BUNG TIGA

Harmoko

Setiap mendengar kata bung terlontar, saya selalu teringat Harmoko. Mantan wartawan, mantan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan mantan Menteri Penerangan di era Soeharto itu selalu berhasil menggedor kesadaran dan benak saya untuk tidak melupakannya.

Bagi saya, Harmoko memang “hebat”! Saya tidak peduli dengan kiprah politiknya yang bagi sebagian orang, dialah Brutus sejati untuk Caesar Soeharto. Saya juga tidak terlalu peduli dengan usahanya untuk mencoba kembali ke dunia politik meski usahanya ini kandas di tengah jalan. Saya tidak peduli dengan apologi sikap politiknya dalam bukunya yang berjudul, Berhentinya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Harmoko.

Saya hanya peduli bahwa dialah yang mencoba menyebarkan kembali gagasan pemakaian kata bung di tengah-tengah masyarakat Indonesia sejak ia memegang jabatan Ketua Umum Golkar di era 1990-an. Keinginannya agar Golkar lebih egaliter, lebih manusiawi, dan lebih bersemangat membuat dirinya berbalik kepada sejarah. Kata bung yang ditengoknya.

Bung memang lekat dengan sejarah. Di masa pergerakan nasional panggilan bung menjadi panggilan yang melampaui batas-batas geografis dan psikologis bangsa ini. Bung menggantikan kedudukan pak, mas, bang, dik, uda, kak, atau panggilan kedaerahan lain. Bung mementahkan wilayah kesadaran hati manusia yang memang lebih suka berbeda, liyan.

Bung Karno-Bung Hatta

Bung Karno-Bung Hatta

Namun, sejarah juga kerap berlaku tidak adil terhadap para tokohnya. Tahukah Anda bahwa ternyata hanya tiga tokoh bangsa dalam pelajaran sejarah kita yang pantas dilekatkan dengan kata bung? Bung yang pertama adalah Bung Karno. Bung yang kedua Bung Hatta. Bung yang ketiga adalah Bung Tomo (tokoh Pertempuran 10 Nopember di Surabaya).

Ironis bukan? Amat jarang kita menemukan nama-nama, seperti Sutan Sjahrir, Amir Syarifuddin, atau Moh. Natsir, berdampingan dengan kata bung di depan namanya dalam buku-buku sejarah kita. Bung Sutan atau Bung Syahrir? Bung Amir atau Bung Syarifuddin? Bung Mohammad atau Bung Natsir?

Padahal bung merefleksikan kesetaraan, persamaan derajat. Bung tidak mengenal tua dan muda. Bung menolak pembedaan yang pintar dan yang bodoh. Bung menghargai si kaya, tapi tidak mengabaikan si miskin. “Kelemahan” bung mungkin hanya satu, ia tidak bebas dari bias gender (adakah perempuan dipanggil bung?).

Saya kini seringkali sedih, kenapa kita menghilangkan kata bung dari perjalanan sejarah bangsa kita sendiri. Saya tidak tahu, kapan bung berhenti? Apakah bung berhenti seiring dengan minggatnya Belanda dari bumi Nusantara ataukah bung berhenti sesudah tumbangnya “Orde Lama” di tangan Orde Baru?

Saya hanya tahu, di masa Orde Baru istilah pak telah mengganti bung. Kekuasaan rezim Orde Baru yang sangat birokratis memang perlu diperkuat dengan mengusung gagasan politik bahasa. Panggilan pak adalah manifestasinya. Pak membuat seseorang menjadi “dekat”, tapi juga “tinggi”.

Maka di masa Orde Baru kita mengenal Pak Harto yang begitu ramah dan murah senyum, tapi tak ubahnya raja-raja Jawa di masa lampau. Pak Harto ibarat lambang dari gerak pemerintahan yang diciptakannya. Pemerintahan itu begitu “dekat” dengan rakyat, meski sebenarnya ia begitu “tinggi”.

Kini, bung perlahan-lahan telah pudar dari diri kita. Dalam hati saya, kadang muncul rasa sesal, mengapa orang yang melontarkan kembali gagasan pemakaian kata bung itu Harmoko. Coba kalau orang lain…. * * *

2 Responses

  1. Pagi Mas Sigit…
    Blognya keren mas…saya suka sama blog Mas Sigit.
    Banyak “anggukan kepala” tanda setuju setelah membacanya.
    Saya termasuk orang yang nggak “ngefans” dengan “Bung” Harmoko. Orangnya nggak punya pendirian. Kosa-kata favoritnya: “Berdasarkan petunjuk bapak presiden melulu.”:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: