BIANG GOSIP

Namanya Sabeni, sebuah nama khas Jawa pedalaman jika dipandang dariBIG MOUTH sudut antropologi. Orang biasa memanggilnya Beni, panggilan yang otomatis menempatkan dia pada strata tertentu dalam struktur sosial di masyarakat. Tapi, Beni memang istimewa. Ia tidak pernah mempersoalkan apakah dirinya akan dipanggil Sabeni, Beni, atau Sab saja. Untuk Beni, ia asyik-asyik saja.

Wajah Beni biasa-biasa saja. Seperti kebanyakan orang. Tidak cakep, tidak jelek-jelek amat. Kulitnya khas bangsa kita, sawo matang. Perawakan Beni juga sedang-sedang saja. Bahkan Beni lebih sering terlihat pendek jika di antara teman-temanya. Beni seperti tenggelam dalam lautan kepala bila teman-temannya mengerumuni.

Beni memang spesial. Itu kata teman-temannya. Beni seakan punya pesona tersendiri. Semakin lama berdekatan dengan dia, semakin banyak informasi yang diperoleh. Sebaliknya, semakin jauh dari Beni, jangan berharap informasi darinya akan dapat diperoleh.

Kata teman-temannya, wajah Beni adalah wajah perusahaan. Kalau Beni terlihat muram, begitulah wajah perusahaan. Pemasukan seret, piutang macet, target mengkeret. Andai Beni banyak senyum, maka pastilah perusahaan sedang berencana membagi rezekinya ke karyawan. Manajemen tidak panik, keuangan baik, gaji naik. Teman-teman tak tahu bagaimana Beni bisa tahu dinamika perusahaan tempat ia bekerja.

Beni paham persoalan yang dihadapi perusahaan. Beni tahu teman-teman yang sedang didera masalah; nilep uang perusahaan, ngotot minta mobil inventaris, atau punya hobi bolos. Beni juga tahu siapa yang hendak dimutasi dan dipromosi. Pokoknya tidak ada yang diketahui Beni, bahkan yang berklarifikasi “RAHASIA” sekalipun. Padahal Beni bukan “siapa-siapa” dalam struktur organisasi kerja yang ada.

Saya kerap membayangkan, betapa enaknya teman-teman yang berada di sekeliling Beni. Secara psikologis, informasi dari Beni mampu mengolah jiwa mereka. Mereka bisa tersenyum dan sedih, tertawa dan bahagia. Wajar, sebab dinamika seperti inilah yang diharapkan jika kita selalu berada dalam tempat yang sama dari fajar sampai gelap, dari mulai jam 8 pagi hingga 5 sore.

Tetapi, benarkah informasi itu hanya untuk Beni dan teman-temannya sendiri, tidak untuk “pihak” lain? Dugh! Tiba-tiba saya dibuat terkejut ketika justru orang-orang yang bertindak seperti Beni itulah yang dinilai berpotensi membuat rusaknya sebuah organisasi bisnis.

Orang-orang seperti Beni, disadari atau tidak, telah menggunakan jaringan komunikasi informal (informal communication network) untuk menyaingi jaringan komunikasi formal (formal communication network) yang telah dibangun perusahaan. Struktur organisasi kerap tidak bermakna apa-apa di hadapan orang-orang seperti Beni. Bahkan para karyawan pun akhirnya lebih percaya kepada informasi yang dibangun orang-orang seperti Beni dibanding informasi yang dikeluarkan pihak manajemen perusahaan.

Anda tidak percaya? Awalnya saya juga begitu. Hanya setelah saya membaca uraian Gerald Goldhaber (2002) yang ahli komunikasi korporasi, saya sedikit ngeh. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh orang-orang seperti Beni itu biasa disebut sebagai grapevine. Apa itu grapevine? Grapevine tidak beda dengan selentingan, isu, atau gosip.

Jadi, salahkah orang-orang seperti Beni? Goldhaber menyatakan, tidak. Namun, Goldhaber juga tidak membenarkannya. Kemunculan orang-orang seperti Beni dipengaruhi oleh banyak faktor, baik eksternal maupun internal. Nah, satu hal yang kerap dilupakan organisasi bisnis ketika menyusun organisasi kerja adalah ya masalah grapevine ini. Alhasil, reorganisasi kerja seringkali gagal mewujudkan pesan yang diinginkan, selain semata-mata pertukaran posisi dan komposisi. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: