PRODUCT IMAGE IS CORPORATE IMAGE?

Warung tegal alias warteg adalah obat mujarab bagi perut yang lapar. Warteg juga adalah tempat kita bisa duduk melepas kepenatan. Namun, dari komunikasi model warteg inilah kerap diperoleh sesuatu yang tidak diduga-duga. Itulah yang saya alami ketika secara tidak sengaja bertemu dengan lelaki berpenampilan, rapi, perlente, dan tampak supel. Saya tak tahu siapa dia.

Siang itu ia menyantap hidangan di hadapannya dengan lahap. Tak terlihat sisa makanan dari tepat ia makan.

”Anda menikmati sekali makanannya….” Saya mencoba membuka percakapan.

Lelaki itu tersenyum. Ramah. ”Warteg ini sudah sangat dikenal dan saya kira, warteg ini memang warteg yang terbaik.”

Wow! Saya kaget. Surprise. ”Apa yang membuat Anda begitu yakin kalau warteg ini adalah warteg yang terbaik?”

Lelaki itu kembali tersenyum. Kali ini senyuman itu seperti menertawakan saya. ”Warteg ini adalah miniatur kecil dari keberhasilan interaksi dan relasi yang kental dalam memaknai sebuah usaha modern.”

Ah, ia pasti mengada-ngada. Bagaimana mungkin warteg hendak diposisikan sebagai sebuah unit usaha modern yang –tentu saja- efektif, efisien, dan solid. Kalaupun itu hanya sebuah minitaur, bagi saya, itu jauh panggang dari api.

”Anda pasti berpikir saya mengada-ngada…”

Dalam hati saya memang sedikit meragukan kebenaran kata-katanya.

”Apa yang Anda tangkap bila saya mengatakan, warteg ini menjadi tempat favorit saya dan teman-teman saya ketika istrirahat untuk makan siang?” tanya lelaki itu tiba-tiba.

”Pasti masakannya enak dan cocok di lidah,” tebak saya.

”Itu hanya akibat.”

”Karena pelayanannya sangat menyenangkan…”

” Itu cuma awal dari sebuah proses transaksi.”

Saya tidak mengerti bagaimana menjawabnya. Namun, gelengan kepala darinya membuat saya berkesimpulan bahwa ia tidak puas dengan jawaban saya.

Sesudah melihat saya terdiam kebingungan, ia bertanya lirih.

”Kenapa Anda tidak memperhatikan dua perempuan yang di depan sini dan dua perempuan yang di belakang sana.”

Mata saya bergerak reflek mengikuti petunjuknya. Apa yang aneh dari mereka? Tidak ada! Dua perempuan di depan tersenyum ramah melayani para pembeli yang bergantian datang. Sedangkan, dua perempuan yang di belakang tampak cekatan mempersiapkan bahan-bahan untuk dimasak dan disajikan. Keempatnya berbicara secara intens dan kadang diselingin canda tawa. Menyenangkan.

”Kalau Anda tahu, sinergi merekalah yang menjadikan warteg ini menjadi favorit. Yang di depan tidak pernah merasa kesuksesannya menjadikan ia seolah hanya sekadar menghidupi perempuan yang di belakang. Yang di belakang juga tidak perlu kehebatannya dalam mengolah masakan membuat ia merasa berhasil mempekerjakan orang yang berada di depan.”

Saya berusaha memahami kata-katanya.

”Inilah yang saya sebut miniatur kecil. Perempuan-perempuan itu memang tidak mengenal konsep-konsep organisasi bisnis dan marketing. Tapi, mereka paham, bahwa nilai dan sifat suatu produk bukan ditentukan oleh produsen, melainkan sangat tergantung dari persepsi konsumen.”

Saya mengangguk. Paham.

”Ingat, Bung!” katanya menepuk bahu saya sebelum beranjak pergi. ”Product image is corporate image.” * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: