WHO KILLS THE CUSTOMERS?

Laki-laki itu masih duduk termenung. Pandangannya kosong. Wajahnya yang kuyu tidak mampu ia tutupi. Sungguh saya tidak berkehendak mendekatinya. Tapi, kaki ini serasa tak kuasa untuk ditahan. Kini saya berdiri tepat di hadapannya. Ia tampak kaget. Ia memandang saya dalam-dalam. Keluhnya kemudian.

”Saya tidak tahu kenapa buku saya bisa salah….”

Lelaki itu begitu menyesal. Ia seolah mengutuki diri.

”Saya merasa tidak enak dengan bagian-bagian lain….”

Wajah lelaki itu memerah. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia tak berdaya membayangkan bahwa hasil kerjanya telah membuat perusahaan merugi puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Akibat salah dalam pengeditan, bukunya mesti ditarik dari pasaran. Kalaulah bisa, ia serasa ingin memutar jarum waktu agar kesalahan itu dapat diperbaiki sehingga bagian-bagian lain tidak menyalahkannya.

Saya memandangi Januar, lelaki itu. Saya tahu siapa Januar. Ia editor yang andal. Pengalamannya lebih dari cukup. Ketekunannya patut diacungi jempol. Jarang sekali ia tidak berada di tempat duduknya. Januar juga tipe pekerja keras. Rasanya tidak pernah kedengaran ia menolak perintah. Segala tugas yang dibebankan kepadanya, ia kerjakan sebisa mungkin. Namun, di sinilah pula kelemahan seorang Januar. Ia tak mampu merasa bahwa keandalannya tidak cukup untuk menyelesaikan beban yang ada di pundaknya.

”Beban pekerjaanmu terlalu banyak, Nar,” ucap saya.

”Mungkin. Tapi, mana bisa prajurit menolak komandan, ” suara Januar lemah.

”Iya, tapi bukankah tidak ada prajurit yang salah? Komandanlah yang mesti memikul tanggung jawab.”

Januar menggelengkan kepalanya.

”Tidak. Ini semua salahku. Saya tahu betapa berat tugas yang mesti diemban oleh komandan-komandan saya. Puluhan buku harus dibacanya sebelum terbit. Belum lagi masalah estetika, jadwal terbit, juga program berikutnya. Ah, betapa berat tugas komandan saya itu.”

Saya terharu mendengar kelapangan hatinya.

”Lalu, sekarang bagaimana?”

Januar termenung sejenak. Mulutnya seperti hendak bicara. Namun, beban yang begitu berat seakan mengurungkannya. Akhirnya, ia bicara juga. Ketika memulai suaranya terdengar lirih.

”Saya ingin kita semua berdialog dengan pikiran jernih. Ini dilakukan untuk membahas bagaimana cara mengeliminasi kesalahan-kesalahan. Saya berharap dari situ kita menemukan solusinya.”

Melihat Januar ingatan saya seketika melayang pada ucapan Bpk. Aminuddin, Corporate Secretary PT Astra Internasional Tbk. Dalam paparannya, ia pernah menyinggung persoalan paling elementer dalam sebuah korporasi, yakni siapa yang berperan ”membunuh” para pelanggan? Tegas ia menjawab, diri kita sendiri! Dan hal itu terjadi bila masing-masing divisi atau bagian saling menyalahkan ketika sebuah produk gagal dipasarkan, sebaliknya saling menganggap dirinya paling berjasa saat sebuah produk sukses di pasaran.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: