POLITIK SANTUN SOPAN

politisiSaya suka sekali dengan Chairil Anwar, sang penyair bohemian itu. Sastrawan yang sahabat karib penulis besar, Asrul Sani itu sudah mencuri perhatian saya semenjak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya senang dengan sajak-sajaknya yang kerap saya temukan pada buku pelajaran Bahasa Indonesia.

Dari beberapa sajaknya yang saya kenal ketika itu, sajak Aku adalah yang paling berkesan di hati saya. Saya sendiri tidak tahu kenapa. Jika ditanya, saya tentu tidak mampu menjawab atau bahkan menjelaskan meski sekadarnya. Uniknya, saya sangat terpukau dengan kata-kata pada bait pertama sajaknya itu.

Kalau sampai waktuku

Kumau tak seorang ’kan merayu

Tidak juga kau!

Tak perlu sedu sedan itu

Sajak Aku terasa menggetarkan bagi jiwa saya, seorang anak kecil yang mulai merangkak remaja. Sajak itu sungguh mempesona karena berkesan jantan, gagah, dan “tak terkalahkan”. Namun, alasan apa sesungguhnya yang membuat saya terpukau dengan sajak itu?

Yup! Saya kini baru ingat. Kata sedu sedan! Ya, kata sedu sedan telah membuat saya begitu terkagum-kagum kepada Chairil Anwar. Setiap saya mendengar kata itu terlontar, saya seperti terbius. Kata sedu sedan mengganggu benak saya. Kata itu sering meracau jiwa saya, bahkan hingga sekarang.

Kata sedu sedan memang unik. Seperti halnya kata-kata yang lain, kata ulang berjenis salin suara selalu menggetarkan. Penuh daya pesona. Dengar saja kata-kata yang lain selain sedu sedan; Sorak-sorai, gegap-gempita, bintang-gemintang, gundah-gulana, dan masih banyak lagi.

Kata yang berkedudukan di belakang seperti mempertegas sekaligus memperindah kata yang berposisi di depan. Tanpa kata yang berada di belakang, kata yang di depan tetap bermakna. Tapi, keindahan dan ketegasan itu seolah tidak muncul.

Sebaliknya, kata yang di belakang “susah” untuk bermakna tanpa kata yang ada di depan. Apa jadinya kata sorai tanpa sorak? Apa maknanya kata gemintang tanpa bintang? Dan apa artinya kata sedan bila tanpa didahului kata sedu? Semua kata itu seperti kehilangan makna. Kalaupun timbul makna, itu makna yang sangat lain, seperti kata sedan.

Namun, semua itu tampaknya tidak berlaku untuk kata sopan-santun. Tengok saja berita politik yang akhir-akhir ini muncul. Baik politisi, analis, pejabat pemerintahan, maupun orang awam suka sekali menebarkan istilah “politik santun”. Apa itu politik santun? Mengapa disebut politik santun, dan kenapa bukan politik sopan?

Santun dalam kamus bahasa Indonesia diartikan halus budi dan baik tingkah lakunya. Santun juga bermakna penuh rasa belas kasih dan suka menolong. Kalau santun berarti demikian, politik santun bermakna politik yang bertautan dengan sikap halus budi atau politik yang penuh rasa belas kasih.

Santun berbeda dengan sopan. Sopan dipahami sebagai beradab atau hormat dan tertib menurut aturan/adat. Andai kata politik disandingkan dengan kata sopan, maka politik sopan berarti politik yang menonjolkan adab dan hormat serta tertib terhadap aturan/adat.

Nah, kita lebih suka memakai istilah politik santun karena kita paham bahwa politik di negeri ini sangat jauh dari kelembutan. Politik di negeri ini selalu keras dan bahkan cenderung kasar! Metode untuk menurunkan kadar kekerasan dan kekasarannya tidak mungkin dilakukan dengan penegakan peraturan, sebab hal ini pasti gagal!

Maka dipilihlah nilai berupa anjuran, himbauan yang bersifat kultural sehingga timbul istilah politik santun. Dengan istilah itu kita seolah hendak berkata. “Santunlah dalam berpolitik”. “Lembutlah dengan lawan-lawan politikmu”. “Hendaklah engkau tidak berbuat keras dan kasar saat masuk ke gelanggang politik.”

Berhasilkah itu? Berhasil!!! Kini negeri kita memiliki banyak politisi atau pejabat yang santun. Mereka lembut dalam bertutur kata. Mereka halus budi dalam bertingkah laku. Mereka jauh dari sifat kasar dan keras. Maka negeri kita sekarang dipenuhi para “pejabat dan politisi santun”.

Sayangnya, negeri kita jauh dari “pejabat dan politisi sopan”. Karena lebih suka dengan santun, mereka jauh dari sopan. Mereka jauh dari tertib dan adab. Mereka jauh dari peraturan. Betapa banyak politisi dan pejabat kita yang mengangkangi peraturan sehingga mereka masuk bui. Kini, kita tahu kenapa kita lebih memilih kata santun dibanding sopan. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: