SENSUALITAS BUKU PELAJARAN

Sabtu siang saya pergi ke sebuah toko buku terkemuka. Sengaja. Pas kantor libur. Apalagi memang ada beberapa buku yang ingin saya beli. Dalam ruangan yang berhawa sejuk saya terlena dengan hamparan buku yang melimpah. Plak!!! Pundak saya ditepuk seseorang dengan keras. Amar?! Senyumnya melebar.

”Kau di sini sekarang?” tanya saya.

”Hampir dua tahun.”

Amar kawan lamaku. Ia kini lebih bersih. Kulitnya yang dulu sedikit hitam seperti berubah. Aku pangling karena Amar sekarang berkaca mata. Entah minus berapa.

”Masih di penerbitan buku?” Ia balik bertanya.

”He-eh.”

”Boleh tanya?”

Degh!

Amar nyengir. Saya tahu ia pasti ngajak omong berat. Selalu begitu, sejak dulu. ”Boleh tanya” adalah ajakan pertanda kalau ia ingin bicara sesuatu. Yang serius tentunya. Saya mengiyakan.

”Boleh aku tahu bagaimana pesan yang dicitrakan perusahaan penerbitanmu sehingga menjadi stimuli yang menentukan pola konsumsi?”

Mati aku! Apa maksudnya? Aku bingung.

Aku tak paham dengan pertanyaanmu,” jawab saya terus terang. Amar terdiam.

”Begini,” ia mencari kata-kata yang mudah dimengerti. ”Apa yang membuat orang membeli produk perusahaanmu?”

”Karena mereka memerlukannya,” jawabku sekenanya.

”Bisa kau memetakannya?”

Lagi-lagi aku bingung. Aku tak bisa menjawabnya.

”Menurutku, baik buruknya sebuah produk, itu soal teknis. Di situ bagiannya desain produksi. Kalau di perusahaan penerbitan, misalnya mungkin editor, penata letak, desain sampul, hingga percetakan. Tapi, kunci semua itu adalah psikologi. Ingat, sejarah manusia adalah sejarah konsumsi. Belanja!”

”Maksud kamu?”

”Jika produk buku kamu dibeli karena konsumen tidak butuh, itu istimewa. Artinya, konsumen telah masuk ke dalam insting kepemilikan. Mereka merasa tak tertandingi bila memiliki produk buatanmu. Bila produk kamu dibeli karena mereka sangat ingin beli, itu sangat bagus. Artinya, konsumen telah terperangkat ke dalam insting status. Mereka merasa terhormat dengan membeli produkmu. Dan bila mereka membeli produk buatanmu karena mereka tertarik, itu bagus. Artinya, produkmu dibeli karena adanya daya tarik tersendiri.”

”Bagaimana untuk mencapai semua itu?”

Amar tersenyum. Saya melihat senyumnya lain. Sedikit nakal. Ganjen.

”Gunakan trik romantisme sensual….”

”Apa maksudnya?”

Sambil berbisik Amar berkata lirih.

”Bayangkan produkmu di samping seorang wanita.”

Saya terpana mendengar pernyataan Amar. Saya pandangi wajahnya. Tiba-tiba saya teringat sebuah produk iklan ponsel yang menggambarkan seorang wanita berpakaian sedikit terbuka dan ketat dengan HP tergantung di lehernya. Saya tak kuasa membayangkan jika produk yang tergantung di leher wanita itu bukan HP, melainkan buku pelajaran.* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: