut? Semua ini gara-gara teman lama saya, Jupri. Dua puluh tahun tidak bertemu, saat bertemu tiba-tiba dia sudah berubah total. Edan! Benar-benar edan! Saya bertemu dia di alun-alun, dekat gedung DPRD, ketika saya lagi menikmati indahnya pulang di tanah kelahiran.

”Kamu Jupri?! Benar Juprikan?!” kata saya dengan mulut ternganga tak percaya. Tapi, Jupri hanya tersenyum tipis. Ia seperti sedang menguji ingatan saya.

Saya pangling dengan Jupri. Bagaimana tidak pangling, badan Jupri kini sedikit lebih tambun. Kulitnya agak bersih dan putih. Penampilannya necis. Perlente. Jari dan pergelangan tangannya terlingkar emas. Namun, bukan itu yang menjadikan saya yakin, dia bukan Jupri. Bajunya! Ya, bajunya! Jupri memakai jas berwarna gelap, khas para wakil rakyat yang terhormat itu.

”Kamu wakil rakyat sekarang?” tanya saya dengan nada meledek. Saya tahu, tidak mungkin orang seperti Jupri menjadi wakil rakyat. Kacau negeri ini kalau wakil rakyatnya seperti dia. Track record kehidupannya hitam, sehitam kulitnya dulu.

Lihat saja catatan ini. Di sekolah, setiap hari kerjanya mengantuk. Kebanyakan pil koplo, begitu kata teman-teman dekatnya. Dalam satu minggu, Jupri lebih banyak absen dibanding masuknya. Di SMP 3 tahun, tapi Jupri melaluinya 5 tahun. Di SMA 3 tahun, Jupri ”memilih” jadi 4 tahun. Jangan tanya soal keberanian kepada Jupri. Kalau sehari tak bikin onar, pusing otaknya.

Selulus SMA, saya tahu, Jupri menganggur. Hidupnya lebih banyak dihabiskan di terminal atau pasar kota, di dekat rumah saya. Jupri menjadi orang yang paling ditakuti di sana. Keahliannya unjuk kekerasan membuahkan hasil. Jupri dikenal sebagai preman. Tidak lama sesudah itu, saya dengar Jupri sudah naik pangkat. Ia menjadi bos para preman. Jupri adalah preman yang tidak tertandingi.

”Ya, begitulah…” kata Jupri. Senyumnya malu-malu.

Ha!!! Saya ternganga tak percaya. Ledekan saya ternyata benar adanya. Sungguh tidak dapat dipercaya, Jupri sekarang adalah wakil rakyat sebuah partai politik.

”Saya juga tidak menyangka akan menjadi wakil rakyat seperti ini. Kamu tahu sendirilah bagaimana saya dulu. Tapi, ya… inilah hidup. Berubah terus, tanpa kita sendiri tahu bagaimana dan ke mana akan berubahnya, ” kata Jupri berfilosofi.

Saya tersenyum mendengar pendapatnya. Ia memang telah berubah kini. Tanpa sadar saya pandangi wajah Jupri dalam-dalam. Terus saya pandangi. Dari kepala sampai kaki. Jupri tampak jengah melihat sikap saya itu.

”Eh, kenapa kamu memandang saya seperti itu?”

”Oh, maaf. Maaf, Jup. Saya hanya masih saja keheranan, ” jawab saya tersadar. Saya berusaha memperbaiki sikap saya.

Jupri kembali tersenyum. Ia melonggarkan sedikit dasi di lehernya yang tampak seperti mencekik.

”Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa seperti ini?” tanya saya sungguh-sungguh.

Mulanya Jupri malas menceritakannya. Namun, dengan alasan saya juga ingin meniru keberhasilannya, Jupri akhirnya mau sedikit berbagi cerita. Kata Jupri, semuanya berawal dari pilkada. Saat itu, para calon bupati berusaha mendapatkan dukungan sebesar-besarnya dari rakyat. Mereka mendekati dan mengumpulkan orang-orang yang memiliki massa. Dengan itu, mereka berharap massa akan memilihnya jika orang-orang yang memiliki massa itu mau mendukungnya.

Karena dinilai memiliki massa dalam jumlah yang tidak sedikit, Jupri dipanggil oleh salah seorang calon bupati yang hendak bertarung. Tak cuma dipanggil, Jupri bahkan juga diminta menjadi tim suksesnya. Tak ingin setengah-setengah, Jupri kemudian mendaftarkan sebuah organisasi masyarakat sebagai wadah bagi diri dan teman-temannya dalam mendukung sang calon bupati tersebut.

Hasilnya, Jupri memang gagal mengantarkan sang calon bupati memenangkan pilkada. Namun, ia sukses mengantarkan dirinya menjadi pengurus partai politk pendukung sang calon bupati. Sampai akhirnya, ia duduk sebagai anggota DPRD setelah dalam pemilu ia mendapatkan jumlah suara yang signifikan.

Saya terkagum-kagum dengan Jupri. Kini saya akui, Jupri memiliki otak yang cerdik dan encer. Ia mampu memanfaatkan pengaruh yang dimilikinya sehingga orang bisa percaya dan memilihnya.

”Jup, tugas di DPR kan berat. Kamu harus mengusulkan dan membuat UU, Perda, atau mengawasi pelaksanaan tugas eksekutif. Kamu juga melakukan lobi-lobi denga pihak lain. Bagaimana kamu melaksanakan itu semua?” tanya saya tanpa niat merendahkan dirinya.

Jupri terkekeh mendengar pertanyaan saya. Saya tidak tahu kenapa ia terkekeh? Saya justru kaget saat Jupri memberikan jawaban yang ringan. Tanpa beban.

”Wah, saya tidak tahu itu semua. Saya sudah terbiasa bekerja dengan mata yang tajam dan tangan yang mengepal. Saya tidak mungkin diminta bekerja dengan mulut atau otak saya. Nggak mampu saya….”

Saya melongo mendengar jawaban Jupri. Melihat Jupri saya jadi ingat keyakinan teman saya bahwa, preman politik akan senantiasa melahirkan politik preman. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: