MIHRAB YANG MENANGIS

Badannya tegak berdiri. Kokoh. Tak mudah goyah. Suaranya lepas. Setiap keluar suara keras dari tempat ia berdiri, orang-orang langsung berusaha mendatangi. Mereka ingin dekat. Mereka hendak berharap. Mereka berharap, kedatangannya akan dibalas rasa damai dan tenteram, aman dan nyaman, yang merasuk.

Saya tahu ia masih muda. Sangat muda malah. Karena muda, orang begitu amat menyayanginya. Mereka mengagumi kegagahannya, juga wajahnya. Karena orang menyayanginya, ia selalu tersenyum bahagia. Tidak pernah tampak pada dirinya rona yang sedih. Apalagi orang-orang memang tak pernah jera mengomentari penampilannnya.

Tetapi, hari ini saya mendapati dirinya murung. Ia memang masih berdiri kokoh pada tempatnya. Namun, saya tahu senyumnya kini mulai pudar. Semangatnya seolah musnah. Ia tampak seperti makhluk yang sudah uzur.

”Kenapa hari ini Anda tampak murung tidak seperti biasa yang penuh senyum?” tanya saya kepadanya.

Ia tidak menjawab pertanyaan saya. Ia malah memandang saya dengan pandangan yang mengundang. Mengundang saya untuk mendekat. Mengundang saya untuk lebih mendengar kata-katanya. Saya kini hanya berjarak sedepa.

Ia menghela napas. Katanya,

”Saya amat berterima kasih kepada kamu dan teman-temanmu. Kamu tetap rajin mengujungiku. Tak peduli bagaimana keadaan di sekitarku. Pagi, siang, atau malam. Panas, dingin, hujan atau tidak…”

”Itu sudah menjadi kebahagiaan saya. Ada perasaan yang tidak bisa saya ungkapkan setiap saya mampu ke sini. Orang boleh bilang itu nikmat. Tapi, selalu saya bilang, itu bukan nikmat. Itu lebih dari rasa nikmat,” balas saya.

Ia mengangguk mendengar pernyataan saya. Tapi, ia lalu bicara sesuatu yang menggores perasaan saya. Walau kata-katanya terasa lembut.

”Aku suka kamu berbuat demikian. Sebab lebih banyak orang yang tidak mampu berbuat seperti itu. Mereka hanya suka membangun diriku, namun mereka tidak mampu mengisiku.”

masjidSaya menatapnya. Saya paham ia sedang dirundung kegundahan. Entah apa yang sebenarnya menjadi penyebabnya. Kata-katanya begitu mengiris. Namun, saya tahu itu bermula dari hatinya yang teriris.

”Mungkin bukan seperti itu. Mungkin karena semua teman-temanku sedang didera kesibukan. Andai sibuk mereka pasti akan ke sini. Bagaimanapun juga mereka amat mencintaimu. Andai tak cinta, mereka tak mungkin membangun dirimu seindah ini.”

Saya berusaha mengobati luka hatinya. Saya berharap itu akan menyembuhkan. Namun, sepertinya saya tak berhasil. Sebab ia malah tertawa nyinyir mendengar omongan saya.

”Ah, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau mereka didera kesibukan, maka di tempat inilah semestinya kesibukan berawal. Bukankah kamu tahu bahwa aku bukan sekadar tempat ritual? Sejak dulu aku dibangun untuk menjadikan diriku tempat kebaikan bermula. Maka aku juga adalah tempat sosial, tempat budaya, bahkan tempat politik.”

Saya kini mengangguk.

”Lucunya, teman-temanmu bersemangat saat membangun diriku, tapi mereka tak menyadari tanggung jawab sesudahnya. Padahal saat membangun diriku, mereka mesti saling bersaing bermegah-megahan dengan yang lain. Mereka tidak peduli berapapun biayanya. Yang penting mereka bangga jika diriku sudah berdiri. Tegak. Megah.”

Saya tak berkata-kata lagi.

”Lucunya lagi, setelah aku jadi, mereka tidak hanya malas mengunjungi diriku. Tapi, mereka malah berusaha saling memperebutkan aku. Sepertinya mereka yang paling berhak. Setelah menguasai diriku, mereka saling klaim, kamilah yang paling benar dalam ibadah. Sedangkan yang lain, keliru!”

Saya menunduk lemah. Tapi, dari kerlingan mata kecil saya, saya dapat melihat kesedihannya. Napasnya bahkan seperti berat sebelum akhirnya ia menutup pembicaraan itu dengan kalimat yang membuat saya berbalik .

”Saya berharap kamu dan teman-temanmu sadar bahwa akulah penentu kalian semua. Aku menjadi penanda apakah kalian muslim, kafir, atau munafik….”

Saya mendengar masjid itu menangis. Lirih. Sangat lirih. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: