DEPAN BELAKANG

militer crtoonBangsa kita punya karakter unik. Salah satu keunikan karakter bangsa kita itu adalah kesukaannya menggunakan kata belakang. Tak cukup hanya menggunakan, kita bahkan gemar sekali mempraktikannya dalam kehidupan keseharian. Kita seolah mendapat kenikmatan lebih saat bergumul dengan kata belakang.

Saat kita berdiam di dapur, kamar mandi, toilet, atau halaman belakang rumah, kita terbiasa menyebutnya dengan kata di belakang. Ketika kita berdiri dalam sebuah barisan, diundang seminar, atau perhelatan perayaan; kita lebih suka memilih berada di belakang.

Bahkan saat kita ikut berjamaah sholat di masjid, kita lebih senang berada di belakang yang jauh dari imam. Padahal, Sang Khalik yang hendak kita sembah sudah menegaskan melalui Sang Nabi agung bahwa barisan sholat di depan lebih utama daripada di belakang. Karena lebih utama, -tentu- ganjaran yang didapat juga lebih.

Mengapa kita lebih suka dengan belakang?

Kita suka dengan belakang karena kita tidak suka depan! Kita tidak suka depan sebab kita paham akan konsekuensi berada di depan. Depan adalah kepeloporan, depan adalah kepemimpinan, dan depan adalah tanggung jawab.

Tidak aneh jika bangsa kita sangat miskin dengan orang-orang yang berani dan bersemangat dalam kepeloporan, kepemimpinan, dan tanggung jawab. Lebih banyak bangsa ini yang memilih; meniru atau mengekor, dipimpin atau dibimbing, tak mau atau lari dari tanggung jawab. Itu semua lebih “menyelamatkan”.

Namun, karakter bangsa kita ternyata juga unik saat memaknai kata depan. Ketika kebanyakan dari kita sudah berada di depan, kita malas untuk mundur ke belakang. Kita merasa keenakan di depan. Kita melupakan bahwa di belakang sudah berdiri generasi-generasi yang lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mumpuni. Mereka sudah letih menanti.

Kita memang seolah baru sadar, di depan ternyata lebih nikmat dibanding di belakang. Di depan menyodorkan banyak hal yang sebelumnya tidak kita bayangkan sama sekali. Di depan terhampar kekayaan yang melimpah. Di depan hadir kehormatan yang mengangkat. Di depan ada kemuliaan yang mempesona.

Maka banyak dari kita yang lupa dan lalai saat berada di depan. Akhirnya, tidak sedikit dari kita yang terjerembab saat berada di depan. Kita tidak mampu. Kita gagal. Ketidakmampuan dan kegagalan itu lebih dikarenakan kita tidak dapat memilah apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang semestinya diterima.

Ironisnya, meski kita dinilai tidak mampu dan gagal, kita enggan untuk ke belakang. Karena tidak mau ke belakang, tak jarang orang-orang yang di belakang berusaha keras untuk memundurkannya. Namun, kita tetap bersikeras tidak mau ke belakang. Kita tetap ingin di depan!

Kini, kita paham apa arti di belakang setelah kita pernah menduduki posisi di depan. Belakang berarti mengakui kesalahan. Belakang bermakna menerima kegagalan. Belakang berarti siap untuk kehilangan. Maka sangat sedikit orang yang mau ke belakang setelah merasakan enaknya di depan. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: